HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Perjalanan karier Pau Cubarsi dalam tiga tahun terakhir layak disebut sebagai salah satu kisah paling menginspirasi di dunia sepak bola. Tiga tahun lalu, bek muda itu masih tampil di Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia dengan bermain di Stadion Manahan, Solo, dan Jakarta International Stadium. Kini, ia menjadi pilar utama yang mengantar Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026.
Pada final yang berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, Spanyol mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu.
Di balik kemenangan dramatis tersebut, penampilan Pau Cubarsi menjadi salah satu sorotan utama. Bek berusia 19 tahun itu tampil disiplin mengawal lini pertahanan La Furia Roja dan sukses meredam pergerakan Lionel Messi sepanjang pertandingan.
Messi, yang menjadi tumpuan Argentina, nyaris tak memperoleh ruang untuk mengembangkan permainan. Bersama Aymeric Laporte, Cubarsi membuat lini depan La Albiceleste frustrasi hingga Argentina bahkan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang waktu normal.
Dari Manahan ke Panggung Dunia
Nama Pau Cubarsi mulai dikenal publik internasional ketika membela Spanyol pada Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia.
Bek kelahiran 22 Januari 2007 itu tampil di Stadion Manahan, Solo, dan Jakarta International Stadium. Saat itu Spanyol harus mengakhiri langkah di babak perempat final setelah kalah tipis 0-1 dari Jerman.
Dalam laga tersebut, Cubarsi bahkan sempat menjadi kiper dadakan pada menit-menit akhir setelah timnya kehabisan pergantian pemain.
Turnamen itu juga mempertemukannya dengan Timnas U-17 Indonesia yang diperkuat Arkhan Kaka dan rekan-rekannya di bawah arahan Bima Sakti.
Melonjak Bersama Barcelona
Sepulang dari Indonesia, karier Cubarsi berkembang sangat cepat.
Produk akademi La Masia itu segera menembus skuad utama Barcelona. Pada Januari 2024, hanya dua bulan setelah tampil di Piala Dunia U-17, ia melakoni debut bersama tim senior di bawah pelatih Xavi Hernandez.
Penampilannya yang matang membuatnya langsung mendapat panggilan ke Timnas Spanyol senior pada Maret 2024.
Meski gagal masuk skuad juara Euro 2024, Cubarsi terus berkembang hingga akhirnya menjadi pilihan utama Luis de la Fuente pada Piala Dunia 2026.
Tembok Kokoh La Furia Roja
Sepanjang turnamen, duet Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte menjadi fondasi utama keberhasilan Spanyol.
Sebelum partai final, keduanya membawa Spanyol mencatatkan enam clean sheet dan hanya sekali kebobolan.
Di final, mereka kembali menunjukkan kualitas dengan mematikan lini serang Argentina yang diperkuat Lionel Messi dan Julian Alvarez.
Argentina dipaksa bermain di bawah tekanan hampir sepanjang pertandingan dan kesulitan menciptakan peluang berarti.
Mimpi Masa Kecil Jadi Kenyataan
Menjelang final, Cubarsi mengaku pertandingan melawan Lionel Messi merupakan mimpi yang telah ia nantikan sejak kecil.
“Anda tahu apa yang akan dia lakukan, tetapi sangat sulit menghentikannya,” ujar Cubarsi sebelum laga.
Ia juga menyebut tampil di final Piala Dunia merupakan impian terbesar dalam kariernya.
Kini mimpi itu telah menjadi kenyataan.
Jika pada Piala Dunia 2010 Spanyol memiliki Gerard Pique sebagai benteng pertahanan saat meraih gelar juara, maka pada edisi 2026 muncul generasi baru dari La Masia. Pau Cubarsi tidak hanya mampu meredam Lionel Messi di laga terbesar dunia, tetapi juga mengangkat trofi Piala Dunia di usia yang baru menginjak 19 tahun.
Perjalanan dari Stadion Manahan di Solo hingga podium juara dunia menjadi bukti betapa cepatnya perkembangan salah satu bek muda terbaik yang dimiliki Spanyol saat ini.






Komentar (0)