Kemenperin pacu transformasi digital industri farmasi lewat adopsi AI

antaranews.com
20 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakselerasi transformasi digital industri farmasi nasional melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing di tengah persaingan global.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, transformasi digital telah menjadi kebutuhan bagi industri nasional untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing global.

"Akselerasi transformasi digital dan adopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mendongkrak efisiensi dan daya saing global," ujar Menperin dalam keterangannya dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Upaya mengakselerasi transformasi digital tersebut dilakukan pihaknya melalui fasilitasi Proof of Concept (PoC) solusi industri 4.0 berbasis AI pada sektor farmasi yang menjadi salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Lebih lanjut, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Doddy Rahadi menyampaikan, selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia industri, pihaknya juga berkomitmen mempercepat penerapan teknologi digital secara nyata di lingkungan industri manufaktur.

"PIDI 4.0 memfasilitasi pelaksanaan Proof of Concept (PoC) sebagai sarana bagi perusahaan untuk menguji kelayakan suatu solusi digital dalam kondisi operasional yang sesungguhnya sebelum diimplementasikan dalam skala yang lebih luas," jelas Doddy.

Sebagai bentuk implementasi komitmen tersebut, selama April hingga Juni 2026 BPSDMI memfasilitasi pelaksanaan PoC System Invariant Analytics Technology (SIAT) yang dikembangkan PT NEC Indonesia bersama mitra lokal Bogor Technology.

Solusi tersebut diterapkan di PT Kalbe Farma Tbk dengan fokus pada sistem predictive maintenance berbasis AI dan pemantauan kondisi peralatan produksi secara real time.

Teknologi SIAT memanfaatkan AI dan machine learning untuk melakukan analisis prediktif terhadap kondisi mesin produksi. Dengan teknologi tersebut, potensi gangguan peralatan dapat dideteksi lebih dini sehingga perusahaan dapat mengurangi risiko downtime, meningkatkan keandalan aset, mengoptimalkan kegiatan pemeliharaan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Selain itu, pelaksanaan PoC juga mengevaluasi tingkat akurasi sistem, kemudahan integrasi dengan sistem yang telah dimiliki perusahaan, serta peluang pengembangan solusi pada tahap implementasi berikutnya.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Industri BPSDMI Kemenperin Ronggolawe Sahuri menilai kolaborasi antara pemerintah, industri pengguna, dan penyedia teknologi merupakan model sinergi yang efektif dalam mempercepat implementasi Industri 4.0 di Indonesia.



Baca juga: BKPM sampaikan perusahaan biofarmasi Jepang investasi Rp539 miliar

Baca juga: Kimia Farma perkuat produksi bahan baku obat dalam negeri

Baca juga: Phapros siapkan strategi atasi dampak kenaikan bahan baku obat


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Purbaya Sebut Pusat Finansial Internasional Percepat Ekonomi RI Tumbuh 8 Persen
• 1 jam lalu
0
thumb
Hotman Paris Bantah Tilep Angpao Pernikahan Anak, Fritz Hutapea Justru Bongkar Cerita Mengejutkan: Ngapain Bohong?
• 4 jam lalu
0
thumb
Melihat Lagi Pernyataan Eks Jampidsus Febrie dan Hotman soal Rumah Sentul-Emas
• 20 jam lalu
0
thumb
Mendagri Prihatin Bupati Lombok Barat Kena OTT KPK, Ingatkan soal Mawas Diri
• 16 jam lalu
0
thumb
BMKG: Sirkulasi siklonik Pasifik utara Papua picu hujan di Indonesia
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.