Proyek Tanggul Laut Pantura Jateng Dimulai Oktober 2026, Ini Tantangannya

bisnis.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall di kawasan Pantai Utara (Pantura) ditargetkan mulai dibangun pada Oktober 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengusulkan Teluk Semarang sebagai lokasi prioritas sebelum proyek berlanjut ke pesisir Pekalongan dan Tegal.

Kepala Bappeda Jateng, Yusmanto, mengatakan hingga kini pihaknya belum menerima detail engineering design (DED) atau desain rancang bangun rinci dari Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ). Meski demikian, usulan pembangunan telah disampaikan dengan Teluk Semarang sebagai titik awal.

"Giant sea wall ini rencananya akan ground breaking perkiraan bulan Oktober. Itu saja konstruksinya bentuknya seperti apa, kemudian titiknya di mana, sejauh mana, ini juga kami belum dapat kepastian berapa kilometernya. Termasuk titiknya di mana," ujar Yusmanto kepada wartawan, Senin (20/7/2026).

Menurut Yusmanto, setelah pembangunan di Teluk Semarang, Bappeda mengusulkan proyek diteruskan ke kawasan pesisir Demak. Selanjutnya, prioritas pembangunan bergeser ke wilayah barat Pantura Jawa Tengah, yakni Pekalongan dan Tegal.

"Kalau Kendal dan Batang relatif aman karena sudah dibentengi kawasan ekonomi khusus. Mereka akan mempertahankan itu sehingga masyarakat sudah lebih aman. Prioritas berikutnya adalah Pekalongan, baik kabupaten maupun kota, kemudian Tegal," katanya.

Baca Juga

  • Tanggul Laut Tol Semarang-Demak Belum Optimal Tahan Rob, Menteri PU Bilang Begini
  • Merancang Proyek Tanggul Laut Jawa
  • KKP Siapkan Survei PSN Tanggul Laut Pantura, Begini Kondisinya

Ia menjelaskan, hingga kini aspek teknis pembangunan di Teluk Semarang masih dikaji. Salah satu tantangan utama adalah karakteristik dasar laut yang didominasi lumpur, bukan pasir.

"Mereka masih belajar juga dari proyek jalan tol Semarang-Demak yang katanya menggunakan jutaan batang bambu itu. Jadi itu kan diuruk, tapi masih menurun terus. Nah, ini jadi pelajaran untuk pembangunan giant sea wall-nya," imbuhnya.

Yusmanto mengungkapkan tanggul laut raksasa tersebut direncanakan dibangun sekitar 12 mil dari garis pantai. Jarak tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam proses konstruksi.

"Apakah konstruksinya pasir seperti yang ada di Dubai atau masif seperti bendungan batu atau nanti gabungan seperti yang dipakai untuk jalan tol, ini tiap daerah punya karakter masing-masing," ujarnya.

Selain tantangan konstruksi, proyek tersebut juga dihadapkan pada persoalan penurunan muka tanah di wilayah pesisir Jawa Tengah. Menurut Yusmanto, penurunan muka tanah di pesisir Semarang rata-rata mencapai 12 sentimeter per tahun.

Sementara itu, di wilayah Demak dan Pekalongan, laju penurunan tanah bahkan mencapai sekitar 16 sentimeter per tahun.

"Jadi tanahnya ambles, lautnya naik. Cuma yang paling parah di titik-titik mulai Tegal, Pekalongan, kemudian Semarang, dan Demak," jelas Yusmanto.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Burnham Langsung Telepon Trump Usai Resmi Jadi PM Inggris
• 9 jam lalu
0
thumb
Gotong Royong Bersih-Bersih Monumen Pahlawan TRIP
• 18 jam lalu
0
thumb
PLN Percepat Proyek SUTT 150 kV Palu 3-Tambu, Target Operasional Akhir 2026
• 8 jam lalu
0
thumb
Harga Daging Ayam di Pasar Sayur Magetan Naik, Pedagang Sebut Daya Beli Masyarakat Belum Pulih
• 16 jam lalu
0
thumb
Cuaca Jawa Timur Diprakirakan Cerah Hari Ini, Wilayah Perairan Berawan
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.