JAKARTA, KOMPAS.com - Sorak sorai warga terdengar memenuhi gang di RW 08 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026).
Bagi anak-anak yang bertanding di final Liga Aspal, kemenangan memang menjadi incaran.
Namun, ada pelajaran yang jauh lebih penting daripada sekadar mengangkat trofi.
Dua tim, Blue Lions dan Red Thunder FC, saling berhadapan untuk memperebutkan gelar juara.
Baca juga: Melihat Keseruan Final Liga Aspal, Gang Sempit Menteng Dipadati Warga
Di balik pertandingan itu, para pelatih justru lebih menekankan nilai kekompakan, sportivitas, dan keberanian bermain tanpa tekanan.
David, pelatih Blue Lions, mengaku tidak memberikan persiapan khusus kepada para pemainnya menjelang laga final.
Menurutnya, kesiapan mental menjadi bekal utama bagi anak-anak saat turun ke lapangan.
"Persiapannya sih apalagi ya, mental dan bermain lepas aja. Itu aja," kata David kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi, Sabtu.
Ia pun mengingatkan anak-anak asuhnya agar tetap tenang meski pertandingan disaksikan banyak warga yang memadati pinggir lapangan.
Baca juga: Sosiolog: Liga Aspal Bentuk Warga Merebut Kembali Ruang Publik
"Bermain lepas, jangan pernah tertekan, dan ya di sekitar memang banyak ya penontonnya, cuman kita bermain enjoy aja. Percaya sama teman, itu aja," tutur dia.
Bagi David, mengajari anak-anak bermain sepak bola bukan hanya soal teknik mengolah si kulit bundar.
Hal yang tak kalah penting adalah membangun rasa percaya kepada teman satu tim.
"Kekompakan aja. Kita kan tahu kan, kalau misalnya mendidik anak-anak kan terlalu ini ya. Cuman kita belajar aja kekompakan," ucap dia.
Ia juga selalu menanamkan pentingnya bermain secara jujur dan menghargai lawan.
Komentar (0)