Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai gagasan bahwa Indonesia akan memiliki motor listrik nasional dapat menjadi angin segar bagi sektor manufaktur, sekaligus menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas. Gagasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani menyampaikan bahwa pengembangan motor listrik nasional dapat menjadi momentum untuk membalik tren deindustrialisasi yang masih membayangi perekonomian Tanah Air. Namun, manfaat tersebut baru akan tercapai apabila pemerintah mampu menerjemahkan hal tersebut ke dalam kebijakan teknis yang mendorong tumbuhnya industri komponen lokal.
"Mendorong produksi motor listrik nasional akan menjadi momentum reindustrialisasi untuk perekonomian Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah seperti apa aplikasi dari konsep motor listrik nasional tersebut," kata Ajib dalam keterangannya, Selasa (21/7/2026).
Dia menilai terdapat sedikitnya dua syarat agar produk tersebut layak disebut sebagai motor listrik nasional. Pertama, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) harus melampaui 50%, termasuk penggunaan komponen lokal seperti chassis, body, wiring, hingga kekayaan intelektual yang dikembangkan di dalam negeri.
Kedua, industri tersebut harus membangun rantai pasok komponen lokal yang melibatkan industri kecil dan menengah sehingga manfaat ekonominya menyebar lebih luas. Menurut Ajib, ekosistem tersebut dapat dikembangkan melalui kemitraan dengan koperasi maupun pelaku industri kecil dan menengah sektor otomotif.
Apabila skema tersebut berjalan, dia menilai setidaknya terdapat tiga manfaat ekonomi yang dapat diperoleh. Pertama, desain motor listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga menjadi alat ekonomi produktif, bukan sekadar produk transportasi.
Baca Juga
- Investasi di Industri Baja Melambat di Tengah Ambisi Hilirisasi
- Nasionalisiasi British Steel, Raksasa Baja China Tuntut Pemerintah Inggris
- Apindo Ungkap 3 Kunci Dorong Realisasi Investasi Kawasan Industri
Kedua, penggunaan motor listrik berpotensi menekan emisi gas buang lebih dari 95% sehingga sejalan dengan agenda pengembangan ekonomi hijau. Ketiga, penggunaan motor listrik nasional dinilai dapat membantu menekan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Ajib lantas menyebut bahwa jumlah pengguna sepeda motor di Indonesia telah mencapai lebih dari 145 juta unit. Dengan asumsi setiap kendaraan mengonsumsi 1 liter Pertalite per hari, nilai subsidi yang harus ditanggung pemerintah diperkirakan mencapai lebih dari Rp500 miliar setiap hari berdasarkan selisih antara harga keekonomian dan harga subsidi.
Kendati demikian, Ajib mengingatkan pemerintah perlu memastikan bahwa konsep motor listrik nasional benar-benar dibangun melalui proses produksi di dalam negeri, bukan sekadar stempel ulang dari produk luar negeri.
"Kalau Indonesia benar-benar bisa memproduksi motor listrik nasional, ini akan menjadi momentum reindustrialisasi untuk membangun ekosistem ekonomi domestik yang kuat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6%," tegasnya.






Komentar (0)