Bisnis.com, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi turun target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2026 menjadi 6.800 dari proyeksi sebelumnya 10.500 seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi, tingginya suku bunga, dan masih kuatnya berbagai tekanan makro.
Di tengah kondisi tersebut, sekuritas masih merekomendasikan delapan saham defensif yang dinilai memiliki fundamental dan prospek laba yang kuat.
Head of Research sekaligus Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan target dasar (base case) IHSG akhir 2026 diturunkan menjadi 6.800.
Level tersebut mencerminkan valuasi price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,1 kali atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun, dengan potensi kenaikan sekitar 10,1% dari posisi saat ini.
"Penurunan target mencerminkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin," paparnya, Selasa (21/7/2026).
Sampai akhir 2026, Mirae memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,8% dan tingkat suku bunga BI Rate 6%. Nilai tukar rupiah juga diprediksi ke level Rp18.000 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun 7,50%.
Baca Juga
- IHSG Dibuka Naik 0,78% ke level 6.280, Saham AMMN, INCO, ISAT Melaju
- IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Pantau Saham VKTR, PADI, hingga RAJA
- Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Selasa 21 Juli 2026
Menurut Rully, meskipun prospek pasar masih dibayangi ketidakpastian, IHSG diperkirakan berangsur pulih pada paruh kedua 2026. Hal itu didorong oleh membaiknya sentimen terhadap disiplin fiskal pemerintah, meningkatnya kepastian arah kebijakan, serta stabilisasi nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, Mirae masih memperkirakan MSCI akan terus memantau konsistensi reformasi pasar modal Indonesia, meskipun tanpa eskalasi risiko lebih lanjut.
Mirae juga menyusun dua skenario lain untuk IHSG. Dalam skenario optimistis (bull case), indeks diperkirakan mampu mencapai level 7.800 apabila pertumbuhan ekonomi melampaui proyeksi, rupiah menguat menuju Rp16.800 per dolar AS sehingga tidak diperlukan lagi kenaikan suku bunga BI.
Proyeksi itu turut mempertimbangkan hasil evaluasi MSCI lebih baik dari perkiraan sehingga aliran dana pasif asing kembali masuk ke Indonesia.
Sebaliknya, pada skenario pesimistis (bear case), IHSG berisiko turun ke level 5.500 jika pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari proyeksi, rupiah melemah mendekati Rp20.000 per dolar AS sehingga memaksa BI menaikkan suku bunga lebih agresif, atau MSCI memberikan sinyal negatif terhadap status pasar modal Indonesia.
Meski memangkas target IHSG, Mirae menilai valuasi pasar saham Indonesia kini sudah sangat menarik. Pada level saat ini, IHSG diperdagangkan pada valuasi sekitar 9,2 kali P/E atau 2,3 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun.
Valuasi tersebut juga menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu yang termurah di kelompok emerging markets yang rata-rata diperdagangkan pada 12,2 kali P/E.
Menurut Rully, tekanan jual investor asing juga mulai mereda setelah berbagai kekhawatiran pasar, mulai dari prospek fiskal hingga arah kebijakan pemerintah, mulai mendapatkan kejelasan.
Dia menilai arus keluar dana asing selama ini lebih banyak dipengaruhi investor pasif yang mengikuti perubahan bobot indeks ketimbang investor aktif yang cenderung tetap mempertahankan eksposurnya di Indonesia.
Dalam strategi investasinya, Mirae mengadopsi pendekatan yang lebih defensif. Perseroan tetap bersikap netral terhadap sektor perbankan, tetapi memilih PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebagai saham unggulan berkat fundamental yang kuat.
Selain BBCA, Mirae menambahkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) ke dalam portofolio berkat posisi dominannya di pembiayaan syariah dan bisnis pembiayaan emas.
Perseroan juga mempertahankan rekomendasi pada PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) karena dinilai memiliki visibilitas pertumbuhan laba yang kuat.
Mirae turut memasukkan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) sebagai rekomendasi baru. Menurut Rully, emiten tersebut merupakan pemimpin pasar di industri pulp dan kertas dengan prospek transformasi menuju bisnis kemasan yang lebih stabil. Koreksi harga saham yang terjadi belakangan ini juga dinilai telah membuka peluang valuasi yang lebih menarik bagi investor.
Dengan demikian, delapan saham pilihan Mirae Asset untuk paruh kedua 2026 terdiri atas BBCA, BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






Komentar (0)