PBNU Dorong Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Pesantren untuk Cegah Kekerasan Seksual

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) menegaskan pentingnya implementasi pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang aman, sehat, dan ramah bagi para santri.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang berlangsung di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Kegiatan ini dihadiri para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Alissa Qatrunnada Wahid Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat mengatakan, meningkatnya kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual di lingkungan pesantren, menjadi salah satu alasan utama pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi diperkuat.

Menurut Alissa, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan penindakan. Yang tak kalah penting adalah membangun pemahaman sejak dini mengenai kesehatan reproduksi agar para santri memiliki pengetahuan yang benar serta mampu melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan.

Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma di masyarakat yang menganggap kesehatan reproduksi hanya berkaitan dengan perilaku seksual. Padahal, cakupan isu tersebut jauh lebih luas, mulai dari pencegahan anemia pada remaja, kesehatan ibu dan bayi, hingga persiapan generasi muda menjadi calon orang tua yang sehat.

“Kesehatan reproduksi tidak bisa dipandang sempit. Di dalamnya juga terdapat upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang,” ujarnya.

Karena itu, Alissa berharap pendidikan kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap sebagai pembahasan yang tabu di lingkungan pesantren. Sebaliknya, materi tersebut perlu menjadi bagian dari pendidikan yang mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan mampu melindungi santri dari berbagai bentuk kekerasan.

Sementara itu, Evi Nilawaty Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan salah satu strategi penting dalam menurunkan angka kematian ibu sekaligus mencegah stunting.

Ia menyampaikan bahwa meskipun angka kematian ibu (AKI) di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan, posisinya masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara ASEAN.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, AKI Indonesia turun dari 189 per 100.000 kelahiran hidup pada 2020 menjadi target 183 pada 2024, dengan sasaran mencapai 70 pada 2030 sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurut Evi, kesehatan reproduksi remaja, terutama remaja putri sebagai calon ibu, menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi yang sehat.

Namun demikian, pendidikan tersebut juga harus diberikan kepada remaja putra agar tumbuh pemahaman dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan reproduksi.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Barri Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi menyambut baik inisiatif PBNU tersebut.

Ia menilai pendidikan kesehatan reproduksi sangat dibutuhkan oleh santri, khususnya mereka yang sedang memasuki masa pubertas.

Menurutnya, pada fase tersebut para santri membutuhkan pendampingan yang intensif agar memahami cara menjaga kesehatan diri. Peran kiai, nyai, serta pembimbing asrama dinilai sangat penting dalam memberikan edukasi sekaligus membimbing santri menghadapi perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja.

Abdul Barri mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari halaqah tersebut dan berkomitmen menyampaikan kembali materi yang diterimanya kepada para pengurus serta santri di pesantrennya.

Ia juga berharap program pendidikan kesehatan reproduksi yang diinisiasi PBNU tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan langsung ke pesantren melalui kunjungan maupun forum berbagi praktik baik antarpesantren.

“Setiap pesantren memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pendampingan berkelanjutan akan sangat membantu agar implementasi pendidikan kesehatan reproduksi dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya. (faz/ipg)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengapa Konferensi Pers Pengacara Febrie Adriansyah, Hotman Paris, Dikritik?
• 15 jam lalu
0
thumb
Jalan Cakung-Cilincing Macet Parah, Ternyata Ini Penyebabnya!
• 10 jam lalu
0
thumb
Bali Dijagokan Jadi Lokasi PFII, Pemerintah Kaji Sejumlah Kawasan Potensial
• 10 jam lalu
0
thumb
Habiburokhman Ingatkan Risiko Penyalahgunaan Wewenang dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
• 14 jam lalu
0
thumb
Timnas Spanyol Disambut dengan Pesta Meriah di Madrid
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.