Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyampaikan evaluasi di wilayah banjir Sumatra memperlihatkan sejumlah area memerlukan perbaikan tata ruang, termasuk titik yang berada di zona penyangga ekologis.
Menurut Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Sigit Reliantoro, evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) setelah bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat memperlihatkan kemampuan daya dukung lingkungan yang menurun.
Advertisement
"Dari segi daya dukung, memang dari segi matra air dia sangat rendah, demikian juga dari segi daya dukung pangan untuk yang laut. Jadi pesisirnya di Aceh dan Sumatra Utara itu sepertinya juga sudah mengalami tekanan yang sangat kuat, sehingga mengalami kerusakan dalam mendukung ketahanan terhadap pangan," ujar Sigit dalam diskusi di Jakarta, melansir Antara, Selasa 21 Juli 2026.
Dia menjelaskan, dengan membandingkan antara peta dengan kawasan lindung, hutan dan data terkait ekosistem menemukan bahwa di Aceh terindikasi 59,23 persen wilayahnya yang tidak berkesesuaian antara daya dukung dan daya tampung, di Sumatra Utara sebanyak 32,14 persen dan Sumatra Barat sebanyak 41,67 persen.
"Di Aceh itu paling tidak ada 88 ribu hektare kawasan budidaya yang perlu dihindari untuk pembangunan yang baru. Kemudian juga di Sumatra Utara ada 172 ribu hektare, dan 61 ribu hektare di Sumatra Barat," papar Sigit.





Komentar (0)