Indung Bandung Ngariung, Saatnya Para Ibu Bersuara di Ruang Publik

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Aksi turun ke jalan oleh puluhan ibu di Taman Cibeunying, Kota Bandung, Jawa Barat, menandai lahirnya komunitas Indung Bandung Ngariung. Dalam aksi perdananya, mereka mendesak penghentian program Makan Bergizi Gratis yang dinilai sarat masalah dan boros sehingga berdampak pada anggaran pendidikan bagi masyarakat.

Minggu pagi (19/7/2026), suasana di Taman Cibeunying, Kota Bandung, tetap ramai seperti akhir pekan pada umumnya. Sejumlah warga menikmati aneka kuliner, sedangkan sebagian lainnya berolahraga dan menghabiskan waktu bersama keluarga di kawasan seluas 2.000 meter persegi itu.

Di salah satu sudut taman, tampak puluhan ibu rumah tangga telah berkumpul di sebuah lapangan. Mereka merupakan  anggota komunitas Indung Nyariung Bandung (IBN) yang baru saja terbentuk pertengahan tahun ini.

IBN hadir sebagai ruang bagi para ibu untuk menyuarakan aspirasi, berdiskusi, dan  mengawal kebijakan publik yang dinilai  berdampak langsung pada kehidupan keluarga.  Minggu itu, komunitas tersebut mengelar aksi perdananya di Taman Cibeunying.

Sebelum memulai aksi, para ibu menyiapkan poster berisi berbagai pesan. Sebagian di antaranya menyampaikan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan sejak awal 2025 lalu. Sementara poster lainnya menyoroti isu korupsi dan ketimpangan sosial.

Baca JugaSejak 2025, Sebanyak 33.626 Pelajar Jadi Korban Keracunan MBG

Setelah seluruh poster selesai dibuat, mereka menggelar aksi silent protest atau protes dalam diam. Para ibu berjalan dalam satu barisan mengelilingi jalan umum di Taman Cibeunying dan tanpa berorasi. Selama aksi berlangsung, mereka mengangkat poster berisi berbagai pesan dan tuntutan.

Usai aksi, kegiatan berlanjut dengan diskusi terbuka. Mereka membuka ruang diskusi yang bersifat inklusif dan ramah keluarga. Para ibu  berdialog mengenai kebijakan publik dan dampak yang mereka rasakan.

Pada kegiatan ini, IBN juga membuka Titik Sambat WNI sebagai ruang partisipatif bagi warga menyampaikan pandangan dan keresahan mereka terhadap kondisi sosial dan kebijakan publik.

Sementara itu, anak-anak dapat bermain, membaca, dan mengikuti aktivitas kreatif bersama komunitas Sekolah Taman. Komunitas fokus pada pengembangan literasi anak-anak ini turut bersinergi dengan IBN dalam kegiatan pada hari itu.

Salah seorang anggota IBN berinisial H berprofesi sebagai tenaga pendidik.  Dalam diskusi itu, perempuan berusia 31 tahun ini mengungkapkan, sekolahnya telah menghentikan program MBG karena mayoritas tidak dikonsumsi para siswa. Selain itu, sejumlah kuliner yang hendak dikonsumsi para siswa dalam kondisi yang telah berbau.

“50 persen dari 140 siswa kami tidak mau mengonsumsi MBG sehingga memicu limbah makanan dalam jumlah banyak. Akhirnya kami memutuskan tidak lagi melaksanakan MBG pada tahun ajaran baru,” tutur H.  

Sebuah keresahan

Kehadiran IBN datang dari sebuah keresahan para ibu saat membaca berita tentang berbagai masalah di balik pelaksanaan MBG. Masalah tersebut antara lain kasus keracunan yang dialami para pelajar, ibu dan balitanya hingga kasus dugaan korupsi yang menjerat tiga pimpinan Badan Gizi Nasional.

Sebanyak 33.626 pelajar di Indonesia yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Temuan ini berdasarkan hasil monitoring Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) sejak awal tahun 2025 hingga April 2026.

Jabar menjadi provinsi dengan jumlah korban keracunan MBG tertinggi pada 2025 mencapai 24,34 persen. Hasil monitoring JPPI bersumber dari catatan medis puskesmas, RSUD, dan rilis resmi dinas kesehatan di tiap wilayah terdampak.

“Sebagai seorang ibu, ketika anaknya sakit demam saja sudah sangat khawatir. Apalagi kasus keracunan makanan yang bisa mengancam nyawanya,” ujar Susan Angelika, salah seorang inisiator IBN.

Para inisiator IBN juga terinspirasi ketika melihat gerakan para ibu rumah tangga beraksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 18 Juni 2026. Aksi ini viral dan menjadi perbincangan warganet di media sosial, Thread.

Susan kemudian menyuarakan di akun thread miliknya agar para ibu di Bandung juga melakukan aksi serupa. Postingannya mendapatkan respon positif dari para ibu. Kemudian ia dan sejumlah inisiator IBN bertemu pada 20 Juni 2026 dan beberapa kali pertemuan via daring.

“Kami bukan ahli politik, namun ternyata jarak dari DPR ke dapur itu tidak sejauh itu. Ketika setiap kebijakan yang disahkan tidak pro rakyat, maka ibu-ibulah yang pertama merasakan dampaknya. Karena itu, kami berhak bersuara,” ujar Susan.

Tiah, selaku inisiatior IBN lainnya menambahkan, gerakan komunitas Indung Bandung Ngariung tak hanya sekadar mendorong kebijakan yang lebih baik. Komunitas ini sebagai wadah untuk memperkuat sikap kritis khususnya di kalangan para ibu.

“Kami memilih ruang publik untuk menyampaikan pendapat yang bisa diakses siapa pun. Pada saat bersamaan, kami juga akan mengedukasi semakin banyak masyarakat,” tuturnya.

Baca JugaMBG, Lanjut atau Berhenti?

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Suhu Malam Makin Panas, Perubahan Iklim Rampas Waktu Tidur Masyarakat Dunia
• 21 jam lalu
0
thumb
Wamenag Sebut Materi Mencegah Penyebaran Budaya LGBT Disiapkan untuk Siswa SD
• 13 jam lalu
0
thumb
Ledakan Terjadi di Perumahan Elite Grand Polonia Medan, Rumah Hancur
• 14 jam lalu
0
thumb
Menkeu Purbaya Sebut Anggaran MBG Berpeluang Turun
• 8 jam lalu
0
thumb
TEGAS! Prabowo Targetkan Pemerintahan Digital Kelas Dunia, Singgung Isi Buku Soal 108 Masalah Kronis
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.