JAKARTA, KOMPAS.TV - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi.
IHSG naik 21,95 poin atau 0,36 persen ke posisi 6.197,48 di tengah optimisme pelaku pasar menyambut musim rilis laporan keuangan emiten periode kuartal II-2026 dan semester I-2026.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah justru bergerak melemah terhadap dolar AS. Rupiah turun 56 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.977 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.921.
Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu sentimen eksternal yang menekan mata uang domestik.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin, mengatakan secara teknikal IHSG berpeluang menguji level 6.225 hingga 6.280 pada pekan ini.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Ini Faktor Penyebab Domestik dan Global - KOMPAS BISNIS
Menurut kajian Phintraco Sekuritas, secara historis dalam 10 tahun terakhir IHSG selalu mencatatkan penguatan pada Juli.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar pada periode tersebut adalah musim rilis laporan keuangan emiten untuk kuartal II dan semester I.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati kinerja keuangan emiten untuk melihat prospek perusahaan sekaligus menentukan arah pergerakan IHSG selanjutnya.
Selain kinerja emiten, pelaku pasar pada pekan ini juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Salah satu agenda yang menjadi perhatian utama adalah keputusan mengenai BI-Rate yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026).
Pasar juga akan mencermati data pertumbuhan kredit yang dijadwalkan dirilis pada hari yang sama. Selanjutnya, perhatian akan tertuju pada data M2 Money Supply yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis (23/7/2026).
Data M2 menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk melihat kondisi likuiditas perekonomian dan arah aktivitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas di Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS
Di tengah berbagai sentimen tersebut, kondisi pasar domestik mulai menunjukkan perbaikan. Salah satu indikatornya adalah investor asing yang mencatatkan net buy selama dua hari berturut-turut pada pekan sebelumnya.
Meski sentimen domestik mulai membaik, Ratna mengingatkan kenaikan harga minyak sebagai salah satu risiko yang perlu diwaspadai.
"Namun meningkatnya harga minyak menjadi risiko yang perlu diwaspadai karena berpengaruh terhadap prospek defisit APBN, inflasi, rupiah, serta suku bunga,” ujar Ratna, dikutip dari Antara.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV/Antara
- IHSG
- Rupiah melemah
- konflik AS Iran
- harga minyak dunia
- Rapat Dewan Gubernur BI
- BI Rate






Komentar (0)