tvOnenews.com - Final Piala Dunia 2026 berakhir pahit bagi tim nasional Argentina setelah harus mengakui keunggulan Spanyol. Bertanding dalam tensi yang sangat tinggi, skuad Albiceleste tampil serba tertekan dan tak mampu mencetak satu gol pun sepanjang laga.
Keretakan permainan Argentina semakin memuncak ketika salah satu pemain utamanya diganjar kartu merah akibat pelanggaran keras, yang sekaligus menutup asa mereka untuk mempertahankan mahkota juara.
Setelah kekalahan tersebut, Argentina kian menyita perhatian publik. Bukannya menerima hasil pertandingan dengan lapang dada, para pemain Argentina justru secara mendadak menyerang para pemain Spanyol, tepat setelah wasit meniupkan peluit panjang tanda laga usai.
- REUTERS/Kai Pfaffenbach
Tak berhenti di situ, sorotan negatif makin deras mengalir di media sosial setelah beredar video yang memperlihatkan tindakan kurang terpuji dari skuad Argentina.
Saat bendera Spanyol dibentangkan di atas lapangan dan lagu kebangsaan diputar untuk merayakan kemenangan, para pemain Argentina justru membelakangi bendera tersebut.
Padahal, dalam norma olahraga internasional, tim yang kalah idealnya berdiri menghadap bendera pemenang sebagai bentuk penghormatan dan sportivitas.
Tindakan tersebut memicu kritik tajam dari warganet. Di platform X, akun dengan username @arsenalskitchen melabeli perilaku para pemain Argentina tersebut sebagai bentuk sore loser.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sore loser?
Mengenal sore loser- REUTERS/Jeenah Moon
Dalam Merriam-Webster Dictionary dijelaskan bahwa sore loser adalah sebutan bagi individu atau tim yang tidak mampu menerima kegagalan secara dewasa dan bermartabat.
Karakteristik utamanya meliputi tindakan melampiaskan amarah, menyalahkan pihak lain, hingga enggan menunjukkan rasa hormat kepada lawan yang menang.
Penyebab terjadinya sore loser
- REUTERS/Mike Segar
Melansir laman Therapytips.org, ada beberapa penyebab yang akhirnya membuat seseorang bersikap sore loser. Berikut beberapa di antaranya:
-
Ego dan ancaman terhadap harga diri: Seseorang mengaitkan hasil pertandingan secara langsung dengan harga diri dan identitas pribadinya, sehingga kekalahan dirasakan sebagai ancaman mendasar terhadap reputasi dirinya.
-
Toleransi frustrasi yang rendah: Ketidakmampuan dalam mengelola kekecewaan dan rasa tidak terima membuat emosi negatif dengan cepat meluap menjadi aksi agresif atau defensif.
-
Ekspektasi berlebihan dan eksklusivitas: Keyakinan berlebih bahwa mereka seharusnya selalu keluar sebagai pemenang membuat kegagalan terasa sulit untuk diterima.





Komentar (0)