JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik maraknya penggunaan rokok elektrik dan korek api sekali pakai, masih ada sekelompok orang yang rela meluangkan waktu untuk berburu korek api lawas di Jakarta.
Bukan sekadar untuk menyalakan api, melainkan mencari benda-benda yang menyimpan sejarah, kenangan, sekaligus nilai koleksi.
Di etalase sederhana milik para pedagang di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, hingga Pasar Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, ratusan korek api lawas masih dipajang dengan rapi.
Mulai dari Zippo keluaran era 1980-an, korek berbentuk granat berbahan kuningan, replika pistol Walther PPK, hingga korek unik menyerupai bungkus wafer Loacker.
Baca juga: Niat Putus Tali Pakai Korek Api, Kumpulan Balon Gas di Klungkung Meledak dan Lukai 11 Orang
Sebagian pengunjung datang membawa daftar incaran, sedangkan sebagian lagi hanya ingin bernostalgia dengan barang yang pernah akrab di tangan orang tua mereka.
Di tengah pasar koleksi yang semakin menyempit, hobi berburu korek api lawas ternyata belum benar-benar padam.
Di Pasar Jalan Surabaya, Menteng, Sadikin (56) sudah lebih dari satu dekade menekuni bisnis jual beli korek api lawas.
Awalnya, ia menjajakan berbagai barang antik, seperti jam tangan, kamera, uang kuno, hingga pernak-pernik vintage.
Namun, makin banyaknya kolektor yang datang mencari korek api membuatnya memutuskan untuk fokus pada barang tersebut.
Baca juga: Perampok Minimarket di Bekasi Takuti Korban Pakai Pistol Korek Api, Gasak Rp 12 Juta
"Kalau khusus jual korek api sudah sekitar belasan tahun. Awalnya saya memang jual barang antik campur-campur," ujar Sadikin saat ditemui Kompas.com, Jumat (17/7/2026).
Menurut dia, pembeli datang dari berbagai kalangan. Mayoritas berusia 30 hingga 60 tahun yang memang memiliki hobi mengoleksi barang antik.
Namun belakangan ini, anak muda juga mulai berdatangan untuk membeli korek api sebagai pajangan atau hadiah.
Barang yang paling banyak dicari adalah Zippo keluaran lama, korek berbahan kuningan, korek produksi era 1960–1980-an, hingga korek promosi dari perusahaan rokok yang sudah lama berhenti berproduksi.
Harga yang ditawarkan sangat beragam. Korek biasa dijual mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000.
Baca juga: Diduga Dipicu Anak Bermain Korek Api, Dua Rumah di Kota Palopo Hangus Terbakar
Namun, untuk merek terkenal dengan kondisi yang masih utuh, harganya bisa mencapai jutaan bahkan belasan juta rupiah.
"Yang dibeli sebenarnya bukan sekadar koreknya. Ada yang pernah dipakai orang tuanya, ada yang jadi kenangan masa muda, ada juga yang memang punya nilai sejarah." kata dia.
Meski demikian, menjalankan usaha ini tidaklah mudah. Tantangan terbesarnya justru mencari barang asli karena jumlahnya yang terus berkurang.
Sadikin mengaku harus berburu hingga ke luar kota, mengikuti pelelangan, atau membeli dari kolektor yang bersedia melepas koleksinya.
Ia juga harus menghadapi maraknya barang tiruan yang kini banyak beredar di pasaran.
Baca juga: Gara-gara Korek Api, 4 Remaja di Gunungkidul Pukul dan Tusuk Temannya 32 Kali
"Pembeli biasanya minta dijelaskan detail mulai dari material, cap produksi, nomor seri, sampai bekas pemakaian. Pengalaman itu yang penting," ujar dia.






Komentar (0)