Jakarta, VIVA – Kementerian ESDM melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, memproyeksi bahwa rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Juli 2026, akan berada di kisaran US$67–US$71 per barel.
“Realisasi harga akan bergantung pada perkembangan pasar dan situasi geopolitik global," kata Laode, Senin, 20 Juli 2026.
Dia menjelaskan, risiko yang masih perlu diperhatikan antara lain yakni soal kemungkinan eskalasi serangan baru antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang dapat mengganggu produksi minyak.
- Pixabay
Di sisi lain, peningkatan pasokan dari Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz, juga berpotensi kembali menekan harga. Laode menegaskan, pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala, guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik.
“Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujar Laode.
Pemerintah akan menjadikan perkembangan pasokan, permintaan, serta kondisi geopolitik, sebagai dasar pemantauan ICP pada periode berikutnya. Perubahan ketiga faktor tersebut akan menentukan arah harga minyak mentah Indonesia sepanjang Juli 2026.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Juni 2026 sebesar US$83,45 per barel, atau lebih rendah dibandingkan ICP Mei 2026 yang berada pada level US$106,56 per barel.
Penetapan ICP Juni tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.
Laode menyampaikan perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan harga ICP selama Juni 2026.
“Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni," ujarnya. (Ant).






Komentar (0)