Penguatan Peran Media Menangkal Hoaks dan Menjaga Ketahanan Informasi

viva.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Penguatan peran media dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga ketahanan informasi nasional di tengah meningkatnya ancaman hoaks dan disinformasi di ruang digital. Di era perkembangan teknologi informasi, penyebaran informasi manipulatif berlangsung semakin cepat sehingga membutuhkan sinergi pemerintah, media, platform digital, dan masyarakat.

Anggota Komisi I DPR RI, Imron Amin, mengatakan ancaman terhadap Indonesia saat ini tidak hanya berbentuk agresi fisik, tetapi juga perang informasi yang memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi opini publik dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Baca Juga :
Platform Media dan Ruang Digital Tuntut Gaya Responsif-Humanis dari Jubir Pemerintah
Mengungkap Sisi Gelap Media Korea Selatan

"Di era digital saat ini, pertahanan negara tidak hanya berbicara tentang kekuatan alutsista dan kesiapan prajurit. Ketahanan informasi juga menjadi benteng strategis untuk menjaga persatuan bangsa serta melindungi kepercayaan publik terhadap institusi negara," kata Imron dalam keterangannya, Minggu, 19 Juli 2026.

Menurut dia, penyebaran hoaks dan disinformasi telah berkembang menjadi ancaman nonmiliter yang harus diantisipasi secara serius. Ia menilai berbagai narasi yang tidak akurat berpotensi memicu polarisasi sosial, mengganggu stabilitas nasional, hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Imron menegaskan media memiliki peran penting dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, penyampaian informasi mengenai berbagai kebijakan dan capaian pemerintah perlu dilakukan secara luas agar tidak mudah terdistorsi oleh narasi yang menyesatkan.

"Pencapaian dan berbagai program pemerintah perlu disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak hanya disuguhi berbagai informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," ujarnya.

Senada, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Molly Prabawaty, mengatakan perkembangan AI menghadirkan tantangan baru karena memungkinkan produksi serta penyebaran konten manipulatif berlangsung lebih cepat, lebih masif, dan semakin sulit dikenali masyarakat.

"Karena itu diperlukan respons yang lebih komprehensif dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan," jelasnya.

Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah untuk menjaga integritas informasi di ruang digital. Upaya tersebut meliputi penyusunan pedoman etika AI, pengembangan sistem pemantauan konten digital, penguatan kerangka regulasi, hingga peningkatan kerja sama dengan platform digital.

Baca Juga :
Raksasa Media PHK 2.000 Karyawan, Divisi Ini Paling Terdampak
Kementerian HAM: Hak untuk Dilupakan Tidak Hapus Berita Media
Media (dan Media Online) Pilar Demokrasi, Harus Netral!

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Putra Bungsu Terseret Ombak di Bali, Bebi Romeo Masih Sulit Maafkan Diri Sendiri: Merasa Jadi Ayah yang Gagal
• 3 jam lalu
0
thumb
Wamensos yakinkan setiap siswa Sekolah Rakyat berpotensi
• 9 jam lalu
0
thumb
WN Vietnam Dideportasi Imigrasi Gegara Buka Praktik Dokter Ilegal di Jakarta Selatan
• 15 jam lalu
0
thumb
Selain Lamine Yamal, 3 Pemain di Final Piala Dunia 2026 Ini Juga Punya Foto Lawas Bareng Messi
• 17 jam lalu
0
thumb
Waka MPR: Segera Evaluasi dan Perkuat Sistem Perlindungan Kelompok Rentan
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.