Washington, VIVA – Biaya perang Amerika Serikat di Iran terus membengkak. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan bahwa pengeluaran perang telah mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp610 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS) hingga saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam sidang dengar pendapat di Washington pada Selasa (22/7/2026), yang menjadi penampilan pertamanya di hadapan anggota parlemen sejak serangan udara besar-besaran terhadap Iran kembali dilancarkan.
Hegseth meminta dukungan Kongres untuk segera menyetujui tambahan anggaran di tengah meningkatnya biaya operasi militer dan tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat.
Menurut Hegseth, angka US$37,5 miliar mencakup sejumlah komponen biaya perang, termasuk proyeksi pengeluaran hingga 30 September 2026.
Namun, Departemen Pertahanan AS belum menjelaskan secara rinci metode perhitungan angka tersebut. Sebelumnya, seorang sumber kepada Reuters pada Maret lalu menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump memperkirakan enam hari pertama perang saja telah menghabiskan sedikitnya US$11,3 miliar.
Trump Ajukan Tambahan Anggaran Hampir US$90 MiliarPemerintahan Presiden Donald Trump bulan lalu mengajukan permintaan tambahan anggaran hampir US$90 miliar kepada Kongres. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk mendukung operasi militer di Iran.
Permintaan tersebut diperkirakan akan memicu perdebatan baru di Kongres, terutama karena konflik Iran semakin tidak populer di mata publik dan berlangsung menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Partai Demokrat berupaya mengaitkan perang Iran dengan meningkatnya tekanan biaya hidup masyarakat. Sementara itu, Partai Republik yang dipimpin Trump menghadapi tantangan mempertahankan mayoritas tipis mereka di DPR maupun Senat.
Anggota Kongres Kritik Pemerintah TrumpBaik anggota Partai Republik maupun Demokrat mengkritik pemerintahan Trump karena dinilai kurang memberikan informasi mengenai jalannya konflik maupun strategi ke depan sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Senator Patty Murray, anggota senior Partai Demokrat di Komite Alokasi Anggaran Senat, menilai Presiden Trump justru membuka peluang eskalasi konflik yang lebih luas.
"Presiden mengancam eskalasi dan kejahatan perang, serta memberi kesan bahwa konflik ini bisa menjadi perang tanpa akhir," ujar Murray dalam sidang tersebut.






Komentar (0)