HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sao Raja Tana Daeng Festival menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan berbagai unsur warisan Bugis-Makassar dalam semangat kebersamaan dan pelestarian budaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Putera Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026, Al Hafsi, didampingi Puteri Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026, Asya Ayumi.
Sao Raja Tana Daeng Festival hadir sebagai perwujudan “rumah besar” bagi warisan Bugis-Makassar. Lebih dari sekadar menampilkan tradisi, festival ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya melalui kebersamaan, partisipasi masyarakat, serta keterlibatan generasi muda.
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, S.E., M.A.P., dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan identitas budaya di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Menurutnya, perkembangan zaman dan globalisasi tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan akar budaya, melainkan menjadi momentum untuk memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan lokal agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi mendatang.
“Di tengah arus globalisasi, budaya lokal harus terus dirawat dan diwariskan. Kebudayaan bukan hanya sesuatu yang kita kenang, tetapi juga identitas yang harus terus dihidupkan dan dikembangkan,” demikian substansi pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Andi Patiware menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan budaya. Pelestarian warisan Bugis-Makassar membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas budaya, generasi muda, hingga masyarakat secara luas.
Festival ini menjadi salah satu bentuk nyata bahwa kebudayaan dapat terus tumbuh melalui ruang-ruang perjumpaan yang inklusif. Tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihadirkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Putera Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026, Al Hafsi, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Sao Raja Tana Daeng Festival.
“Bagi saya, Sao Raja Tana Daeng Festival bukan hanya sebuah kegiatan budaya, tetapi juga sebuah pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup ketika masyarakat memiliki ruang untuk mengenal, merayakan, dan mewariskannya.
Sebagai generasi muda, kita tidak cukup hanya bangga terhadap budaya, tetapi juga harus mengambil bagian dalam menjaganya agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman,” ujar Al Hafsi.
Ia menambahkan bahwa keberadaan festival seperti Sao Raja Tana Daeng menjadi penting karena menghadirkan kebudayaan dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat dan generasi muda.
“Warisan Bugis-Makassar adalah rumah besar kita bersama. Rumah itu harus terus dirawat, bukan hanya dengan mengingat masa lalu, tetapi dengan menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan hari ini,” tuturnya.
Kehadiran Putera dan Puteri Kebudayaan Sulawesi Selatan 2026 dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian, pengenalan, dan pengembangan kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya warisan Bugis-Makassar.
Melalui Sao Raja Tana Daeng Festival, kebudayaan kembali ditegaskan sebagai ruang hidup yang terus berkembang—sebuah rumah besar yang menyatukan sejarah, tradisi, masyarakat, dan generasi masa depan.






Komentar (0)