Apa Hasil Penyaluran Likuiditas dari Pemerintah ke Perbankan?

kompas.id
19 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
  1. Mengapa pemerintah harus menggelontorkan likuiditas ke perbankan?
  2. Apa hasil yang sudah terlihat dari kebijakan tersebut?
  3. Mengapa kredit belum melonjak meski likuiditas bertambah?
  4. Siapa yang paling diuntungkan dari kebijakan ini?
  5. Apa yang menentukan keberhasilan kebijakan ke depan?
1. Mengapa pemerintah harus menggelontorkan likuiditas ke perbankan?

Sepanjang 2026, industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas yang semakin besar. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan melonjaknya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat bank harus menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi untuk menarik dana masyarakat.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya dana (cost of fund) meningkat. Apabila dibiarkan, bank berpotensi mengurangi penyaluran kredit atau menaikkan bunga pinjaman, yang pada akhirnya dapat memperlambat aktivitas ekonomi.

Pemerintah kemudian mengembalikan sekaligus menambah penempatan dana SAL hingga sekitar Rp 381 triliun di Himbara. Dana tersebut dimaksudkan sebagai bantalan likuiditas agar bank tetap memiliki ruang untuk menjalankan fungsi intermediasi.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa likuiditas dipandang sebagai salah satu faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ketika kebijakan moneter sedang mengetat.

Baca JugaSAL Kembali Ditempatkan ke Himbara hingga Rp 381 Triliun
2. Apa hasil yang sudah terlihat dari kebijakan tersebut?

Dampak yang paling cepat terlihat adalah meredanya tekanan likuiditas di perbankan. Tambahan dana pemerintah membantu bank memperoleh sumber pendanaan yang lebih stabil sehingga tekanan perebutan dana di pasar menjadi lebih ringan.

Beberapa bank masih mampu mempertahankan pertumbuhan kredit dan kualitas aset. BTN, misalnya, mencatat pertumbuhan kredit sekitar 11 persen dengan rasio kredit bermasalah yang tetap menurun.

Di sisi lain, OJK juga menilai kondisi likuiditas industri perbankan masih berada pada level yang sehat. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga masih jauh di atas ambang batas minimum sehingga risiko likuiditas dinilai tetap terkendali.

Namun, hasil tersebut lebih mencerminkan keberhasilan menjaga stabilitas sistem perbankan daripada keberhasilan mendorong ekspansi ekonomi.

Baca JugaUntung-Rugi Suntikan Dana SAL Rp 381 Triliun ke Perbankan
3. Mengapa kredit belum melonjak meski likuiditas bertambah?

Tambahan likuiditas tidak otomatis menghasilkan tambahan kredit. Keputusan menyalurkan pembiayaan tetap bergantung pada permintaan dari dunia usaha maupun rumah tangga.

Survei Bank Indonesia menunjukkan kegiatan usaha memang masih bertumbuh, tetapi laju ekspansinya mulai melambat. Kemampuan perusahaan mencetak laba juga menurun sehingga banyak pelaku usaha memilih menunda investasi.

Di sisi lain, bank juga semakin berhati-hati menyalurkan kredit. Dalam kondisi suku bunga tinggi, risiko gagal bayar meningkat sehingga kualitas kredit menjadi pertimbangan utama.

Akibatnya, tambahan likuiditas lebih banyak berfungsi menjaga kemampuan bank menyalurkan kredit daripada mendorong lonjakan pembiayaan baru.

Baca JugaTantangan Likuiditas Masih Membayangi Industri Perbankan
4. Siapa yang paling diuntungkan dari kebijakan ini?

Dalam jangka pendek, penerima manfaat terbesar adalah industri perbankan. Tambahan dana SAL membantu mengurangi tekanan biaya dana dan memberikan ruang yang lebih besar bagi bank untuk menjaga likuiditas.

Dunia usaha juga memperoleh manfaat karena bank tidak perlu menaikkan bunga kredit secara agresif. Hal ini membantu menjaga biaya pembiayaan investasi dan modal kerja tetap lebih terkendali.

Bagi masyarakat, dampaknya belum sepenuhnya terasa. Manfaat baru akan muncul apabila bank benar-benar memperluas penyaluran kredit untuk pembelian rumah, pembiayaan usaha, maupun konsumsi produktif.

Dengan demikian, manfaat kebijakan masih lebih banyak dirasakan di sisi stabilitas sistem keuangan dibandingkan aktivitas ekonomi masyarakat secara langsung.

Baca JugaTriwulan III-2026, Permintaan Kredit Korporasi Diperkirakan Menurun
5. Apa yang menentukan keberhasilan kebijakan ke depan?

Keberhasilan kebijakan tidak ditentukan oleh besarnya dana yang ditempatkan pemerintah, tetapi oleh kemampuan dana tersebut mengalir ke sektor produktif.

Apabila tambahan likuiditas hanya memperkuat neraca bank atau mengendap dalam instrumen keuangan, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan terbatas. Sebaliknya, apabila dana digunakan untuk membiayai investasi, UMKM, manufaktur, dan sektor padat karya, manfaatnya akan jauh lebih besar.

Pada saat yang sama, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK menjadi faktor penting. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga tanpa menghambat pertumbuhan kredit.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah berapa triliun rupiah yang digelontorkan pemerintah, melainkan seberapa besar dana tersebut mampu menciptakan investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca JugaSilang Pendapat Otoritas soal Likuiditas

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ferran persembahkan gol juara untuk 47 juta rakyat Spanyol
• 23 jam lalu
0
thumb
Gawat! Iran Tewaskan 2 Tentara AS di Yordania, Washington Dikabarkan Siap Gempur Iran Habis-habisan
• 16 jam lalu
0
thumb
Prabowo Akui Baru Sadar Besarnya Masalah Indonesia Setelah Menjabat Presiden: Saya Sendiri Tak Menduga
• 15 jam lalu
0
thumb
Ledakan Misterius Hancurkan 7 Rumah Mewah di Medan
• 6 jam lalu
0
thumb
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Tiba di Markas KPK
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.