jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno menyoroti kebakaran tempat pembuatan akhir (TPA) sampah yang terus berulang.
Dia menegaskan kebakaran yang kembali terjadi di TPA Cipayung Depok merupakan alarm pengelolaan sampah semakin darurat.
BACA JUGA: Eddy Soeparno: Kebakaran TPA Jatiwaringin Jadi Alarm Pengelolaan Sampah Nasional
Insiden ini menyusul kejadian serupa di TPA Jatiwaringin yang menunjukkan pola berulang dan menunjukkan potensi kesalahan dalam tata kelola sampah saat ini.
Menurut Eddy, ketika TPA terus terbakar itu artinya sistem sistem pengawasan dan penindakan belum bekerja.
BACA JUGA: 102 Warga Mengungsi Imbas Kebakaran di TPA Jatiwaringin, BNPB Menyiagakan Tim Medis
"Saat ini kita terus disibukkan oleh upaya-upaya penanganan bencana TPA, seperti longsornya timbunan sampah dan kebakaran. Kita perlu melakukan intervensi segera dan tegas untuk mencegah terulangnya bencana di TPA di seluruh Indonesia,” kata Eddy dalam keterangannya, Sabtu (18/7).
Dalam berbagai kesempatan, Waketum PAN ini secara konsisten mengingatkan pendekatan pengelolaan sampah di Indonesia masih terlalu bertumpu pada landfill yang sudah tidak memadai.
BACA JUGA: TPA Pakusari Jember Terbakar, Api Nyaris Merembet ke Permukiman Warga
Eddy menilai tanpa transformasi kebijakan dan teknologi, kejadian serupa akan terus berulang.
Dia mengungkapkan Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun dan sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir melalui sistem penimbunan.
“Kita tidak bisa lagi mengandalkan TPA sebagai solusi utama. TPA sudah overcapacity, rawan kebakaran, dan menjadi sumber pencemaran. Kalau tidak ada perubahan mendasar maka situasi saat ini berpotensi menjadi krisis yang memuncak sewaktu-waktu dan merugikan masyarakat,” tegasnya.
Doktor Ilmu Politik UI ini menegaskan percepatan implementasi teknologi Waste to Energy (WTE) adalah solusi mengurangi volume sampah sekaligus bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada sistem landfill yang sudah tidak memadai. WTE adalah salah satu solusi penanganan sampah dan kini tengah diimplementasikan secara luas. Selain mengurangi sampah secara signifikan, WTE juga menghasilkan energi terbarukan. Ini menjawab dua masalah sekaligus: krisis sampah dan kebutuhan energi bersih,” jelasnya.
Selain solusi di hilir, Eddy juga menekankan pentingnya pembenahan dari hulu melalui pendekatan berbasis masyarakat.
Eddy secara konsisten mendorong penguatan edukasi publik, pengurangan sampah dari sumber, serta pengembangan ekonomi sirkular.
“Masalah sampah tidak akan selesai kalau hanya ditangani di TPA. Kuncinya ada di hulu. Rumah tangga harus mulai memilah, mengurangi, dan mengelola sampahnya sendiri. Pemerintah harus hadir dengan sistem yang mendukung itu,” ujarnya.
Eddy juga menyampaikan pendekatan berbasis komunitas terbukti lebih berkelanjutan jika didukung oleh kebijakan yang tepat.
“Kita perlu membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah. Pembangunan infrastruktur sangat penting, tapi perilaku dan kesadaran kolektif juga harus terus diperkuat sebagai solusi bersama,” kata Anggota Komisi XII DPR ini.
Terakhir, lanjut Eddy, mekanisme pengawasan di TPA, serta penindakan terhadap illegal dumping perlu diperkuat.
"Kita menghasilkan sampah jenis basah dari sisa makanan dalam jumlah besar. Gas methane yang dihasilkan sangat buruk untuk lingkungan dan mudah memicu terjadinya kebakaran. Oleh karenanya, saya meminta Pemda di seluruh Indonesia segera mengawasi TPA secara intensif untuk mencegah bencana kebakaran dan longsor yang telah berulang terjadi,” pungkas Eddy. (mrk/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... DLH Jabar Bantah Ada Pengurangan Sampah ke TPA Sarimukti
Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi





Komentar (0)