Grid.ID - Pihak travel membeberkan beberapa gelagat Femas sebelum menghilang di Korea Selatan. Setiap kali foto bersama dengan rombongan, wajah Femas nyaris tak terlihat.
Warga Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, bernama Femas Yani Arianto, mendadak hilang saat berwisata ke Korea Selatan. Pihak travel meyakini bahwa Femas sengaja kabur dari rombongan, bukan jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Agen travel Berani Backpacker meyakini bahwa Femas bukan menjadi korban penculikan ataupun tindak pidana lainnya. Hal ini lantaran gelagat aneh yang ditunjukkan Femas sejak awal mereka melancong ke negeri Ginseng tersebut.
Gelagat Femas sebelum menghilang di Korea sudah menunjukkan indikasi dirinya akan pergi meninggalkan rombongan. Pihak travel mengungkap bahwa Femas rupanya membeli paket roaming internasional selama 30 hari.
Hal ini diketahui agen travel dari peserta yang lain. Padahal saat itu pihak travel hanya menyediakan perjalanan wisata selama lima hingga enam hari di Korea Selatan.
"Dia sempat bilang ke peserta lain kalau daftar roaming 30 hari. Padahal tour kami cuma lima sampai enam hari," ujar CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani atau akrab disapa Dhani, dikutip dari Tribun Jatim.
Saat itu peserta lain belum memiliki kecurigaan, namun setelah Femas menghilang, informasi tersebut baru disampaikan kepada tour leader.
"Setelah dia kabur, peserta baru menyampaikan informasi itu ke tour leader. Saat itu kami mulai merasa ada yang tidak beres," jelasnya.
Gelagat saat Foto Bersama
Tak hanya itu, gelagat Femas sebelum menghilang juga menunjukkan hal tak biasa setiap kali mengambil dokumentasi bersama. Femas selalu mengambil posisi di belakang setiap kali foto bersama rombongan.
Selain itu, Femas juga seolah menyembunyikan wajahnya di belakang hingga nyaris tak terlihat di foto. Menurut Dhani, gelagat tersebut menunjukkan orang yang berniat kabur.
"Kalau foto bersama dia tetap ikut, tapi selalu di belakang dan wajahnya sedikit sekali kelihatan. Dari pengalaman kami, orang yang punya niat kabur sering menghindari dokumentasi yang jelas," katanya.
Saat itu, pihak travel masih berpikir positif dengan gelagat Femas sebelum menghilang di Korea. Mereka beranggapan Femas bakal kembali ke rombongan lagi, namun pria itu tak kunjung kembali hingga diduga kabur pada hari pertama perjalanan.
Kronologi Hilang
Femas pergi meninggalkan rombongan saat peserta diberi waktu untuk berbelanja di kawasan Myeongdong, Seoul. Saat itu Femas pamit kepada tour leader untuk membeli sepatu. Namun Femas justru tak kembali menunjukkan batang hidungnya di titik kumpul yang telah ditentukan.
Menurut Dhani, kasus Femas ini sudah sering terjadi, yakni terkait dugaan penyalahgunaan visa. Banyak orang yang sengaja menyahgunakan visa wisata untuk mencari pekerjaan ilegal di Korea Selatan.
Bahkan dua minggu sebelum Femas hilang, ada peserta dari travel lain yang juga kabur setibanya di bandara Korea Selatan. Namun menurut Dhani, banyak agen travel yang sengaja menutupi kasus serupa demi reputasi.
"Kasus seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Cukup sering terjadi, hanya saja banyak travel yang memilih diam karena khawatir reputasinya rusak atau kerja sama dengan operator visa dihentikan," pungkasnya.
Pengakuan Ibu Kandung
Gelagat Femas sebelum menghilang di Korea Selatan juga diungkap oleh ibu kandungnya berinisial MT. Sang ibu mengaku dibohongi oleh putranya tersebut.
MT mengaku dirinya sama sekali tak mengetahui Femas pergi ke luar negeri. Hal itu lantaran Femas berpamitan kepadanya ke Surabaya.
MT baru mengetahui kabar Femas menghilang di Korea setelah anak bungsunya melihat konten di ponsel. Konten tersebut mengabarkan bahwa Femas kabur dari rombongan wisata.
"Tidak tahu kalau ke Korea, tahunya dia pamit mau ke Surabaya," ujarnya, dilansir dari TribunJatim.
MT bahkan mengaku kesehatannya langsung drop saat mengetahui kabar tersebut. Apalagi dirinya juga mendapatkan tuntutan ganti rugi Rp 50 juta dari pihak travel.
"Saya punya asam lambung naik, badan lemes gitu, terus pikiran pusing, drop lah. Enggak keluar rumah saya," ungkapnya.
Ia pun berharap bahwa putranya tersebut dalam kondisi baik-baik saja dan sehat di manapun sang anak berada.
"Ya semoga anak saya diparingi umur panjang, badannya sehat di mana pun dia berada," pungkasnya.
Indikasi Keluarga Tutupi Informasi
Di sisi lain, agen travel Berani Backpacker menduga ibu Femas sengaja menutupi informasi mengenai keberadaan putranya. Hal ini terungkap dari bukti-bukti yang ditemukan di lapangan, termasuk dokumen yang kontradiktif dengan pernyataan MT saat diwawancara wartawan.
Setelah mendatangi langsung rumah keluarga di Madiun, tim Berani Backpacker temukan sejumlah fakta berikut.
- Dokumen Resmi
Ibu Femas, MT terbukti mencetak sendiri rekening koran di bank, lengkap dengan cap resmi. Dirinya juga secara sadar menandatangani surat sponsor perjalanan Femas.
- Penghapusan Bukti
Baca Juga: Gadis 19 Tahun Jadi Dalang Pembunuhan Ayah Angkat di Nganjuk, Ajak Kekasih dalam Skenario Licik
Seluruh riwayat percakapan teks dan panggilan telepon dengan Femas di ponsel ibunya telah dihapus dengan alasan emosi.
- Latar Pendidikan Femas
Keluarga juga menutupi informasi bahwa Femas rupanya pernah belajar bahasa di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Khusus ke Korea.
- Kesaksian Warga
Keluarga menyebut bahwa Femas sudah satu bulan pergi meninggalkan rumah. Namun tetangga sekitar mengungkap bahwa Femas masih terlihat menunaikan salat Jumat di kampungnya pada tanggal 26 Juni 2026, beberapa hari sebelum keberangkatan.
Bukti-bukti di atas mengindikasikan bahwa keluarga sengaja menutupi informasi tentang Femas. Atas hal ini, pihak travel Berani Backpacker resmi melaporkan pihak penjamin ke kepolisian.
"Kami melaporkan penjamin atau pemberi sponsor kepada pihak berwenang Kepolisian karena terbukti sebagai penjamin dan berusaha menutup-nutupi data anak serta runtutan masalah memisahkan diri dari rombongan trip Korea atas nama Femas Yani Arianto," ungkap Dhani, dikutip dari Kompas.com.
Dhani menuturkan bahwa tindakan Femas tersebut sangat merugikan bagi pihak travel maupun peserta lainnya. Terlebih, agensi travel terancam dikenakan denda Rp 125 juta dari otoritas terkait akibat kasus overstay ini.
"Kami travel dikenakan denda Rp 125 juta. Kami yang harus mempertanggungjawabkan ke pihak Korea. Kami yang harus menghadapi risiko denda. Dan peserta lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa ikut terkena dampaknya," jelasnya.
Meski telah menempuh jalur hukum terhadap penjamin, Dhani menyatakan pihak travel masih membuka pintu itikad baik dan siap memfasilitasi kepulangan Femas dari Korea Selatan ke Indonesia. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)