Apakah Akal Imitasi Membuat Kita Bodoh?

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Filsuf Yunani Socrates pernah memperingatkan bahwa kebiasaan menulis akan membuat manusia kehilangan daya ingat. Ribuan tahun kemudian, kekhawatiran serupa muncul setiap kali teknologi baru hadir.

Kalkulator disebut akan mematikan kemampuan berhitung, GPS dianggap membuat manusia kehilangan naluri membaca arah, internet dituduh menjadikan orang malas mengingat informasi.

Kini giliran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menjadi sasaran. Sejak chatbot seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, muncul pertanyaan yang semakin sering diajukan, apakah AI sedang membuat manusia semakin bodoh?

Jawaban ilmiahnya ternyata tidak sesederhana itu.

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences pada 9 Juli 2026 menyimpulkan bahwa AI tidak otomatis menurunkan kecerdasan manusia.

Namun, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI atau akal imitasi dapat menghambat pembentukan keterampilan baru sekaligus mempercepat kemunduran keterampilan yang sudah dimiliki. Semua bergantung pada cara manusia menggunakan teknologi tersebut.

Penulis utama kajian itu, Trent N. Cash dan koleganya dari University of Waterloo, University of Toronto, dan Purdue University, menyebut fenomena tersebut sebagai cognitive offloading, yaitu kebiasaan memindahkan pekerjaan mental kepada alat bantu eksternal.

Baca JugaKecerdasan Buatan dan Otak Anak Usia Dini

Alih-alih mengingat nomor telepon, orang menyimpannya di ponsel. Alih-alih menghitung sendiri, mereka memakai kalkulator. Kini, alih-alih membaca puluhan sumber, menyusun argumen, atau memecahkan persoalan, banyak orang cukup mengetikkan satu perintah kepada AI.

Teknologi memang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Persoalannya, otak belajar melalui latihan.

"Praktik merupakan salah satu pertahanan terkuat terhadap lupa," tulis Cash dan tim. Ketika proses latihan itu diserahkan sepenuhnya kepada AI, kemampuan yang seharusnya berkembang justru tidak pernah terbentuk atau perlahan memudar.

Baca JugaOtak Manusia Semakin Tumpul, AI Semakin Pintar
Otak seperti otot

Prinsip kerja otak sebenarnya mirip otot. Sama seperti otot yang melemah jika jarang digunakan, keterampilan berpikir juga memerlukan latihan berulang.

Riset Cash dan tim ini membedakan antara keterampilan (skills) dan kemampuan kognitif dasar (basic cognitive abilities). Keterampilan adalah kemampuan yang dipelajari seperti menulis, berhitung, mendiagnosis penyakit, atau menyusun argumen ilmiah. Sementara kemampuan kognitif dasar mencakup perhatian, memori kerja, dan fungsi eksekutif otak sebagai fondasi seluruh proses belajar.

Praktik merupakan salah satu pertahanan terkuat terhadap lupa. Ketika proses latihan itu diserahkan sepenuhnya kepada AI, kemampuan yang seharusnya berkembang justru tidak pernah terbentuk atau perlahan memudar.

Kabar baiknya, hingga kini belum ada bukti kuat bahwa akal imitasi merusak kemampuan dasar otak manusia. Namun kabar buruknya, keterampilan dapat hilang jika tidak lagi dilatih.

Sebagai contoh, seseorang yang selalu meminta AI menyelesaikan soal matematika akan kehilangan kesempatan membangun kemampuan berhitung. Orang yang terus-menerus meminta AI merangkum bacaan juga cenderung memahami materi lebih dangkal karena tidak lagi mencari, membandingkan, dan menyusun informasi sendiri.

Fenomena pendangkalan kemampuan berpikir sudah mulai terlihat dalam berbagai penelitian. Misalnya, dalam salah satu studi yang dikutip dalam kajian Cash tersebut, peserta diminta mempelajari suatu topik menggunakan Google atau AI. Setelah itu mereka harus memberikan saran kepada orang lain tanpa bantuan teknologi.

Hasilnya, kelompok pengguna AI menghasilkan jawaban lebih singkat, kurang orisinal, dan dinilai lebih tidak membantu dibandingkan kelompok yang memakai mesin pencari biasa. Mereka juga menghabiskan waktu belajar lebih sedikit, menguasai informasi lebih sedikit, dan merasa kurang memiliki pengetahuan yang baru mereka pelajari.

Baca JugaKecerdasan Manusia dan Jejak Evolusinya

Para peneliti menjelaskan Google masih memaksa pengguna membuka berbagai laman, membandingkan sumber, dan menyusun kesimpulan sendiri. Sebaliknya, AI langsung menyajikan ringkasan sehingga sebagian besar pekerjaan berpikir telah "dialihkan" kepada mesin.

Inilah paradoks AI. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin sedikit proses mental yang terjadi.

Tergantung bagaimana menggunakannya

Meski demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa AI harus dijauhi. Sebaliknya, AI justru dapat menjadi alat belajar yang sangat efektif apabila digunakan sebagai mitra berpikir, bukan pengganti berpikir.

Dalam riset tentang pembelajaran matematika di sekolah menengah, misalnya, siswa yang memakai kecerdasarn buatan sebagai tutor, bukan sebagai mesin pemberi jawaban, memperoleh peningkatan kemampuan setara dengan siswa yang belajar tanpa AI.

Akal imitasi membantu dengan memberikan petunjuk, contoh penyelesaian, serta umpan balik, tapi tetap membiarkan siswa menyelesaikan masalah sendiri. Dengan kata lain, AI paling bermanfaat saat memperkuat proses belajar, bukan mengambil alih seluruh proses itu.

Prinsip yang sama berlaku di dunia kerja. Dokter dapat menggunakan AI untuk memperoleh opini kedua terhadap hasil pemeriksaan. Jurnalis dapat memanfaatkannya untuk mencari referensi awal. Peneliti dapat menggunakannya untuk menyusun hipotesis. Namun keputusan akhir tetap membutuhkan penalaran manusia.

Hal yang masih menjadi tanda tanya yakni dampak jangka panjang. Para peneliti mengakui belum ada bukti cukup untuk mengetahui bagaimana penggunaan AI selama puluhan tahun akan memengaruhi perkembangan otak, terutama pada anak-anak yang sedang membangun kemampuan berpikir dasar.

Mereka menyerukan perlunya penelitian longitudinal yang mengikuti pengguna AI selama bertahun-tahun di berbagai profesi dan kelompok usia.

Kekhawatiran ini makin relevan karena penggunaan AI tumbuh amat cepat. Survei terbaru dari Pew Research Center menunjukkan makin banyak remaja dan dewasa muda menggunakan chatbot AI sebagai sumber informasi dan berita. Di Amerika Serikat, satu dari lima remaja kini mengaku rutin menggunakan AI untuk memperoleh berita.

Padahal, dalam studi MIT Media Lab yang dipublikasikan pada Juni 2026 lalu, peserta yang mengandalkan AI untuk memverifikasi informasi memang menjadi lebih akurat selama AI tersedia.

Namun setelah bantuan itu dihilangkan, kemampuan mereka mendeteksi informasi palsu justru menurun dibandingkan sebelumnya. Para peneliti menyebutnya sebagai AI dependency paradox, yaitu AI meningkatkan performa sesaat, tetapi dapat mengurangi kemampuan mandiri jika digunakan secara berlebihan.

Kajian lain dari Humanities and Social Sciences Communications pada Maret 2026 juga menekankan bahwa cognitive offloading sebenarnya bukan hal yang selalu buruk.

Laporan yang ditulis oleh Yufei Guo dan Qun Ye dari Zhejiang Key Laboratory of Intelligent Education Technology and Application, China ini menjelaskan, mengalihkan sebagian pekerjaan rutin kepada teknologi bisa menghemat sumber daya mental. Pada akhirnya, hal ini menyebabkan manusia dapat memusatkan perhatian pada tugas yang lebih kompleks.

Tantangannya yakni menjaga agar pengguna tetap aktif berpikir dan tidak kehilangan kesadaran metakognitif atas proses belajarnya sendiri. Sejarah menunjukkan setiap teknologi baru selalu memunculkan kekhawatiran serupa.

Socrates ternyata keliru jika menganggap tulisan akan menghancurkan ingatan manusia. Tulisan justru memungkinkan ilmu diwariskan lintas generasi.

Kalkulator tidak mematikan matematika, GPS tidak menghapus kemampuan bernavigasi, dan komputer tidak membuat manusia berhenti berpikir. AI bisa juga akan mengikuti pola yang sama.

Berbagai laporan ini menunjukkan, yang menentukan bukanlah kecerdasan buatan itu sendiri, melainkan bagaimana manusia memilih menggunakannya.

Manusia harus tetap berada di dalam cognitive loop, lingkaran berpikir. Akal imitasi bisa membantu mencari alternatif, memberikan umpan balik, atau menjelaskan konsep yang sulit, tetapi bukan mengambil alih seluruh proses memahami, menimbang, dan memutuskan.

Hal ini karena pada akhirnya kemampuan berpikir bukanlah sesuatu yang diwariskan begitu saja. Ia dibangun melalui latihan, dipertajam oleh kesalahan, dan dipelihara dengan terus digunakan.

Kecerdasan buatan dapat mempercepat pekerjaan manusia. Namun jika seluruh pekerjaan berpikir diserahkan kepada mesin, bukan AI yang membuat manusia kehilangan ketajaman berpikir, melainkan kebiasaan manusia sendiri yang berhenti melatih otaknya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perang Baru Kian Dekat ke Asia, Jalur Strategis Pasifik Terancam
• 21 jam lalu
0
thumb
Jalan Cakung-Cilincing Macet Parah, Ternyata Ini Penyebabnya!
• 3 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Lahan Gambut 20 Hektare di OKI Belum Padam, BNPB Kerahkan Helikopter
• 20 jam lalu
0
thumb
Robbie Williams Bantah Pakai Narkoba, Jelaskan Benda Putih yang Jatuh Saat Siaran Langsung Piala Dunia 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
Advokat Minta MK Ubah Nama Laut Cina Selatan Menjadi Laut Natuna Utara
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.