Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi generasi terdahulu, pernikahan kerap dipandang sebagai hajatan besar: gedung penuh tamu, pelaminan megah, dan antrean panjang ucapan selamat. Namun bagi sebagian Gen Z hari ini, gambaran itu mulai bergeser. Pernikahan tak lagi selalu identik dengan pesta besar. Yang dianggap penting justru akadnya, kehangatan bersama orang terdekat, dan momen yang terasa lebih personal.
Perubahan cara pandang itu kini semakin terlihat di lapangan. Penghulu di KUA Setiabudi Abdul Hamid mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pasangan muda yang memilih menikah langsung di KUA. Fenomena itu, menurut dia, tak hanya terjadi di Setiabudi, tetapi juga di sejumlah KUA lain di Jakarta.
"Iya betul, akhir-akhir ini banyak yang memilih menikah di KUA saja. Yang termasuk banyak tuh di KUA Tebet, yang saya sering lihat karena memang juga lumayan bagus sih balai nikahnya," ujar Hamid kepada CNBC Indonesia.
Di KUA Setiabudi sendiri, ia mengakui karakter pasangan yang datang memang beragam. Selama ini, wilayah tersebut banyak diisi pasangan yang menggelar akad di gedung, terutama dari kalangan menengah atas. Meski begitu, pasangan muda yang memilih menikah sederhana di KUA juga mulai banyak ditemui belakangan ini.
"Kalau Kecamatan Setiabudi ini biasanya banyak untuk yang menggelar di gedung ya. Tetapi itu memang orang-orang yang udah kalangan-kalangan menengah ke atas gitu. Namun ada banyak juga sih Gen Z yang pilih nikah di sini saja," katanya.
Hamid melihat perubahan ini mulai terasa setelah pandemi Covid-19, atau tepatnya pada tahun 2023 lalu.
Di balik pergeseran itu, ada perubahan lebih mendasar, yakni cara generasi muda memandang pernikahan. Jika dulu resepsi besar seolah menjadi paket wajib, kini sebagian Gen Z justru melihat pernikahan cukup dirayakan dengan sederhana, selama inti acaranya tetap terjaga. Hamid menilai, karakter Gen Z yang terbiasa dengan segala hal serba praktis pun ikut memengaruhi pilihan tersebut.
"Satu, mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal yang simpel. Karena memang hidupnya ini sekarang dia simpel. Seperti kalau dulu itu kan serba susah, misalnya mau nelpon kita harus pergi ke wartel ya. Terus misalnya kita mau chattingan itu kita SMS yang dulu penuh dengan kesabaran gitu kan, yang agak susah. Kalau sekarang Gen Z itu karena memang dilatih dari kehidupan yang serba simpel gitu, mau nge-chat, mau teleponan dan lain sebagainya gampang. Order makanan pun gampang, sehingga hal-hal itu yang memicu 'Ah pernikahan mending lebih baik simpel' gitu kan, karena kan intinya ijab kabul saja," tutur dia.
Hal yang sama juga dirasakan Kepala KUA Tebet Nasrulloh. Nasrulloh bahkan mengungkapkan makin banyak pasangan muda yang menikah di KUA khususnya di tahun ini.
"Khusus untuk KUA Tebet biasanya dari persentase 20% nikah di KUA, 80% nikah di luar KUA. Nah di tahun 2026 ini naik 40% nikah di KUA, 60% nikah di luar, mayoritas iya yang nikah dari kalangan Gen Z meski ada beberapa di luar itu," beber dia.
Menurut Nasrulloh ada faktor utama yang membuat Gen Z kini lebih memilih menikah di KUA dibandingkan di gedung atau rumah.
"Kalau itu saya kurang tahu, tapi 1-2 pengantin bilang kita lebih duit ditabung masa depan ketimbang dihambur di acara pesta," ujarnya.
Bagi sebagian pasangan muda, pandangan bahwa inti pernikahan ada pada ijab kabul, bukan pesta, menjadi alasan kuat untuk menyederhanakan acara. Seruni Cantika misalnya, mengaku sejak awal memang tak tertarik menggelar pesta besar. Ia memilih menikah di KUA dan hanya mengundang keluarga inti untuk makan bersama setelah akad.
"Alasan utamanya simpel, dan mungkin banyak ya yang sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan. Karena pernikahan itu bukan suatu akhir ya, tapi awal dari perjalanan," kata Seruni.
Namun di balik keputusan itu, ada juga kejenuhan terhadap budaya pesta yang dianggap terlalu melelahkan. Seruni bercerita, ia melihat sendiri bagaimana pesta pernikahan bisa berubah menjadi beban, bukan kebahagiaan.
"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu karena saya melihat sepupu saya yang bela-belain gelar pesta mewah, tapi orang tuanya harus terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta kalau cuma bikin pusing sama utang. In this economy ya," kisahnya.
Bukan hanya soal biaya, Seruni juga tak ingin larut dalam keruwetan persiapan resepsi yang panjang.
"Lagipula, meski tabungan sudah aman ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya yang memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," kata dia.
Meski sederhana, bukan berarti momen pernikahan kehilangan kesan istimewa. Seruni tetap menyewa fotografer untuk mendokumentasikan akad dan memakai jasa makeup artist. Setelah akad selesai, ia dan pasangan langsung berfoto di balai nikah, lalu melanjutkan makan bersama keluarga inti.
"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa fotografer yang mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai akad di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan fotografer yang disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," ujar Seruni.
Adapun untuk acara keluarga, ia sengaja membuatnya sesederhana mungkin. "Tetap ada, tapi saya cuma order 30 pax di salah satu restoran keluarga. Benar-benar keluarga inti saja," katanya.
Bukan hanya Seruni, pasangan Gen Z lainnya Ade bersama Intan juga mengatakan hal yang sama. Pasangan Gen Z yang menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA karena simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat uang mahar pernikahan akan disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan keluarga di rumah," ucap Ade.
"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat nanti kebutuhan anak, uang kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.
Ade dan Intan menghilangkan kata gengsi dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.
"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya.
Seruni, Ade, dan Intan bukan satu-satunya Gen Z yang pilih nikah di KUA, banyak utas Gen Z di sosial media Thread mengungkapkan hal yang sama. Alasannya beragam mulai dari simpel hingga efisiensi biaya. Mereka memilih untuk tak menggelar pesta dan mulai menghilangkan gengsi.
Cerita seperti Seruni, Ade, dan Intan, menurut staf wedding organizer Arini, makin sering ditemui. Ia melihat pasangan muda sekarang tidak selalu ingin resepsi besar dengan ratusan tamu. Sebagian justru merasa lebih nyaman dengan intimate wedding, atau bahkan cukup akad di KUA lalu dirayakan kecil-kecilan.
"Menurut saya, masih banyak yang memilih untuk melangsungkan intimate wedding sebagai salah satu solusinya, di mana masih bisa menyelenggarakan pesta namun dengan jumlah tamu minim dan budget yang lebih ramah di kantong," ujar Arini.
Lebih jauh, Arini menilai tren ini bukan semata soal efisiensi biaya, melainkan juga perubahan preferensi.
"Ada juga calon pengantin yang memang sejak awal kurang suka pesta dengan ratusan orang ataupun menghabiskan waktu berdiri berjam-jam menyambut tamu. Alhasil, tren ini disambut baik," katanya.
Owner SatSet Wedding Organizer Adi Rahzalafna melihat fenomena ini sebagai perubahan sudut pandang yang lebih luas. Menurut dia, nikah di KUA atau intimate wedding kini tak lagi dipandang sebagai pilihan "kelas dua", melainkan justru menjadi gaya baru yang diterima luas oleh pasangan muda.
Adi menyebut tren nikah di KUA sebagai bentuk penyegaran gaya dan pembaharuan sudut pandang, dan menghapus berbagai stereotype negatif tentang 'nikah di KUA'.
Adapun media sosial ikut mempercepat perubahan itu. Konten akad sederhana di balai nikah, dokumentasi intimate wedding, hingga pesta kecil dengan dekor minimalis membuat model pernikahan sederhana semakin akrab di mata Gen Z. Pernikahan tak lagi harus identik dengan gedung besar dan ribuan tamu untuk dianggap berkesan.
Di sisi lain, resepsi besar tentu belum benar-benar hilang. Arini mengatakan masih ada keluarga yang tetap menginginkan pesta, terutama jika skala keluarga besar atau ada dorongan dari orang tua. Namun, ia melihat kecenderungan pasangan muda kini lebih berani menegosiasikan bentuk pernikahan yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.
"Menurut saya ini bisa jadi perubahan tren jangka panjang, tetapi juga didukung dengan kondisi ekonomi domestik. Meski demikian, di luar sana juga masih cukup banyak klien yang tetap membutuhkan layanan jasa WO, khususnya klien dengan skala keluarga cukup besar, hingga didukung permintaan orang tua untuk menggelar pesta," tambah Arini.
Fasilitas KUADi KUA sendiri, fasilitas yang tersedia memang sederhana: balai nikah, meja, kursi, dan ruang untuk akad. Namun justru di situlah daya tariknya bagi pasangan yang tak ingin dipusingkan dengan seremoni panjang. Abdul Hamid menjelaskan, bila calon pengantin ingin menambah sentuhan personal, mereka dipersilahkan membawa dekorasi sendiri.
"Kalau di KUA sebenarnya kita hanya menyediakan tempat. Biasanya mereka buat dekor lagi sendiri. Dia izin, kita mau dekor, silahkan kalau yang mau dekor gitu. Bawa dekornya sendiri. Jadi di KUA itu hanya menyediakan tempat saja sih sebenarnya," kata Hamid.
Bagi sebagian Gen Z, model pernikahan seperti ini terasa cukup. Ada ruang untuk tetap tampil rapi, tetap punya dokumentasi, tetap makan bersama keluarga, tetapi tanpa beban pesta besar. Pernikahan tak lagi dikejar sebagai pertunjukan sosial, melainkan dikembalikan ke inti acaranya: akad yang sah, suasana hangat, dan orang-orang terdekat yang benar-benar ingin hadir.
Pada titik itulah, pergeseran ini menjadi lebih dari sekadar tren nikah di KUA. Ia menandai perubahan cara generasi muda memaknai pernikahan. Jika generasi sebelumnya banyak mengejar kemeriahan, Gen Z justru tampak semakin nyaman dengan kesederhanaan. Yang penting sah, sisanya bisa disesuaikan.
(wur/wur) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)