Kognitif, Afektif, Psikomotorik Saja Tidak Cukup: Saatnya Pendidikan Islam Menambah Domain Spiritualistik

harianfajar
10 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Bustanul Iman RN (Ketua Prodi Magister PAI Pascasarjana UIN Palopo

ADA satu ironi yang selama puluhan tahun kita rawat dengan tekun di ruang-ruang kelas madrasah dan sekolah Islam: kita mengajarkan tentang ruh, tetapi kita tidak pernah berani mengukurnya.

Kita berbicara tentang qalb, tentang fitrah, tentang tazkiyatun nafs — lalu ketika tiba waktunya menyusun rencana pembelajaran, kita tunduk pada tiga kolom warisan Benjamin Bloom: kognitif, afektif, psikomotorik. Tidak lebih.

Seolah-olah manusia hanya terdiri dari kepala yang berpikir, dada yang merasa, dan tangan yang bergerak.
Padahal Islam sejak awal menawarkan antropologi yang berbeda.


Persoalannya Bukan Teknis, Tapi Ontologis
Ketika Bloom dan koleganya merumuskan taksonomi itu pada 1956, mereka tidak sedang berbuat curang.

Mereka jujur pada asumsi filosofis yang mereka anut: manusia sebagai makhluk empiris yang seluruh aspeknya dapat diobservasi dan diukur. Ini adalah anak kandung positivisme — pandangan yang menyatakan bahwa yang layak disebut pengetahuan hanyalah yang bisa diverifikasi lewat indra.


Persoalannya, dalam kerangka semacam itu, ruh tidak punya tempat. Bukan karena ia dianggap tidak ada, melainkan karena ia tidak masuk kategori. Ia tidak terhitung. Dan dalam sistem pendidikan modern, apa yang tidak terhitung perlahan-lahan dianggap tidak penting.

Di sinilah kesalahan kita terjadi. Kita mengadopsi peta yang dibuat untuk menjelajahi wilayah yang berbeda, lalu heran mengapa kita tersesat.
Akibat yang Sudah Kita Panen
Ketika ruh tidak masuk kurikulum, ia tidak lantas lenyap. Ia hanya kehilangan bahasa untuk mengekspresikan dirinya.

Peta itu memang tidak pernah dirancang untuk memuat sesuatu yang oleh al-Qur’an disebut sebagai urusan Tuhan sendiri — wa yas’alūnaka ‘an ar-rūḥ, qul ar-rūḥu min amri rabbī.


Maka lahirlah generasi yang fasih menghafal dalil tentang zuhud tetapi mengukur keberhasilan hidup dengan angka gaji. Yang hafal ayat tentang akhirat tetapi seluruh horizon aspirasinya berhenti di dunia.

Ini bukan kemunafikan — ini adalah akibat wajar dari sistem yang memperlakukan agama sebagai objek pengetahuan dan bukan sebagai cara berada.
Filsuf pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah menyebut ini sebagai krisis kehilangan adab: kekacauan dalam menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya.

Anak didik kita tahu banyak, tetapi tidak tahu untuk apa ia tahu. Ia terampil, tetapi tidak jelas terampil demi siapa.
Dan spiritualisme yang tidak dirawat tidak menjadi netral — ia menjadi kering kerontang. Kekeringan itulah yang kemudian diisi oleh materialisme, karena manusia tidak sanggup hidup tanpa sesuatu yang ia sembah.

Bila yang transenden tidak disediakan, yang imanen akan mengambil alih tahtanya.
Mengapa Kita Tidak Berani?
Pertanyaan yang lebih menyakitkan bukanlah mengapa domain spiritualistik tidak ada, melainkan mengapa kita tidak berani mengusulkannya.

Jawabannya, saya kira, adalah semacam rasa rendah diri epistemologis. Kita terlanjur percaya bahwa yang ilmiah adalah yang datang dari Barat, dan tugas kita hanyalah mengislamkan kulitnya.

Kita menambahkan ayat pada silabus yang kerangkanya sepenuhnya sekuler, lalu menyebutnya integrasi. Kita menempelkan “berakhlak mulia” pada indikator afektif, lalu merasa telah menunaikan amanah.


Ini bukan integrasi. Ini adalah mimikri — meniru bentuk tanpa memiliki jiwanya.
Padahal tradisi kita bukan tradisi peminjam. Al-Ghazali menulis Ihya’ Ulumuddin bukan dengan meminjam kerangka Yunani lalu menempelinya hadis; ia membongkar ulang seluruh peta jiwa manusia dari dalam.

Ibn Sina, Ibn Khaldun, al-Zarnuji — mereka semua adalah pembuat kategori, bukan pengekor kategori.
Kita mewarisi nama besar mereka, tetapi tidak mewarisi keberanian mereka.


Apa yang Dimaksud Domain Spiritualistik?
Agar tidak berhenti pada keluhan, perlu ditegaskan apa yang sesungguhnya sedang diusulkan.


Domain spiritualistik bukanlah tambahan pelajaran agama. Ia juga bukan sekadar versi lebih religius dari domain afektif. Perbedaannya mendasar: afektif mengukur sikap manusia terhadap dunia; spiritualistik mengukur kesadaran manusia terhadap Penciptanya.


Seorang anak bisa memiliki afeksi tinggi — empatik, jujur, disiplin — sepenuhnya atas dasar kalkulasi sosial. Sementara domain spiritualistik bertanya hal lain: apakah ia menyadari dirinya sedang dilihat? Apakah tindakannya berakar pada ihsan — beribadah seolah melihat-Nya? Apakah ia memiliki apa yang oleh para sufi disebut murāqabah, kesadaran diawasi yang terus-menerus?


Inilah yang membedakan orang jujur karena takut ketahuan dari orang jujur karena tahu ia tidak pernah sendirian.
Soal Pengukuran
Keberatan yang paling sering muncul: bagaimana mengukur sesuatu yang batin?
Keberatan ini valid, tetapi tidak fatal. Perlu diingat bahwa kita juga tidak benar-benar mengukur “sikap” pada domain afektif — kita mengukur manifestasinya.

Prinsip yang sama berlaku di sini. Kualitas batin memang tersembunyi, tetapi ia meninggalkan jejak: konsistensi antara amal yang terlihat dan tak terlihat, orientasi niat, ketenangan menghadapi kehilangan, kesediaan berkorban tanpa penonton.

Dan barangkali justru di sinilah letak koreksi terpentingnya: mungkin tidak semua yang bernilai harus diangkakan. Mungkin obsesi kita pada pengukuran itu sendiri adalah bagian dari penyakit yang sedang kita coba obati.

Domain spiritualistik bisa hadir bukan terutama sebagai kolom penilaian, melainkan sebagai orientasi yang menaungi seluruh domain lain — cahaya yang menerangi ketiganya, bukan lampu keempat yang berdiri sendiri.


Memperbaiki dari Hulu
Semua ini bermuara pada satu kesadaran: persoalan pendidikan Islam hari ini bukan persoalan metode, melainkan persoalan hulu — persoalan untuk apa manusia dididik.


Selama kita menjawab pertanyaan itu dengan bahasa pasar kerja, tidak ada metode secanggih apa pun yang akan menyelamatkan kita. Sungai tidak dijernihkan dengan menyaring muaranya.


Keberanian yang dibutuhkan bukan keberanian menolak ilmu dari mana pun — Islam tidak pernah mengajarkan itu. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menempatkan diri sebagai subjek yang merumuskan, bukan objek yang dirumuskan. Untuk mengatakan: kami punya pandangan sendiri tentang manusia, dan dari pandangan itulah kurikulum kami disusun — bukan sebaliknya.


Tiga domain itu tidak salah. Ia hanya tidak lengkap. Dan membiarkan ketidaklengkapan itu berlangsung sambil terus mengklaim diri sebagai pendidikan Islam adalah bentuk ketidakjujuran intelektual yang harus segera kita akhiri.


Pertanyaannya sederhana: sampai kapan pendidikan Islam hanya meminjam kerangka orang lain, dan tidak pernah membuat kerangkanya sendiri? (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
29 Tanah Bupati Lombok Barat Tak Masuk LHKPN, KPK Bakal Jerat TPPU
• 21 jam lalu
0
thumb
Video: Purbaya Umumkan Panda Bond Pertama RI Terbit 23 Juli 2026
• 18 jam lalu
0
thumb
BI Rate Diproyeksi Tembus 6,75 Persen di Akhir 2026, SMF Soroti Risiko Perlambatan KPR
• 3 jam lalu
0
thumb
NEXT Indonesia Center Usulkan PalmCo dan Agrinas Palma Digabung untuk Perkuat Ekosistem Perkebunan
• 1 jam lalu
0
thumb
Alasan Aldi Taher Tak Ingin Emosi Menanggapi Isu Pencucian Uang di Bisnisnya
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.