Suriah dan Irak Bangkitkan Jalur Pipa Minyak Bersejarah ke Mediterania

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Suriah dan Irak resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memulihkan jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas yang telah lama tidak beroperasi.

Proyek tersebut diharapkan menghidupkan kembali salah satu jalur ekspor minyak strategis menuju kawasan Mediterania sekaligus memperkuat konektivitas energi di Timur Tengah.

Muhammad al-Bashir Menteri Energi Suriah mengatakan, kesepakatan itu menjadi langkah penting dalam mengaktifkan kembali jalur pipa yang selama puluhan tahun menjadi salah satu rute utama distribusi minyak di kawasan.

“Kami menandatangani nota kesepahaman dengan negara sahabat kami, Republik Irak, untuk merestorasi pipa Kirkuk-Baniyas,” ujar al-Bashir dilansir dari Antara, Sabtu (18/7/2026).

Ia menilai proyek tersebut akan memperkuat posisi Suriah sebagai koridor energi regional serta membuka kembali jalur transit minyak yang memiliki nilai strategis bagi kedua negara.

Penandatanganan MoU dilakukan di Amerika Serikat di sela pertemuan yang dihadiri Ali al-Zaidi Perdana Menteri Irak, Chris Wright Menteri Energi Amerika Serikat , dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Selain kerja sama antarpemerintah, perusahaan minyak milik negara Suriah, Syrian Petroleum Company, juga menandatangani dua nota kesepahaman terpisah untuk mendukung pelaksanaan proyek restorasi.

Kesepakatan pertama dilakukan dengan Basra Oil Company, perusahaan minyak milik negara Irak, guna memulihkan ruas pipa Haditha-Baniyas.

Proyek tersebut ditujukan untuk menghidupkan kembali distribusi minyak Irak menuju pelabuhan-pelabuhan Suriah di pesisir Mediterania.

Sementara itu, nota kesepahaman kedua diteken bersama konsorsium internasional yang terdiri atas perusahaan asal Amerika Serikat, Chevron dan Capital TI, serta UCC Holding dari Qatar.

Konsorsium tersebut akan menyusun kajian teknis dan finansial sebagai dasar pelaksanaan restorasi jalur pipa Kirkuk-Baniyas.

Apabila proyek berjalan sesuai rencana, kapasitas penyaluran minyak melalui pipa tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 2 juta barel per hari.

Pipa minyak Kirkuk-Baniyas mulai beroperasi pada 1952 dan sempat menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di kawasan Timur Tengah. Namun, operasionalnya beberapa kali terhenti akibat konflik geopolitik.

Pada 1956, jalur tersebut mengalami gangguan akibat aksi sabotase selama Krisis Suez atau Perang Arab-Israel Kedua. Selanjutnya, Irak menutup pipa itu secara sepihak pada periode 1982 hingga 2000 sebagai respons atas dukungan Suriah kepada Iran dalam perang Irak-Iran.

Operasional pipa akhirnya berhenti total setelah mengalami kerusakan akibat serangan udara Amerika Serikat saat invasi ke Irak pada 2003. (ant/saf/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pigai Bantah Pernah Minta Masyarakat Belanja Rp 1 Juta per Bulan di Kopdes
• 10 jam lalu
0
thumb
Dorong Kesejahteraan Petani Sawit, PKSPI Sodorkan Usulan ke Pemerintah
• 28 menit lalu
0
thumb
Dua Wakil Indonesia di Semifinal Japan Open 2026, Ini Jadwal Lengkap Pertandingannya
• 15 jam lalu
0
thumb
[FULL] Pidato Presiden Prabowo di Panen Raya Tebu Serentak di Malang
• 21 jam lalu
0
thumb
Di Balik Kebiasaan Tidak Enakan, Ada Diri yang Terus Mengalah
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.