Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbelah pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Pasar masih bergerak hati-hati di tengah tarik-menarik sentimen dari Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang terpantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara empat lainnya menguat.
Rupiah masuk ke zona merah meski pelemahannya relatif tipis. Mata uang Garuda melemah 0,02% ke posisi Rp17.933/US$. Posisi tersebut memperlihatkan rupiah yang tengah berjuang untuk menjauhi level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan paling dalam pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,25% ke posisi KRW 1.479,1/US$. Peso Filipina juga terkoreksi 0,07% ke PHP 61,696/US$.
Dong Vietnam turun 0,05% ke posisi VND 26.303/US$, disusul baht Thailand yang melemah 0,03% ke THB 33,63/US$. Yen Jepang juga turun tipis 0,01% ke posisi JPY 162,48/US$.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,07% ke posisi MYR 4,087/US$.
Dolar Singapura juga menguat 0,06% ke SGD 1,2905/US$. Sementara itu, yuan China dan dolar Taiwan sama-sama naik tipis 0,02%, masing-masing ke posisi CNY 6,7652/US$ dan TWD 32,274/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 100,949 pada waktu yang sama. Pergerakan ini membuat dolar AS masih bertahan dekat level tertinggi dalam sepekan.
Dolar AS bergerak stabil cenderung kuat karena pasar masih dibayangi sinyal yang bercampur dari Timur Tengah. Di satu sisi, konflik di kawasan tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi. Di sisi lain, harapan gencatan senjata masih memberi sedikit ruang lega bagi pelaku pasar.
Harga minyak juga bergerak tajam dan masih berada dekat level tertinggi enam pekan. Kondisi ini terjadi setelah kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Namun, harapan de-eskalasi belum sepenuhnya hilang. Teheran dilaporkan telah menerima proposal gencatan senjata 10 hari dari mediator.
Rodrigo Catril, senior currency strategist National Australia Bank, menilai pasar masih berada dalam fase yang sangat rapuh.
"Ada harapan bahwa ketegangan sedikit mereda dan pada titik tertentu kita akan menekan tombol jeda. Semuanya masih sangat volatil," ujar Catril dikutip dari Reuters.
Catril menambahkan, pasar masih perlu melihat perkembangan berikutnya, terutama apakah konflik akan kembali membesar atau justru mereda.
"Kita harus menunggu dan melihat bagaimana perkembangannya. Kita perlu melihat apakah ini akan meningkat," ujarnya.
Risiko inflasi juga kembali menjadi perhatian. Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali bergerak naik karena pelaku pasar menimbang apakah lonjakan harga minyak akibat meluasnya perang dengan Iran akan merembet ke harga konsumen.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di level tinggi, yakni 4,5937%. Sementara itu, yield Treasury tenor 30 tahun juga masih kokoh di atas level 5%.
Kenaikan yield dan kekhawatiran inflasi energi membuat dolar AS tetap memiliki pijakan. Bagi mata uang Asia, kondisi ini membuat ruang penguatan tidak merata.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw) Add as a preferredsource on Google





Komentar (0)