Ketika Musik Orkestra Menjadi Milik Warga

kompas.id
19 jam lalu
Cover Berita

Langit Jakarta kian gelap ketika hamparan rumput di kawasan Monumen Nasional (Monas) mulai dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai penjuru kota, Sabtu (18/7/2026). Sebagian memilih duduk beralas tikar, sebagian lainnya berdiri sambil memandangi panggung yang menjulang di kejauhan.

Malam itu, kawasan yang sehari-hari menjadi ruang olahraga, tempat wisata, sekaligus titik temu warga Jakarta berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka. Tidak ada dinding megah dan kursi-kursi mewah. Yang ada hanyalah langit luas, deretan bangku sederhana, dan ribuan warga yang datang untuk menikmati Konser Akbar Monas 2026.

Stephen Tong memimpin Jakarta Simfonia Orchestra.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Penonton mengabadikan penampilan Jakarta Simfonia Orchestra.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Penyanyi berkolaborasi dengan Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Oratorio Society.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Sekitar pukul 18.30 WIB, suasana mulai berubah. Lampu panggung menyala lebih terang. Nada pertama mengalun pelan, disusul merdu paduan suara membawakan lagu-lagu bertema Indonesia. Tak lama kemudian, musik orkestra menggema, memainkan komposisi yang memenuhi ruang terbuka di sekitar tugu setinggi 132 meter itu.

Bagi sebagian penonton, pengalaman itu bukan hal yang biasa. Musik klasik selama ini identik dengan ruang konser yang tertutup dan formal. Namun, malam itu, karya-karya para komponis dunia hadir di tengah ruang publik yang dapat dinikmati siapa saja.

Hal itu turut dirasakan Rani (25) yang memilih menikmati konser dari kejauhan. Menurut pekerja swasta itu, musik klasik terasa berjarak dengannya karena lokasi pertunjukan yang terkesan eksklusif. ”Biasanya, konser musik klasik, kan, di tempat mewah, ya. Selain itu, penikmatnya juga enggak banyak gitu. Orang awam yang enggak paham musik kayak saya jadi malu-malu untuk nonton,” ujarnya.

Aula Simfonia Jakarta sebagai penyelenggara menangkap keresahan itu. Menurut mereka, musik klasik memang kerap diasosiasikan sebagai musik Eropa yang identik dengan kerajaan dan istana. Oleh karena itu, Konser Akbar Monas hadir sebagai upaya membawa musik klasik keluar dari dinding ruang konser untuk menjangkau pendengar yang lebih luas.

Di bawah arahan konduktor Stephen Tong, ratusan musisi yang tergabung dalam Jakarta Simfonia Orchestra dan paduan suara Jakarta Oratorio Society menghibur penonton dari berbagai kalangan. Mereka membawakan sejumlah komposisi musik lintas zaman dan generasi, seperti ”Fruhlingsstimmen” karya Strauss, ”La Gazza” Ladra karya Rossini, hingga ”Symphony No 9 Finale” karya Beethoven.

Meski berasal dari abad yang berbeda dan diciptakan ribuan kilometer dari Jakarta, komposisi-komposisi itu menemukan pendengarnya sendiri di lapangan Monas. Di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak, hiruk-pikuk akhir pekan bergeser menjadi suasana yang lebih tenang. Ribuan orang duduk berdampingan menikmati musik klasik tanpa mempersoalkan latar belakang mereka.

Seorang anak menikmati konser di pundak ayahnya. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Rebecca Tong memimpin Jakarta Simfonia Orchestra.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Penonton mengabadikan Konser Akbar Monas 2026.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Nada demi nada mengalir hingga mendekati pengujung acara. Ketika komposisi terakhir selesai dimainkan, tepuk tangan panjang menggema dari berbagai penjuru lapangan. Di bawah langit Jakarta, musik klasik menjadi pengingat bahwa seni dapat hadir di tengah keramaian kota dan dinikmati siapa saja, tanpa sekat, dan tanpa batas.

Baca JugaIni Waktunya Seni Menginvasi Taman Kota
Baca JugaSapi-sapi Piyungan yang Mendunia


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp1 Miliar, Duel Messi vs Yamal Bikin Diburu
• 5 jam lalu
0
thumb
Polisi Ungkap Pemicu Warga Depok Diteror Tetangga hingga Pagar Rusak
• 14 jam lalu
0
thumb
Mengenal Anggota Tubuh dan Cara Mengucapkannya dalam Bahasa Mandarin-Xué Hàn Yu
• 11 jam lalu
0
thumb
Final Piala Dunia 2026, Timnas Argentina VS Spanyol Diunggulkan 2 Pejabat Kejaksaan
• 4 jam lalu
0
thumb
DPR Tak Setuju SMA-SMK Jabar Ada SPP, Kemendikdasmen Didesak Turun Tangan
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.