Podium MI: Anak Muda Butuh Dipercaya

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

SPANYOL baru saja mengangkat trofi Piala Dunia. Banyak orang terpukau oleh permainan mereka yang segar, berani, dan penuh energi. Sebagian menyebut keberhasilan itu lahir karena hadirnya para pemain muda berbakat. Namun, sesungguhnya bukan bakat semata yang menjadi faktor. Yang lebih menentukan ialah keberanian memercayai talenta-talenta muda tersebut.

Lamine Yamal masih sangat muda ketika menjadi andalan tim nasional. Pau Cubarsi juga baru menginjak usia belasan tahun saat dipercaya mengawal lini belakang. Mereka tidak tiba-tiba muncul di panggung terbesar sepak bola. Mereka digembleng, diasah, dipersiapkan melalui pembinaan yang panjang.

Lalu, ini yang terpenting, mereka diberi kesempatan ketika waktunya tiba. Tidak ada rasa takut untuk memberikan kepercayaan besar kepada anak-anak muda itu. Tidak ada kekhawatiran kepada mereka kendati usia muda kerap dipersepsikan dengan ketidakmatangan. Hasilnya nyata, Spanyol bermain begitu superior hingga meraih podium tertinggi.

Di Indonesia, kabar tentang generasi muda datang dari sudut yang berbeda. Nyaris bersamaan dengan tampilnya Spanyol sebagai juara dunia seusai menaklukkan Argentina di final, KPU merilis data menarik yang bisa jadi sangat krusial bagi masa depan Indonesia.

Baca Juga :

Garda Pemuda NasDem Dinilai Sumber Mata Air Lahirnya Kepemimpinan
Hasil rekapitulasi nasional jumlah pemilih Pemilu 2029 hingga semester I 2026 menunjukkan dari total 214.354.667 pemilih, generasi milenial dan generasi Z dipastikan bakal menjadi penguasa mutlak panggung elektoral. Pemilih dari generasi milenial mendominasi dengan porsi 32,13%, disusul gen Z sebesar 24,56%.

Jika digabungkan, kekuatan generasi muda itu melampaui 56,5% dari total pemilih nasional. Artinya, lebih dari separuh suara dalam pesta demokrasi nanti akan berada di tangan mereka yang sebagian lahir dan tumbuh di era reformasi.

Pertanyaannya kemudian, mampukah Indonesia memperlakukan bonus demografi pemilih itu layaknya Spanyol mengelola generasi emas sepak bola mereka? Bisakah kita menempa kelompok muda itu menjadi kekuatan transformatif yang dahsyat atau justru membiarkan potensi besar ini sekadar menjadi komoditas suara pemilu seperti yang sudah-sudah?

Itu pertanyaan yang wajar karena pada Pemilu 2019 dan Pemilu 2024 pun sebetulnya jumlah pemilih dari kaum milenial dan Gen Z cukup mendominasi. Pada Pemilu 2019 kelompok usia itu berjumlah sekitar 49% dan di Pemilu 2024 sebanyak 55%. Akan tetapi, modal kuat itu gagal dimanfaatkan untuk mengubah lanskap demokrasi kita. Pusat gravitasi demokrasi yang mestinya mulai bergeser ke generasi muda nyatanya masih diduduki kaum tua.

Cara berpolitik kita pun belum banyak berubah. Keterlibatan anak muda sering kali berhenti sebagai angka statistik penentu kemenangan, tetapi terpinggirkan ketika kebijakan publik dirumuskan. Setiap kali datang pemilu, generasi muda selalu hanya dijadikan target perebutan suara. Namun, setelah pemilu usai, mereka kembali diminta bersabar.

Ilustrasi generasi muda. Foto: Medcom.id.

Padahal, seharusnya suara mereka didengar, alih-alih cuma jadi target. Suara mereka layak didengar karena banyak persoalan yang menimpa mereka butuh perhatian. Tentang sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Tentang harga rumah yang kian jauh dari jangkauan. Tentang lingkungan hidup yang semakin rusak. Tentang masa depan yang makin tidak pasti.

Semua masalah itu jelas tak bakal selesai hanya dengan meminta mereka bersabar. Apalagi di tengah usaha keras kaum muda untuk bersabar itu, kalangan tua justru terus mempertontonkan pertengkaran elite, bagi-bagi kekuasaan, penguasaan ekonomi pada segelintir kelompok, atau manuver politik yang berputar pada orang-orang yang sama.

Kalau kita kembali berkaca pada timnas Spanyol, mereka menjadi juara bukan semata karena memiliki banyak pemain muda. Banyak negara lain juga memiliki pemain muda bertalenta. Yang membedakan ialah keberanian sistem untuk mendengar dan memberi mereka panggung. Pembinaan dijalankan, regenerasi dilakukan, dan kesempatan diberikan berdasarkan kesiapan. Bukan senioritas semata, apalagi nepotisme.

Bandingkan dengan kebiasaan kita. Di hampir semua bidang, generasi muda sering dipuji sebagai aset bangsa, bonus demografi, harapan masa depan. Kalimat itu diulang-ulang dalam pidato, seminar, dan kampanye. Namun, ketika tiba saatnya memberikan ruang, kita mendadak ragu.

Baca Juga :

KPU: Generasi Milenial Mendominasi Daftar Pemilih Nasional
Di dunia kerja mereka dianggap kurang pengalaman. Dalam birokrasi mereka dinilai belum matang. Di politik mereka seolah dipaksa menunggu giliran. Pun, di ruang pengambilan keputusan, suara mereka acap hanya menjadi pelengkap, bahkan sering kali didengar pun tidak.

Seperti halnya Yamal atau Cubarsi, anak-anak muda hebat di Indonesia butuh diberi ruang, mereka perlu diberi kepercayaan. Jika ingin mencontoh sepak bola Spanyol yang dalam lima tahun terakhir telah menjadi kekuatan paling dominan di sepak bola internasional, mestinya kita tidak ragu memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada kelompok muda.

Namun, kiranya di situlah letak ironinya. Negeri ini sejatinya tidak pernah kekurangan anak muda bertalenta. Yang masih langka justru keberanian untuk memercayai mereka.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Persib Fokus Kebugaran Pemain Jelang Piala Presiden 2026, Rotasi Jadi Senjata Igor Tolic
• 9 jam lalu
0
thumb
KBS Pastikan Operasional Tetap Normal di Tengah Kasus Korupsi Mantan Dirut
• 3 jam lalu
0
thumb
Prakiraan Cuaca Jawa Timur 22 Juli 2026: Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi
• 10 jam lalu
0
thumb
Respons Tegas Pemerhati Anak dan Pendidikan soal Kasus Dugaan Kekerasan pada Murid di Lubuklinggau
• 23 jam lalu
0
thumb
Atlet Golf Jesslyn Wijaya Diduga Diculik Lima Pria, Polisi Indikasikan Korban Berada di Luar Jakarta
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.