Perjalanan Argentina mempertahankan gelar juara dunia harus berakhir di tangan Spanyol pada Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Kekalahan 0-1 pada final Piala Dunia 2026, bukan hanya menutup lima tahun dominasi Tim Tango, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan Lionel Messi dan era kepelatihan Lionel Scaloni.
Media Argentina, Pagina 12, menggambarkan berakhirnya perjalanan tim nasional dengan tajuk “Thanks Scaloneta”. Julukan yang selama ini melekat pada tim racikan Scaloni itu dianggap telah menutup satu siklus kejayaan yang menghadirkan berbagai trofi bergengsi.
“Apa yang tersisa adalah kebahagiaan, kenangan, dan kini penyesalan. Tim nasional mengakhiri lima tahun dominasi total dengan permainan yang buruk, bertahan dalam pertandingan berkat penyelamatan Dibu Martínez. Spanyol layak menjadi juara,” tulis Pagina 12.
Bahkan, sebelum laga final berlangsung, Lionel Messi seolah telah menyadari besarnya tantangan yang menanti timnya.
“Apa pun yang terjadi, kelompok ini telah menulis sejarah yang tidak akan pernah kami lupakan,” ujar Messi sehari sebelum pertandingan.
Ucapan tersebut dinilai mencerminkan kesadaran sang kapten bahwa Argentina akan menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan lebih unggul.
Sepanjang pertandingan, Spanyol tampil dominan dengan penguasaan bola, organisasi permainan, dan intensitas tekanan yang membuat Argentina kesulitan mengembangkan permainan.
Meski Emiliano “Dibu” Martínez berkali-kali melakukan penyelamatan penting, La Roja akhirnya mampu mencetak gol kemenangan yang memastikan trofi Piala Dunia 2026 menjadi milik mereka.
Kekalahan itu sekaligus memperlihatkan perbedaan filosofi permainan kedua tim.
Spanyol sukses menjadi juara berkat kekuatan kolektif. Seluruh pemain berkontribusi dalam menyerang maupun bertahan. Meski memiliki Lamine Yamal, permainan La Roja tidak bergantung pada satu individu.
Sebaliknya, Argentina masih sangat bertumpu pada pengaruh Lionel Messi. Selama bertahun-tahun, strategi Lionel Scaloni dibangun untuk memaksimalkan kemampuan kaptennya dalam mengatur ritme permainan dan menciptakan peluang.
Pendekatan tersebut membawa kesuksesan besar, termasuk saat menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, pada edisi 2026, formula yang sama dinilai mulai kehilangan efektivitas, terutama saat menghadapi lawan dengan organisasi permainan yang lebih solid.
Perjalanan Argentina menuju final juga jauh lebih berat dibanding empat tahun sebelumnya. Tim harus bekerja keras melewati setiap fase gugur hingga akhirnya terlihat mulai kehabisan tenaga saat menghadapi Spanyol.
Kondisi itu semakin memperkuat anggapan bahwa mempertahankan gelar juara dunia merupakan tantangan yang jauh lebih sulit dibanding merebutnya untuk pertama kali, terlebih dengan format turnamen yang kini memiliki lebih banyak pertandingan fase gugur.
Selepas final, masa depan Lionel Scaloni sebagai pelatih juga mulai dipertanyakan. Dalam konferensi pers, ia tidak memberikan kepastian mengenai kelanjutan posisinya sebagai pelatih Argentina.
Sementara itu, masa depan Lionel Messi bersama tim nasional juga menjadi sorotan. Dengan usia yang terus bertambah, peluang tampil di Piala Dunia 2030 dipandang tidak lagi mudah.
Argentina juga diprediksi memasuki fase regenerasi. Sejumlah pemain senior seperti Gonzalo Montiel, Nicolás Tagliafico, Nicolás Otamendi, Rodrigo De Paul, dan Leandro Paredes kemungkinan besar tidak lagi menjadi bagian skuad pada edisi Piala Dunia berikutnya.
Di sisi lain, beberapa pemain muda mulai diproyeksikan menjadi tulang punggung baru Albiceleste. Valentín Barco dan Nico Paz disebut sebagai generasi penerus yang disiapkan sejak beberapa tahun terakhir.
Nico Paz bahkan dipandang sebagai sosok yang berpotensi menjadi pusat permainan Argentina di masa depan.
Meski sejauh ini masih sulit dipadukan dengan Messi karena memiliki karakter bermain yang serupa, pemain muda tersebut diyakini akan memegang peran penting dalam proses regenerasi tim.
Kini, Argentina menghadapi tantangan membangun kembali skuad yang mampu bersaing di level tertinggi. Terlepas dari keputusan Messi dan Scaloni mengenai masa depan mereka, kekalahan dari Spanyol menandai berakhirnya satu era dan dimulainya babak baru bagi Albiceleste. (saf/ipg)





Komentar (0)