JAKARTA, KOMPAS.com – Berdasarkan data dari Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, generasi Z (Gen Z) di Jakarta rata-rata mengeluarkan Rp 11.969.830 per bulan sepanjang 2025.
Menariknya, sebagian besar pengeluaran tersebut bukan digunakan untuk membeli makanan, melainkan untuk berbagai kebutuhan nonmakanan.
Data BPS DKI Jakarta menunjukkan, dari total pengeluaran tersebut, sebesar Rp 7.142.427 dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan. Sementara pengeluaran makanan tercatat Rp 4.827.403 per bulan.
Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, kebutuhan nonmakanan kini menjadi komponen pengeluaran terbesar generasi muda di ibu kota.
"Rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp 15.168.533 per bulan, sedangkan yang terendah berada di Kepulauan Seribu sebesar Rp 6.082.246 per bulan," kata Kadarmanto.
Baca juga: Pengeluaran Gen Z Jakarta Tembus Rp 11,9 Juta, PayLater Jadi Penolong atau Beban?
Untuk Apa Saja Pengeluaran Gen Z Jakarta?Menurut BPS, kelompok pengeluaran nonmakanan mencakup berbagai kebutuhan sehari-hari yang sulit dihindari oleh anak muda perkotaan.
Komponen tersebut antara lain biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, perlengkapan kerja, hingga pembelian barang elektronik dan kebutuhan penunjang aktivitas sehari-hari.
Besarnya porsi pengeluaran nonmakanan menunjukkan bahwa biaya hidup di Jakarta tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan pangan, tetapi juga oleh kebutuhan mobilitas, pendidikan, dan penunjang pekerjaan yang terus meningkat.
Baca juga: Dompet Terkuras hingga Nyawa Nyaris Hilang, Cerita Gen Z Tak Pernah Kapok Mendaki Gunung
Tantangan Ekonomi Anak Muda JakartaTingginya pengeluaran tersebut terjadi ketika sebagian generasi muda masih menghadapi tantangan di dunia kerja.
Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15-29 tahun di DKI Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 30-59 tahun yang sebesar 3,25 persen.
Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan lebih fluktuatif dibandingkan pekerja formal.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda harus mengatur arus kas dengan lebih hati-hati, terutama ketika kebutuhan datang lebih cepat dibandingkan pendapatan yang diterima.
Baca juga: Ferry Juliantono: Koperasi Ingin Menyasar Generasi Muda Milenial dan Gen Z
Mengapa PayLater Banyak Digunakan?Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai meningkatnya penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater di kalangan anak muda tidak lepas dari kombinasi faktor ekonomi dan kemudahan akses kredit digital.
Menurut Adrian, PayLater sering digunakan sebagai jembatan untuk memenuhi kebutuhan saat ini sebelum pendapatan diterima pada periode berikutnya.
"Mereka harus membayar transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. PayLater kemudian dipakai untuk menjembatani kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang baru diterima di masa depan," ujarnya.






Komentar (0)