Soroti SiLPA Rp401 Miliar, DPRD Pertanyakan Kinerja OPD, Ini Jawaban Strategis Wali Kota Kediri

beritajatim.com
1 hari lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita

Kediri (beritajatim.com) – Agenda Rapat Paripurna DPRD Kota Kediri dengan agenda Pandangan Umum Fraksi-Fraksi atas Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD TA 2025 beberapa waktu lalu menjadi panggung evaluasi kritis bagi jalannya roda pemerintahan. Fokus utama sorotan legislatif tertuju pada angka Rp401 miliar yang menjadi sisa anggaran tak terserap sepanjang tahun lalu.

Dua fraksi besar, yakni Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai NasDem, secara bergantian cecar performa jajaran dinas di Pemkot Kediri yang dinilai kurang agresif dalam mengeksekusi anggaran belanja, terutama sektor belanja modal dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah.

Kritik Tajam Legislatif: Pertanyakan Visi ‘Maju dan Produktif’

Juru bicara Fraksi PAN, Ricky Dio Febrian, S.H., M.H., yang akrab disapa Mas Dio, menyampaikan konklusi menohok saat membacakan pandangan umum fraksinya. Menurut PAN, besaran angka Rp401 miliar tersebut menjadi rapor merah yang menunjukkan bahwa koordinasi dan ritme kerja OPD tidak berjalan dengan baik.

“SiLPA sebesar 400 miliar lebih ini menunjukkan bahwa semua OPD tidak bisa bekerja dengan baik. Kami mencermati ini bukan karena penghematan atau efisiensi yang terukur, melainkan karena ada program atau kegiatan yang disengaja untuk tidak dilaksanakan. Apakah program-program tersebut tidak ada petunjuk teknis (juknis) eksekusinya?” sergah Mas Dio.

Fraksi PAN juga mempertanyakan dampaknya pada sektor riil mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi Kota Tahu. Mereka menilai riak pemberdayaan ekonomi belum dirasakan secara masif di tingkat akar rumput, sehingga mempertanyakan jargon visi-misi “Maju dan Produktif” yang kerap didengungkan.

Nada serupa ditiupkan oleh Fraksi Partai NasDem melalui anggotanya, Hj. Siti Maimunah, S.Pd. NasDem membeberkan data kuantitatif di mana realisasi belanja daerah TA 2025 baru menyentuh angka Rp1,23 triliun atau setara 83,1 persen dari total pagu anggaran.

NasDem secara resmi meminta penjelasan tertulis dari Wali Kota mengenai formula strategis apa yang akan diambil untuk membenahi kualitas perencanaan anggaran di musim-musim berikutnya agar angka SiLPA dapat ditekan secara signifikan.

Jawaban Wali Kota Vinanda: Bedah Anatomi SiLPA Rp401 Miliar

Merespons rentetan pertanyaan tersebut, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H, M.Kn., memberikan jawaban taktis dan sistematis. Perempuan yang akrab disapa Mbak Wali ini menolak anggapan bahwa jajarannya sengaja menelantarkan program kerja.

Ia membedah bahwa akumulasi Rp401 miliar tersebut setidaknya dibentuk oleh tiga faktor utama:

Melampaui Target Pendapatan: Adanya realisasi pendapatan daerah yang justru tumbuh positif dan melebihi target proyeksi awal.

Menunggu Kepastian Hukum: Terdapat sejumlah paket kegiatan strategis yang terpaksa belum bisa dieksekusi demi kepatuhan regulasi, lantaran harus menunggu kejelasan hukum atau kebijakan dari tingkat atas agar tidak memicu masalah di kemudian hari.

Efisiensi Terukur: Terjadinya efisiensi dan efektivitas belanja dalam proses pengadaan barang dan jasa tanpa mengurangi volume maupun mutu output yang ditargetkan.

Mbak Wali juga menegaskan bahwa seluruh program pembangunan yang telah dirancang sebenarnya telah mengantongi dasar aturan hukum serta petunjuk teknis (juknis) yang matang sebagai landasan operasional OPD.

Menjawab Raguan: Bukti Otentik Pemberdayaan Ekonomi Kreatif

Menepis keraguan fraksi mengenai minimnya atensi pada sektor ekonomi bawah, Wali Kota Vinanda membeberkan sejumlah program penguatan kapasitas yang dilakukan secara kontinu sepanjang tahun anggaran.

“Pemkot Kediri telah menggulirkan program pelatihan terintegrasi, bimbingan teknis (bimtek), workshop, hingga pendampingan terfokus bagi para pelaku UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM),” tegas Mbak Wali.

Intervensi hilir yang dilakukan mencakup spektrum luas, mulai dari peningkatan keterampilan kerja, literasi digitalisasi usaha, manajemen keamanan pangan, fasilitasi sertifikasi halal gratis, pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), hingga penguatan kelembagaan IKM agar memiliki daya saing produk yang tinggi.

Tak sekadar memberikan pelatihan di kelas, Pemkot Kediri juga membuka keran pasar baru bagi produk lokal melalui skema kemitraan formal dan promosi skala besar:

Kemitraan Toko Modern: Pemkot sukses memfasilitasi jalinan kemitraan pemasaran bagi 78 IKM lokal untuk bisa menembus dan memajang produknya di 16 jaringan toko modern serta pusat perbelanjaan strategis.

Etalase Promosi Tahunan: Ekspansi pasar produk unggulan daerah terus digenjot lewat keikutsertaan dalam pameran berkala, seperti pada momen HUT KORPRI, Kediri Financial Festival, Karya Kreatif Mataraman, Kediri City Expo, hingga pameran dagang tingkat nasional.

Melalui langkah-langkah penetrasi pasar tersebut, Pemkot Kediri optimistis produk-produk lokal memiliki peluang pasar yang semakin luas guna menstimulasi penyerapan lapangan kerja baru di Kota Kediri. [nm/ted]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lionel Messi ungkap kekecewaan Argentina gagal pertahankan Piala Dunia
• 54 menit lalu
0
thumb
IHSG Menguat Seiring Pasar Sambut Rilis Laporan Keuangan Semester I
• 23 jam lalu
0
thumb
Sindiran Pedas Frank Alexander Usai Hotman Paris jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
• 18 jam lalu
0
thumb
Trump Bikin Momen Juara Spanyol Berubah Canggung, Ogah Turun dari Podium saat Trofi Piala Dunia Diangkat
• 18 jam lalu
0
thumb
Ustaz Maulana Ungkap Sudah Dikontrak Stasiun TV 30 Tahun, Langsung Ditawari Sosok Ini
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.