Berdasarkan panduan yang dipublikasikan Auto2000, pemilik kendaraan sebaiknya tidak memilih air radiator hanya berdasarkan harga atau warna. Ada sejumlah aspek teknis yang perlu diperhatikan agar cairan pendingin bekerja optimal sekaligus menjaga keawetan komponen mesin.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kandungan utama air radiator. Umumnya, radiator coolant terdiri atas campuran air, ethylene glycol, propylene glycol, dan zat antikarat (corrosion inhibitor). Kandungan ethylene glycol berfungsi menjaga cairan tetap stabil pada suhu rendah maupun tinggi sehingga tidak mudah membeku ataupun menguap saat mesin bekerja.
Selain itu, warna air radiator juga perlu disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan kendaraan. Setiap produsen memiliki spesifikasi coolant yang berbeda. Sebagai contoh, Auto2000 menjelaskan mobil Toyota umumnya menggunakan air radiator berwarna merah muda. Perbedaan warna tersebut bukan sekadar pembeda visual, tetapi juga menunjukkan formulasi yang berbeda. Baca Juga:
Tips Modifikasi Mobil untuk Perjalanan, Tetap Aman dan Sesuai Standar Pabrikan
Pemilik kendaraan juga disarankan memperhatikan spesifikasi mobil sebelum memilih radiator coolant. Untuk kendaraan dengan teknologi lama, biasanya digunakan coolant berteknologi Inorganic Additive Technology (IAT) yang memiliki interval penggantian lebih singkat, sekitar dua tahun atau setelah menempuh jarak 38.000 kilometer. Sementara itu, coolant berbasis Organic Acid Technology (OAT) memiliki usia pakai yang lebih panjang.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah titik didih cairan radiator. Coolant dengan kandungan ethylene glycol dan titik didih tinggi dinilai lebih efektif menjaga suhu mesin karena tidak mudah menguap ketika kendaraan digunakan dalam kondisi lalu lintas padat maupun perjalanan jarak jauh.
Auto2000 juga mengingatkan agar pemilik kendaraan selalu menggunakan produk radiator coolant asli. Penggunaan cairan palsu atau hasil oplosan dapat mempercepat kerusakan sistem pendingin, memicu korosi, hingga menurunkan performa mesin dalam jangka panjang.
Selain memilih coolant yang tepat, pemilik mobil perlu memahami fungsi radiator. Sistem ini bekerja dengan mengalirkan cairan pendingin ke seluruh bagian mesin untuk menyerap panas hasil proses pembakaran. Panas tersebut kemudian dilepaskan melalui radiator sehingga suhu mesin tetap stabil dan komponen internal terlindungi dari kerusakan akibat panas berlebih. Baca Juga:
800 unit Jetour T1 Terpesan, PHEV Jadi Primadona
Penggantian air radiator juga tidak boleh diabaikan. Perubahan warna cairan menjadi keruh atau kecokelatan dapat menjadi indikasi adanya karat maupun kontaminasi sehingga efektivitas pendinginan menurun.
Saat melakukan pengisian coolant, pemilik kendaraan disarankan memastikan mesin dalam kondisi dingin serta menggunakan jenis coolant yang direkomendasikan pabrikan. Untuk coolant tipe ready to use, cairan tidak perlu ditambah air, sedangkan coolant tipe concentrated harus dicampur air sesuai petunjuk penggunaan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)






Komentar (0)