Dolar AS Dekati Level Tertinggi Sepekan, Pasar Masih Dibayangi Perang AS-Iran

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak mendekati level tertinggi dalam sepekan pada Selasa (21/7/2026).

Dolar AS Dekati Level Tertinggi Sepekan, Pasar Masih Dibayangi Perang AS-Iran. Foto: Freepik.

IDXChannel - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak mendekati level tertinggi dalam sepekan pada Selasa (21/7/2026).

Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, stabil di level 100,96, mendekati posisi tertinggi sejak 15 Juli.

Baca Juga:
INACA Sambut Kelonggaran dari BI, Maskapai Charter Boleh Bertransaksi dengan Dolar hingga 2027

Terhadap yen Jepang, dolar AS relatif stabil di level 162,50 yen. Euro juga nyaris tidak berubah di USD1,1415, sedangkan poundsterling Inggris bertahan di USD1,3434 setelah Perdana Menteri baru Inggris Andy Burnham berjanji tetap berpegang pada aturan disiplin fiskal.

Pasar masih dibayangi ketegangan di Timur Tengah, dengan harga minyak mengalami fluktuasi tajam di dekat level tertinggi dalam enam pekan. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi global. Namun, harapan meredanya konflik tetap ada setelah Teheran menerima usulan gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator.

Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.921 per Dolar AS

“Ada harapan ketegangan sedikit mereda dan pada akhirnya kita akan memasuki fase jeda. Namun, situasinya masih sangat bergejolak,” kata Senior Currency Strategist National Australia Bank, Rodrigo Catril, dilansir Reuters.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS kembali naik tipis. Pelaku pasar masih menilai potensi lonjakan harga minyak akibat meluasnya perang akan mendorong kenaikan inflasi konsumen.

Baca Juga:
Bank Sentral Global Borong Logam Mulia, Kompak Kurangi Eksposur Terhadap Dolar AS

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di level 4,5937 persen, sementara yield obligasi tenor 30 tahun juga tetap berada di atas level psikologis 5 persen.

Dolar Selandia Baru menguat 0,4 persen ke USD0,5860, mencapai level tertinggi sejak awal Juni setelah data inflasi yang kuat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Dolar Australia juga menguat tipis ke USD0,7001.

Sementara itu, survei Bank Sentral Eropa (ECB) pada Senin menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di kawasan euro memperkirakan kenaikan harga jual akan berlangsung lebih moderat. ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pekan ini, namun tingginya harga minyak mendorong spekulasi bahwa suku bunga deposito sebesar 2,25 persen masih berpotensi kembali dinaikkan pada September.

Di tempat lain, dolar Kanada stabil setelah sebelumnya merosot ke level terendah dalam satu bulan. Pelemahan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif baru sebesar 50 persen terhadap berbagai produk asal Kanada sebagai respons atas tuduhan “perlakuan diskriminatif” dari pemerintah Kanada.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perkuat Portofolio WtE, OASA Siap Garap Proyek PSEL Lampung Raya
• 20 jam lalu
0
thumb
PWI Pusat Laporkan Hotman Paris ke Polisi atas Dugaan Penghinaan
• 10 jam lalu
0
thumb
Lionel Messi: Butuh Waktu Agar Luka Ini Bisa Sembuh
• 3 jam lalu
0
thumb
DJP Libatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk Awasi Kepatuhan Wajib Pajak
• 15 jam lalu
0
thumb
Ingin Wujudkan Tangsel Nol Kasus Stunting, Tangsel Genjot Pencegahan dari Prakehamilan
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.