Pernah Membawa PSM Makassar Juara Lalu Gabung Persebaya Surabaya: Ketika Ramadhan Sananta Disandingkan dengan Kurniawan Dwi Yulianto

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Perjalanan karier Ramadhan Sananta memasuki babak baru. Setelah pernah menjadi bagian penting dari keberhasilan PSM Makassar menjuarai Liga 1 2022/2023, penyerang Timnas Indonesia itu kini memilih melanjutkan petualangannya bersama Persebaya Surabaya.

Kepindahan Sananta ke Stadion Gelora Bung Tomo bukan sekadar perpindahan klub. Di Kota Pahlawan, striker berusia 23 tahun itu langsung dihadapkan pada tantangan besar: mengembalikan ketajaman lini depan Green Force sekaligus mengejar jejak salah satu legenda terbesar yang pernah dimiliki Persebaya, Kurniawan Dwi Yulianto.

Nama Kurniawan memang masih melekat kuat dalam sejarah klub. Ketika Persebaya menjadi juara kompetisi Indonesia musim 2004, mantan striker Timnas Indonesia itu tampil sebagai top skor lokal dengan torehan 11 gol. Catatan tersebut hingga kini masih menjadi salah satu rekor terbaik yang pernah dibukukan penyerang lokal Green Force dalam satu musim juara.

Bagi Sananta, rekor itu bukan tekanan. Justru sebaliknya, ia menganggapnya sebagai motivasi untuk terus berkembang.

“Ini menjadi motivasi tersendiri bagi saya karena saya harus bisa membuktikan kemampuan lebih jauh. Kebetulan Coach Kurniawan dulu pernah bersama saya dan beliau sering memberikan banyak motivasi,” ujar Ramadhan Sananta.

“Tentu hal positif ini saya jadikan pembakar semangat untuk bisa membuktikan hal yang lebih baik lagi. Saya tidak mau mengumbar janji muluk, tetapi yang pasti saya akan bekerja keras.”

Pernyataan tersebut menunjukkan karakter Sananta yang lebih memilih berbicara lewat penampilan di lapangan dibanding memasang target bombastis. Ia menyadari ekspektasi publik Persebaya sangat tinggi, terlebih dirinya datang dengan status sebagai salah satu striker lokal terbaik Indonesia.

Modal yang dibawa Sananta pun tidak sedikit. Ia pernah merasakan atmosfer menjadi juara bersama PSM Makassar, pengalaman yang diyakini akan sangat berguna dalam membantu Persebaya bersaing di papan atas Super League 2026/2027.

Musim terbaik Sananta lahir saat mengenakan seragam Pasukan Ramang. Di bawah arahan Bernardo Tavares, ia menjelma menjadi salah satu penyerang lokal paling berbahaya di Indonesia.

Pada musim Liga 1 2022/2023, Sananta mencetak 11 gol hanya dari 24 pertandingan. Produktivitas tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membawa PSM mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara liga.

Setelah sukses bersama PSM, Sananta melanjutkan karier bersama Persis Solo sebelum mencoba tantangan baru bersama DPMM FC di Liga Malaysia. Meski musim terakhirnya tidak berjalan sesuai harapan, kualitasnya sebagai penyerang tetap tidak diragukan.

Berdasarkan data Transfermarkt, Sananta telah mencatatkan 117 pertandingan sepanjang karier profesionalnya dengan koleksi 31 gol dan tujuh assist.

Rinciannya meliputi:

Persis Solo: 58 pertandingan, 16 gol, 3 assist.
PSM Makassar: 28 pertandingan, 11 gol, 2 assist.
DPMM FC: 27 pertandingan, 4 gol, 2 assist.
Persikabo 1973: 4 pertandingan.

Total pengalaman tersebut menjadi bekal penting saat ia memulai lembaran baru bersama Green Force.

Menariknya, kepindahan Sananta ke Persebaya juga mempertemukannya kembali dengan sosok yang paling berjasa dalam perkembangan kariernya, Bernardo Tavares.

Pelatih asal Portugal itu merupakan orang yang memberikan kepercayaan besar kepada Sananta ketika masih membela PSM Makassar. Di tangan Tavares, namanya berkembang pesat hingga akhirnya menjadi langganan Timnas Indonesia.

Tavares pun tidak ragu memberikan pujian kepada mantan anak asuhnya tersebut.

“Ramadhan Sananta adalah pemain yang berkembang pesat saat bekerja bersama saya di PSM Makassar. Ketika pertama kali datang, namanya belum banyak dikenal. Namun seiring waktu ia mampu menunjukkan kualitasnya hingga menembus Timnas Indonesia,” ujar Bernardo Tavares.

Menurut pelatih berusia 46 tahun itu, kualitas Sananta tidak hilang hanya karena sempat menjalani musim yang kurang maksimal bersama DPMM FC.

“Saya percaya Sananta bisa tampil lebih baik lagi. Dia adalah pemain lokal, pemain tim nasional, dan jika berada dalam kondisi terbaiknya, dia mampu memberikan dampak besar bagi tim. Itulah yang kami harapkan darinya di Persebaya.”

Tavares juga menegaskan bahwa Persebaya memiliki tanggung jawab membantu Sananta kembali menemukan performa terbaiknya.

“Kami memahami karakter dan kualitas yang ia miliki. Sekarang tugas kami adalah membantunya kembali mengeluarkan kemampuan terbaiknya, sementara dia juga harus membantu tim mencapai target yang sudah ditetapkan,” tegasnya.

Bagi Sananta sendiri, kehadiran Tavares menjadi salah satu alasan utama menerima pinangan Green Force.

“Kehadiran Coach Bernardo Tavares juga menjadi salah satu faktor penting. Beliau adalah pelatih yang pernah membantu perkembangan karier saya dan memberikan kepercayaan besar kepada saya,” kata Sananta.

“Coach Tavares memiliki peran yang sangat besar dalam perjalanan karier saya. Beliau memahami karakter pemain dengan baik, selalu memberikan motivasi, dan membantu saya bermain lebih efektif. Saya merasa banyak berkembang berkat arahan beliau.”

Kesempatan pertama Sananta menunjukkan kualitasnya diperkirakan hadir pada laga spesial perayaan ulang tahun ke-99 Persebaya saat menghadapi PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo.

Sorotan tentu akan mengarah kepadanya sejak menit pertama. Publik ingin melihat apakah penyerang yang pernah membawa PSM Makassar meraih gelar juara itu mampu langsung memberi dampak di lini depan Green Force.

Namun tantangan yang dihadapi Sananta sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar mencetak gol pada laga debut.

Ia datang membawa ekspektasi sebagai striker Timnas Indonesia, reuni dengan pelatih yang pernah mengangkat kariernya, sekaligus bayang-bayang rekor Kurniawan Dwi Yulianto yang hingga kini belum mampu dilampaui banyak penyerang lokal Persebaya.

Kini, perjalanan baru telah dimulai. Setelah pernah mengantar PSM Makassar berdiri di puncak sepak bola Indonesia, Ramadhan Sananta memiliki kesempatan menorehkan sejarah berikutnya bersama Persebaya Surabaya. Jika mampu menemukan kembali ketajamannya seperti saat berseragam Pasukan Ramang, bukan tidak mungkin namanya kelak disejajarkan dengan para legenda Green Force yang pernah membawa klub itu berjaya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Indonesia tampil all-out demi posisi ketiga Piala Asia U18 Putri
• 2 jam lalu
0
thumb
Viral Pijat India Sajikan Miras di Danau Sunter Jakut, Ternyata Cuma Konten
• 11 jam lalu
0
thumb
Film Box Office Topang Kinerja CNMA di Paruh Kedua 2026, Simak Proyeksinya
• 10 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Pusat akan Bangun Tiga Flyover Baru di Surabaya untuk Dukung SRRL
• 12 jam lalu
0
thumb
InJourney perkuat konektivitas udara di ASEAN-China lewat ACWG-RASA
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.