KUPANG, KOMPAS - Konflik yang dilatarbelakangi sengketa lahan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur tak kunjung padam. Tiga orang tewas, puluhan orang terluka, dan puluhan rumah dibakar. Penyelesaian konflik seakan menemukan jalan buntu sehingga "adu darah" pun terus berlanjut.
Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra, Senin (20/7/2026), mengatakan, saling serang antara dua kelompok masyarakat itu sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Setelah reda, akhir pekan lalu terulang kembali hingga jatuh korban jiwa.
Menurutnya, polisi sudah berulang kali mendatangi kedua belah pihak untuk meminta agar dilakukan perdamaian. Perwakilan keduanya pun memberi sinyal untuk menghentikan pertikaian. "Ditandai dengan mereka datang dan menyerah senjata kepada kami," kata Henry. Total senjata api rakitan sekitar 900 pucuk dimusnahkan polisi.
Bantuan personel Brimob Polda NTT dibantu TNI sempat membangun pos di perbatasan kedua desa. Setelah penyerahan senjata itu, beberapa anggota sempat ditarik mundur. Pengamanan lebih diintensifkan dengan pendekatan kepada tokoh-tokoh penting di kedua belah pihak.
"Dalam berbagai kesempatan, anggota kami di lapangan selalu mengingatkan untuk mari menjaga kedamaian, saling mengasihi satu dengan yang lain. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah melainkan menambah masalah baru dan dendam di kemudian hari," katanya.
Sebagaimana rekaman video yang diperoleh Kompas, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen dan Wakilnya Ignasius Boli Uran juga berulang kali mengajak kedua belah pihak untuk berdamai. Pekan lalu, sempat digelar pertemuan untuk menghadirkan pihak yang bertikai. Tak lama berselang, saling serang kembali terjadi.
Serial Artikel
Teater Damai dari Pulau Pembunuh
Perempuan Adonara yang trauma akan perang bangkit mengampanyekan pesan damai lewat teater. Pesan damai di Adonara, pulau yang oleh antropolog Eropa disebut pulaunya para pembunuh.
Sejumlah warga Adonara yang dihubungi secara terpisah menyesalkan terjadinya kekerasan yang sampai berimbas pada jatuhnya korban jiwa. "Apa yang dibanggakan dengan menghabisi nyawa orang? Apa yang mau kita wariskan ke anak cucu?" ujar Ansel Demon, warga setempat.
Menurut dia, saling serang kedua belah pihak itu juga merugikan masyarakat Adonara pada umumnya. Warga enggan melintasi jalur tersebut karena khawatir ikut menjadi korban. Kegiatan ekonomi, layanan pendidikan, maupun kesehatan lumpuh.
Ia pesimistis penyelesaian konflik akan tuntas dalam waktu dekat. Berkaca pada sejumlah konflik di Adonara yang dilatarbelakangi sengketa lahan, itu sering kali berhenti dengan sendirinya. "Kalau mencari siapa yang salah dan benar, itu malah memperuncing keadaan," katanya.
Menurutnya, kejadian itu membuat orang akan terus melihat Adonara sebagai daerah yang rawan konflik dan pembunuhan. Kesan semacam itu sudah lama tertanam, dan sulit hilang. Bahkan ada yang memelesetkan Adonara sebagai adu darah. Hal itu tak dapat diterima.
Pandangan orang mengenai Adonara yang terkesan seram sebagaimana catatan antropolog Eropa, Ernst Vatter. Dalam bukunya yang berjudul Ata Kiwan, Ernst menyebutkan bahwa Adonara adalah pulaunya para pembunuh. Ernst menemukan hal itu saat melakukan penelitian di sana pada tahun 1930-an.
Kala itu, di Larantuka yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Flores Timur, Ernst menemukan banyak narapidana kasus pembunuhan yang datang menjalani persidangan di pengadilan setempat. Para terdakwa membunuh dalam kasus sengketa lahan.
Bagi masyarakat Adonara, sejengkal tanah akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Ada anggapan bahwa perang adalah cara untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Kebenaran berada pada pihak yang menang.
Serial Artikel
Ayah di Adonara Diduga Membunuh Anak Kandung pada Malam Natal
Seorang ayah diduga membunuh anak kandung di Adonara, Flores Timur, NTT. Namun, polisi belum menetapkan tersangka.






Komentar (0)