Menelusuri Jejak Kuliner Jawa di Serat Centhini, Ada Kuluban hingga Beras Kencur

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Apa yang dipelajari dalam Program Magister Sejarah Peradaban Islam? Bagi banyak orang, jawabannya mungkin berkisar pada sejarah politik atau teks-teks keagamaan. Tapi di UIN Sunan Kalijaga, cakupannya jauh lebih luas dari itu.

Kuluban, tempe, polo kependem, hingga beras kencur. Makanan-makanan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa itu ternyata sudah tercatat dalam sebuah naskah kuno lebih dari 200 tahun lalu, dan menjadi salah satu objek kajian di program ini.

Naskah itu adalah Serat Centhini, salah satu karya sastra Jawa terbesar yang ditulis pada awal abad ke-19. Di dalamnya, bukan hanya kisah perjalanan dan renungan spiritual yang tersimpan, melainkan juga gambaran rinci tentang kehidupan masyarakat Jawa pada masanya, termasuk apa yang mereka makan, kenakan, dan rayakan.

Dosen Magister Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Maharsi, menyebutkan setidaknya empat kelompok makanan yang dapat ditemukan dalam naskah tersebut.

"Yang pertama itu ada sayur-sayuran, kuluban, gudangan itu sudah ada di situ. Yang kedua itu karbohidrat sudah ada, polo kependem. Jadi makanan-makanan yang dipendem itu, talas, ubi-ubian. Terus yang ketiga itu protein fermentasi. Jadi tempe itu sudah jadi makanan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yang keempat itu minuman misalnya beras kencur itu sudah ada," jelasnya.

Temuan semacam ini menjadi salah satu alasan mengapa kajian naskah kuno terus dikembangkan. Bagi Prof. Maharsi, teks-teks lama bukan sekadar arsip masa lampau. Di dalamnya tersimpan informasi yang sangat konkret tentang bagaimana masyarakat Jawa menjalani kehidupan sehari-hari berabad-abad lalu.

Bersama Museum Sonobudoyo, Keraton Yogyakarta, dan Universitas Leipzig Jerman, ia terlibat dalam proyek digitalisasi naskah kuno, sebuah upaya untuk membuka kembali pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam lembaran-lembaran rapuh.

Dari naskah yang sama, catatan tentang estetika dan identitas sosial juga dapat ditelusuri. Salah satunya soal batik.

"Kalau yang kecantikan itu ada di Centini itu ada. Yang paling gampang yang kita temukan sampai sekarang masih itu ya batik. Jelas, batik parang rusak itu memang tidak diperbolehkan untuk masyarakat umum. Karena hanya kalangan bangsawan saja. Tetapi sekarang ini boleh digunakan tapi di luar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Keraton," kata Prof. Maharsi.

Naskah-naskah kuno, menurutnya, juga menjadi jendela untuk memahami berbagai upacara yang hingga kini masih dijalankan masyarakat Jawa. Melalui penelitian terhadap naskah dan tradisi yang masih berlangsung, Prof. Maharsi menelusuri bagaimana ritual-ritual itu dimaknai dan diwariskan dari generasi ke generasi.

"Jadi, setiap ada pergantian atau transisi dari satu masa ke masa yang lain itu mesti ada upacara. Orang Jawa dengan tradisi kalender Jawa Islam. Nah, karena limit maka dilakukan upacara. Salah satunya itu mubeng beteng," jelasnya.

Studi yang dijalankan di Program Magister Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga tidak terbatas pada sejarah politik atau teks keagamaan semata. Kajian tentang makanan, tradisi, identitas budaya, hingga ritual komunal menjadi bagian dari cara memahami bagaimana peradaban Islam tumbuh dan berakar di Nusantara.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polsek Kedunggalar Padamkan Kebakaran Lahan di Ngawi Sebelum Meluas
• 19 jam lalu
0
thumb
Menko Pangan percepat rampungkan Perpres terkait operasional KDKMP
• 18 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Akan Desain Ulang GBK: Gabungkan JCC, Hotel, dan Area Olahraga
• 12 jam lalu
0
thumb
Limbah Sawit Bisa Jadi Pupuk, Mengapa Masih Dibiarkan Menumpuk?
• 22 jam lalu
0
thumb
Hakim: Roy Suryo Salah Gunakan Praperadilan, Tunda Sidang Pokok Perkara
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.