Putus Mata Rantai Konflik di Adonara, Anak Muda Harus Jadi Agen Perdamaian

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS — Jejak konflik dan pembunuhan sadis lantaran sengketa lahan membuat stigma Pulau Adonara di Nusa Tenggara Timur sebagai pulau pembunuh sulit hilang. Untuk memutus mata rantai konflik berdarah itu, anak mudah Adonara harus diberdayakan menjadi agen perdamaian.

Adonara, pulau vulkanik dengan luas sekitar 509 kilometer persegi, berada di Kabupaten Flores Timur, NTT. Pulau yang dihuni sekitar 110.000 jiwa itu sering kali dilanda konflik sosial antarkampung serta pembunuhan sadis. Penyebab paling sering adalah sengketa lahan.

Dorongan menjadi agen pembawa damai itu disampaikan Vitus Pehan, tokoh muda Adonara di Kupang, NTT. Menurut dia, anak muda Adonara punya potensi besar untuk digerakkan menebar pesan damai lewat kegiatan sosial kepemudaan. Ketika masih mahasiswa dulu, Vitus dan kelompok anak muda pernah melakukannya di salah satu desa yang tengah terlibat perang dengan desa lain.

”Konflik yang berulang ini harus diputus mata rantainya. Karena itu, upaya yang penting saat ini adalah membangun kesadaran dan memberdayakan anak muda sebagai agen perdamaian. Semua pihak, terutama pemerintah, harus melihat kekuatan orang muda sebagai ahli waris perdamaian, bukan perseteruan,” kata Vitus pada Senin (21/7/2026).

Menurut Vitus, bentuk kegiatan untuk mendorong perdamaian itu bisa berupa kegiatan olahraga, pentas seni, festival budaya, dan kegiatan kerohanian. Dalam kegiatan-kegiatan itu, pesan damai bisa disisipkan dalam perjumpaan dan interaksi yang sifatnya nonformal. Cara ini dianggap lebih bisa diterima.

Vitus juga berpendapat, penyelesaian lewat jalur formal seperti perjanjian damai agak sulit membuahkan hasil. Sebab, proses formal akan cenderung mencari pihak yang benar dan salah dalam sengketa lahan. ”Mengapa demikian, karena setiap pihak merasa benar sesuai dengan versi mereka masing-masing,” katanya.

Baca Juga”Adu Darah” di Adonara yang Seakan Tak Berujung, Tiga Orang Tewas

Muhammad Soleh Kadis, tokoh muda di Pulau Adonara, menambahkan, peran anak muda Adonara dan kaum terdidik sangat strategis dan penting dalam upaya menyelesaikan konflik di pulau itu. Dia menuturkan, saat ini, terjadi konflik antara warga Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, berhadapan dengan warga Dusun Belle, Desa Waiburak, di Kecamatan Adonara Timur.

Menurut Soleh, sebagian besar pelaku perang di lapangan adalah anak-anak muda. Anak-anak muda ini diduga kurang mendapatkan informasi dari para orang tua yang sebelumnya terlibat dalam upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh pemerintah.

”Selain itu, anak muda yang sejatinya masih labil secara emosi, rentan dengan tindakan-tindakan mengaktualisasikan diri melalui cara-cara anarkis seperti ini,” kata Soleh.

Soleh menambahkan, anak-anak muda itu perlu membangun komunikasi lintas organisasi pemuda, Karang Taruna, orang muda Katolik, remaja masjid, dan lainnya. Komunikasi ini bertujuan untuk menyatukan pemahaman tentang pentingnya perdamaian di pulau yang kerap dijuluki "tanah mahar gading" itu.

"Bangunan komunikasi ini dilanjutkan dengan turun bersama menemui kedua belah pihak lalu memberikan bantuan, baik moril maupun materiil. Tentu, kerja ini perlu melibatkan pemerintah sebagai stakeholder dan pengambil kebijakan. Pemuda harus menjadi lokomotif kepedulian, edukasi, dan sosialisasi tentang pentingnya perdamaian," papar Soleh.

Sebelumnya diberitakan, konflik akibat sengketa lahan antara warga Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur tak kunjung padam. Tiga orang dilaporkan tewas, puluhan orang terluka, dan puluhan rumah dibakar akibat konflik ini. Penyelesaian konflik seakan menemukan jalan buntu sehingga "adu darah" pun terus berlanjut.

Baca JugaRedakan Konflik, Warga Adonara Serahkan 192 Pucuk Senjata

Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra, Senin (20/7/2026), mengatakan, saling serang antara dua kelompok masyarakat itu sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Setelah sempat reda, konflik itu terulang kembali pada akhir pekan lalu hingga jatuh korban jiwa.

Menurut Henry, aparat kepolisian sudah berulang kali mendatangi kedua belah pihak untuk meminta agar dilakukan perdamaian. Perwakilan keduanya pun memberi sinyal untuk menghentikan pertikaian. "Ditandai dengan mereka datang dan menyerahkan senjata kepada kami," katanya. Sekitar 900 pucuk senjata api rakitan pun sudah dimusnahkan polisi.

Pada Selasa ini, kata Henry, Wakil Kepala Polda NTT Brigadir Jenderal Faizal akan mendatangi lokasi konflik di Adonara. Ia akan menemui kedua belah pihak dan mengajak mereka untuk berdamai.

Konflik yang berulang ini harus diputus mata rantainya. Karena itu, upaya yang penting saat ini adalah membangun kesadaran dan memberdayakan anak muda sebagai agen perdamaian

Dalam catatan Kompas, stigma Adonara sebagai pulau yang menakutkan telah muncul sejak lama. Hal ini antara lain tampak dalam catatan antropolog Eropa, Ernst Vatter. Dalam bukunya yang berjudul Ata Kiwan, Ernst menyebut Adonara adalah pulaunya para pembunuh. Ernst menemukan hal itu saat melakukan penelitian di sana pada tahun 1930-an.

Kala itu, di Larantuka yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Flores Timur, Ernst menemukan banyak narapidana kasus pembunuhan yang datang menjalani persidangan di pengadilan setempat. Para terdakwa membunuh dalam kasus sengketa lahan.

Bagi masyarakat Adonara, sejengkal tanah akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Ada anggapan bahwa perang adalah cara untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Kebenaran pun dianggap berada pada pihak yang menang sehingga konflik kian susah diselesaikan.

Baca JugaTeater Damai dari Pulau Pembunuh


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
SUMMIT DI DEPAN MATA: Ketika Ego Harus Tunduk pada Gunung Elbrus
• 7 jam lalu
0
thumb
Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Tanda Mengalami Ancaman di Ruang Digital
• 5 jam lalu
0
thumb
Madura United resmi datangkan Brandon Scheunemann
• 20 jam lalu
0
thumb
Megawati: Kudatuli Bukan Sekadar Sejarah, tapi Simbol Ketidakadilan
• 2 jam lalu
0
thumb
Polisi Limpahkan Berkas Kasus Penganiayaan dan Penyekapan Wanita di Bandung ke Kejaksaan
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.