Keberlangsungan hidup masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut menjadi fondasi utama dalam melestarikan ekonomi biru (blue economy). Memastikan keberhasilan jangka panjang tersebut, delegasi Uni Eropa (UE) melakukan kunjungan kerja selama tiga hari ke Provinsi Sulawesi Utara guna meninjau langsung hasil proyek pelestarian laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Kunjungan ini merupakan bagian dari evaluasi proyek kerja sama besar bertajuk "Marine Biodiversity and Support to Coastal Fisheries in the Coral Triangle", yang melibatkan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Uni Eropa, Bank Pembangunan Jerman (KfW), dan Wildlife Conservation Society (WCS).
Fokus peninjauan rombongan delegasi dipusatkan di Kabupaten Minahasa Utara, khususnya di kawasan pesisir Desa Gangga Dua dan Desa Bahoi. Proyek ini diketahui telah berjalan selama enam tahun.
Country Director WCS Indonesia, Noviar Andayani, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan agar para perwakilan negara sahabat dapat melihat langsung dampak nyata dari investasi lingkungan yang telah mereka salurkan.
"Para Dubes anggota negara Uni Eropa ingin melihat langsung hasil investasi mereka. Sebenarnya proyek ini diimplementasikan di dua provinsi, yaitu Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Namun, kunjungan kali ini difokuskan untuk melihat dampak positifnya di Provinsi Sulawesi Utara," ujar Noviar dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Senin 20 Juli 2026.
Baca Juga :
Uni Eropa Tinjau Lokasi Konservasi Kawasan Segitiga Terumbu Karang di Minahasa UtaraDialog dengan Garda Terdepan Konservasi Laut
Dalam lawatannya, delegasi yang dipimpin oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, meninjau langsung kawasan konservasi mangrove dan berdialog interaktif dengan para nelayan tradisional.
Sebagai garda terdepan pelestarian laut dan terumbu karang, nelayan setempat terus diimbau untuk menghentikan praktik destructive fishing seperti penggunaan bom ikan maupun penangkapan berlebih. Mereka juga didorong untuk mampu mengelola potensi kelautan secara swadaya.
"Fokus utama yang kami lakukan adalah mengelola wilayah pesisir bersama masyarakat setempat, supaya pengelolaan yang berkelanjutan ini bisa memberikan pemasukan lebih bagi mereka," tutur Denis Chaibi.
Selain menyapa nelayan, delegasi UE juga menggelar pertemuan strategis dengan tim Coral Triangle Initiative (CTI-CFF) di Kota Manado untuk merumuskan langkah konservasi terumbu karang jangka panjang di kawasan Asia Tenggara.
Apresiasi Sinergi Pemprov Sulut
Rangkaian kunjungan ditutup dengan jamuan tatap muka bersama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, serta kunjungan ke Galeri Dekranasda Sulut. Yulius menyampaikan rasa bangganya atas kehadiran perwakilan 12 negara anggota Uni Eropa tersebut, yang dinilainya sejalan dengan visi lingkungan pemerintah daerah.
"Apa yang kita lakukan selama ini tidak sia-sia. Kita selalu mengampanyekan langit biru, laut biru, dan daratan hijau. Ini tampaknya sangat didengar dan direspons positif karena Uni Eropa betul-betul melaksanakan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan di sini," tegas Yulius.
Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, NGO, dan lembaga donor ini sukses memantik apresiasi tinggi dari para delegasi. Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, Sharon Lennon, mengaku sangat tersentuh dengan semangat masyarakat pesisir Sulut.
"Hal paling berkesan dari program ini bukan cuma soal kerja keras atau dukungan dari gubernur dan LSM. Tapi, hal yang paling berkesan adalah adanya rasa optimis dan harapan dari semua orang untuk masa depan mereka," puji Sharon.
Program berkelanjutan ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif secara ekonomi dan ekologi bagi nelayan pesisir di masa yang akan datang.





Komentar (0)