Mengontrol "Ledakan" Kucing Jalanan Demi Kesejahteraan Hewan Kesayangan

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Kucing termasuk salah satu hewan kesayangan. Polah tingkahnya lucu hingga menggemaskan. Namun, populasi yang tak terkontrol bikin masalah, seperti kucing terlantar atau liar, keluhan bau kotoran bahkan sumber penyakit.

Keberadaan kucing liar ini sudah menjadi pemandangan umum. Mereka ada di banyak tempat, mulai dari sudut kota sampai permukiman.

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta mencatat populasi kucing berpemilik sebanyak 111.750 ekor pada 2025. Sementara kucing liar mencapai tujuh kali lipatnya.

Kucing juga tergolong produktif. Dalam setahun, hewan ini bisa beranak hingga tiga kali. Sekali beranak, lahir 3-4 ekor kucing.

Program pengendalian populasi pun sangat krusial. Salah satunya ialah sterilisasi massal. Bahkan, terkini ada mobil klinik hewan keliling untuk mendekatkan layanan kesehatan hewan kepada warga.

Head of Operations Let's Adopt Indonesia Carolina Fajar mengatakan, upaya yang berjalan di Jakarta sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik dalam beberapa tahun terakhir. Pemprov Jakarta mulai lebih serius, baik dari sisi kesehatan masyarakat maupun kesejahteraan hewan.

"Namun, tantangan di lapangan memang masih besar. Jumlah kucing liar diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan kucing berpemilik sehingga upaya pengendalian populasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak," ujar Carolina secara terpisah pada Minggu (19/7/2026).

Kombinasi program

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan hewan. Ada komunitas, dokter hewan, lembaga swadaya, dan warga yang harus dilibatkan.

Carolina mengatakan, program-program dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta merupakan langkah positif. Namun, tidak otomatis langsung menjamin kesejahteraan hewan.

Sterilisasi, misalnya, penting untuk mencegah ledakan populasi, mengurangi risiko penyakit, dan menekan jumlah anak kucing yang lahir tanpa ada yang merawat.

Kehadiran mobil klinik hewan keliling juga membantu memperluas akses layanan kesehatan hewan. Warga lebih mudah mengakses layanan dengan harga terjangkau.

"Kesejahteraan hewan tidak hanya soal jumlah sterilisasi. Yang juga penting adalah edukasi kepada pemilik hewan agar tidak menelantarkan peliharaannya, pengawasan terhadap praktik pemberian makan di ruang publik, serta pendataan populasi yang lebih akurat," tutur Carolina.

Baca JugaSi Meong ”Kuro” dan ”Rere” Tak Cukup Dielus, Mereka Butuh Akses Kesehatan
Baca JugaSterilisasi Menyejahterakan Si Meong

Hal ini penting sebab apa yang telah dilakukan tidak akan optimal selama masih banyak hewan peliharaan yang dibuang atau dibiarkan berkembang biak tanpa kontrol.

Carolina menuturkan, sterilisasi harus dilakukan secara masif dan tepat sasaran, terutama pada wilayah dengan populasi kucing yang tinggi seperti pasar, pelabuhan, fasilitas sosial dan fasilitas umum, serta permukiman padat. Kemudian, edukasi tentang kepemilikan hewan yang bertanggung jawab karena banyak kucing jalanan berasal dari hewan peliharaan yang tidak disterilkan atau ditelantarkan.

"Pengendalian populasi tidak akan berhasil kalau hanya dilakukan oleh pemerintah. Perlu kerja sama dengan komunitas, lembaga swadaya, dokter hewan, hingga warga sekitar. Untuk Jakarta ini sudah dilakukan, tetapi masih banyak kota lain yang belum melakukan," kata Carolina.

Kombinasi sterilisasi, edukasi, dan kolaborasi pada akhirnya bukan sekadar mengurangi jumlah kucing di jalanan. Akan tetapi, memastikan mereka bisa hidup lebih sehat dan sejahtera, sekaligus menciptakan lingkungan yang nyaman bagi masyarakat.

Kesejahteraan hewan

Soal kesejahteraan hewan tak cukup hanya dengan memastikan mereka sehat. Kemudahan akses layanan kesehatan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, serta peran aktif masyarakat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Kepala Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta, Dian Ariesiana Widiastuti mengatakan, kesehatan hewan sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Pemilik hewan bertanggung jawab memastikan hewan kesayangannya berada dalam kondisi sehat serta bebas dari penyakit, termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kesejahteraan hewan juga harus menjadi perhatian lantaran mereka wajib terbebas dari rasa takut, penyakit, rasa sakit, maupun kondisi lain yang dapat mengganggu kesehatannya.

Sebagai upaya terkini, mobil klinik hewan keliling yang dilengkapi berbagai fasilitas medis modern beroperasi sejak 10 Juli 2026 di lima wilayah administratif. Selain melayani pemeriksaan kesehatan dan diagnosis, juga dilengkapi fasilitas laboratorium serta ultrasonografi (USG) untuk mendukung penegakan diagnosis secara lebih akurat.

Layanan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi hewan peliharaan seperti anjing, kucing, musang, dan burung. Namun, juga dapat dimanfaatkan untuk hewan ternak, seperti kambing dan sapi.

Dian mengatakan, dokter hewan dan paramedik veteriner yang bertugas akan terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya secara berkala agar mampu menangani berbagai jenis hewan dengan pelayanan yang optimal. Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan tersebut, dapat mendatangi lokasi pelayanan yang diumumkan melalui kanal resmi.

"Pemilik hewan harus memastikan hewan yang dibawanya dalam kondisi aman dan terkendali. Misalkan kalau kucing dibawa dengan pet carrier atau kandangnya. Kalau memang sudah ada riwayat kesehatannya yang lengkap, dalam hal ini buku vaksinasinya, bisa dibawa," ucap Dian.

Baca JugaKesejahteraan Hewan Telantar Tanggung Jawab Kita Bersama
Baca JugaHewan Kesayangan Bukan ”Mainan”

Mobil klinik hewan keliling ini merupakan program yang sejak lama didorong oleh anggota Komisi B DPRD Jakarta, Francine Widjojo, bersama Fraksi Partai Solidaritas Indonesia. Usulan tersebut disampaikan melalui Komisi B DPRD Jakarta sebelum direalisasikan oleh Pemprov Jakarta.

Francine berharap layanan tersebut dapat mempermudah masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan hewan dengan biaya yang lebih terjangkau. Selain mobil klinik hewan keliling, kuota sterilisasi kucing gratis di Jakarta juga ditingkatkan dari 9.000 kucing pada 2024 menjadi 21.000 kucing pada tahun 2025 dan 23.000 kucing pada 2026 ini.

Legislatif juga masih mengupayakan sejumlah program peningkatan kesejahteraan hewan untuk terealisasi tahun ini. Di antaranya peningkatan Puskeswan Ragunan menjadi rumah sakit hewan pertama milik Pemprov Jakarta yang menyediakan layanan gawat darurat 24 jam, penambahan enam puskeswan baru, serta penyediaan vaksin tetanus gratis bagi kuda pekerja delman.

“Kami masih menunggu upgrade-nya. Seluruhnya sudah dijadwalkan terlaksana tahun 2026,” tutur Francine.

Tiana (27), warga Jakarta Selatan, berharap mobil klinik hewan keliling menjadi awal dari penguatan sistem perlindungan dan kesejahteraan hewan. Namun, perluasan layanan kesehatan tidak terbatas pada hewan peliharaan.

Ada banyak hewan terlantar. Kesejahteraan mereka harus diperhatikan melalui sterilisasi, vaksinasi, penyelamatan, serta kolaborasi yang lebih erat dengan komunitas penyayang hewan.

"Banyak hewan yang selama ini belum memiliki perlindungan. Ini menjadi kepedulian bersama," ujar Tiana pada Minggu.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Nilai Ekspor Album K-Pop Melonjak 125 Persen, AS Jadi Pasar Terbesar
• 16 jam lalu
0
thumb
Sosialisme Demokrat Warisan Roosevelt Bangkit di AS, Zohran Mamdani Bilang Begini
• 12 jam lalu
0
thumb
CENTCOM sebut dua anggota militer AS tewas di Yordania
• 14 jam lalu
0
thumb
Peringatan 30 Tahun Kudatuli, Vedi Hadiz Soroti Oligarki dan Masa Depan Reformasi
• 22 jam lalu
0
thumb
Pengamat: AS Ingin Kuasai Selat Hormuz dan Lumpuhkan Kekuatan Militer Iran
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.