VIVA – Di tengah dominasi film horor dan drama yang masih menguasai layar bioskop Indonesia, sebuah film aksi hadir dengan pendekatan yang berbeda. Tak hanya mengandalkan adegan pertarungan yang intens, film yang satu ini juga membawa pesan kemanusiaan yang relevan dengan persoalan global yang masih menjadi perhatian hingga saat ini
Menggabungkan aksi, drama, dan isu sosial, Leave No One Behind (LNOB) mencoba menghadirkan pengalaman menonton yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga mengajak penonton memahami bahaya perdagangan manusia atau human trafficking. Berikut sejumlah fakta menarik yang membuat film ini layak masuk daftar tontonan.
Salah satu hal yang membedakan Leave No One Behind dari film aksi lainnya adalah latar peluncurannya yang bertepatan dengan dua momentum penting, yakni Bulan Bhayangkara dan Hari Dunia Anti-Perdagangan Orang (World Day Against Trafficking in Persons) yang diperingati setiap 30 Juli.
Executive Producer Muhammad Chairul Basyar mengatakan film ini dipersembahkan sebagai bentuk apresiasi terhadap pihak-pihak yang selama ini terlibat dalam upaya memberantas perdagangan manusia.
"Film Leave No One Behind ini adalah hadiah saya untuk Kepolisian dan UNODC di Bulan Bhayangkara dan Hari Anti-Human Trafficking Dunia," ujarnya.
2. Mengangkat Isu Human Trafficking Lewat Balutan Film AksiBerbeda dari kebanyakan film laga yang berfokus pada aksi semata, Leave No One Behind menjadikan isu perdagangan manusia sebagai inti cerita.
Film ini menghadirkan konflik yang berkaitan dengan upaya penyelamatan korban sekaligus mengangkat pentingnya kesadaran masyarakat terhadap praktik human trafficking yang hingga kini masih menjadi persoalan serius di berbagai negara.
3. Dibintangi Atlet Bela Diri ProfesionalSalah satu daya tarik utama film ini adalah pemilihan pemain yang memiliki latar belakang bela diri sungguhan. Tokoh utama diperankan oleh Suwardi "Becak Lawu", atlet Mixed Martial Arts (MMA) yang dikenal melalui berbagai kompetisi.
Kehadiran atlet profesional tersebut diharapkan mampu menghadirkan adegan pertarungan yang lebih realistis dibandingkan koreografi laga yang sepenuhnya mengandalkan teknik akting.






Komentar (0)