Presiden China Xi Jinping: AI Jangan Dikuasai Satu Negara

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Presiden China Xi Jinping menyerukan dunia agar tidak membiarkan satu negara mendominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan tersebut menjadi sindirian bagi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa setelah membatasi ekspor teknologi, terutama terkait AI, ke China dengan alasan keamanan nasional.

Xi Jinping menyampaikan itu saat membuka ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China. Melalui pidato tersebut, ia mengajak komunitas internasional untuk memperkuat kerja sama global demi tata kelola AI yang aman dan adil, karena kolaborasi multinasional sangat penting untuk mencegah hegemoni teknologi yang tidak sehat.

"Pengembangan AI tidak boleh menjadi pertunjukan solo oleh satu negara tunggal, melainkan sebuah simfoni kerja sama internasional," ujar Xi Jinping, mengutip AFP.

Ia juga mendesak negara-negara untuk tidak menyalahgunakan konsep keamanan nasional guna menghambat kemajuan teknologi pihak lain. Di tengah pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, China kini berupaya memimpin perumusan regulasi kecerdasan buatan di tingkat global.

Tantangan tata kelola teknologi pintar ini memicu perhatian dari berbagai pakar industri. Founder konsultan Praxis Advisory di Shanghai, Shengyun Lu, menyarankan dunia untuk menerapkan pengawasan ketat terhadap perkembangan kecerdasan buatan.

"Kita harus meregulasi AI seperti kita meregulasi tenaga nuklir," kata Lu.

Sebagai langkah nyata, China bersama 29 negara, termasuk Indonesia, Rusia, dan Pakistan, sepakat mendirikan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Global (WAICO). Lembaga yang bermarkas di Shanghai ini bertujuan untuk memastikan pengembangan AI berjalan secara sehat, aman, dan teratur.

Teknologi AI China

Ajang WAIC menampilkan lebih dari 3.000 produk inovatif dari 1.000 perusahaan teknologi. Beberapa produk unggulan yang menarik perhatian antara lain model bahasa besar Kimi K3 buatan Moonshot AI, model M3 dari MiniMax, hingga infrastruktur komputasi Atlas 950 milik Huawei.

Saat ini, banyak perusahaan global mulai beralih menggunakan model AI sumber terbuka (open-source) dari China, seperti Qwen milik Alibaba. Perusahaan asing memilih model ini karena menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan fleksibilitas modifikasi yang tinggi jika kita bandingkan dengan sistem tertutup milik OpenAI atau Anthropic.

Selain raksasa teknologi seperti Baidu, Tencent, dan ByteDance, jajaran perusahaan rintisan (startup) baru seperti DeepSeek dan Zhipu AI juga terus mempercepat inovasi mereka. Langkah ini memperkecil jarak persaingan teknologi antara kubu AS dan China di panggung global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Di RDPU DPR, Mahasiswa King’s College Paparkan 3 Rekomendasi RUU Perampasan Aset
• 6 jam lalu
0
thumb
Bahlil Klaim Devisa Ekspor Batu Bara Capai US$15 Miliar pada Semester I/2026
• 14 jam lalu
0
thumb
Kredit Perbankan Tumbuh 11,5%, OJK Sebut Sektor UMKM Masih Jadi Tantangan
• 8 jam lalu
0
thumb
Polres Sampang Tangkap Lagi 4 Tersangka Pemerkosaan Anak
• 15 jam lalu
0
thumb
Cara Cek Tilang Elektronik ETLE Secara Online Lewat HP dan Komputer
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.