Rindu dari Sekolah Rakyat Semarang

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Tangis Arimbi pecah ketika ibunya berpamitan pulang. Hari itu menjadi kali pertama siswi kelas 1 SMP tersebut harus tinggal jauh dari keluarganya. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Semarang, ia perlahan belajar bahwa kesempatan memperoleh pendidikan juga berarti belajar hidup mandiri.

Beberapa hari kemudian, kesedihan itu mulai berganti tawa. Bersama ratusan siswa lain, Arimbi mengikuti permainan egrang, bakiak, dan tarik tambang di halaman sekolah yang berada di Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026). Riuh sorak-sorai anak-anak memecah suasana selama pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Sebanyak 270 siswa dari jenjang SD hingga SMA menjadi angkatan pertama yang menempati Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Semarang. Mereka berasal dari keluarga miskin yang didata pemerintah dan memperoleh pendidikan, tempat tinggal di asrama, makan, serta kebutuhan dasar lainnya secara gratis.

Meski mulai akrab dengan teman-teman baru, rasa rindu kepada keluarga masih kerap datang. Selama menjalani MPLS, para siswa belum diperbolehkan membawa telepon seluler dan komunikasi dengan orangtua dibatasi agar mereka lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan di asrama. ”Saya menangis karena biasanya tidur sama ibu. Sekarang harus tinggal di sini,” kata Arimbi.

Cerita serupa dialami Rahma, siswi kelas III SMP. Ia bahkan nekat pulang ke rumah tanpa sepengetahuan pengasuh lantaran tidak betah berpisah dengan orangtuanya. Ayahnya, Tohari, panik mencari Rahma karena jarak rumah mereka sekitar 10 kilometer dari sekolah.

Bagi anak-anak tersebut, tantangan pertama bukanlah pelajaran di ruang kelas, melainkan membiasakan diri hidup bersama teman-teman baru, mengikuti aturan asrama, dan menjalani hari-hari tanpa keluarga di sisi mereka. Beradaptasi dengan rutinitas yang terjadwal dan disiplin akan mereka lalui setiap hari.

Tohari saat menjenguk anaknya di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Semarang.

KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Anak-anak bermain di tempat tidur susun salah satu ruang asrama.

KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Rehan dengan gayanya sebagai salah satu siswa di Sekolah Rakyat Terintergrasi 1 Semarang.

KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Semarang dibangun di atas lahan seluas 1,9 hektar. Saat seluruh fasilitas beroperasi, sekolah ini akan menampung hingga 1.080 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan penyelesaian seluruh pembangunan pada akhir Juli 2026.

Sekolah ini menjadi bagian dari program nasional Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 200 Sekolah Rakyat secara bertahap di beberapa daerah. Pada tahun ajaran 2026/2027, puluhan sekolah mulai beroperasi sebagai tahap awal sebelum jaringan sekolah tersebut diperluas.

Di salah satu ruang kelas, Ayu, seorang guru mengumpulkan siswanya untuk menjelaskan jadwal kegiatan. Selama sepekan terakhir, ia bersama guru dan pengasuh tidak hanya mendampingi MPLS, tetapi juga menyiapkan penyambutan tamu dari pemerintah daerah hingga kementerian.

Menurut Ayu, kesibukan itu merupakan bagian dari tanggung jawab mereka sebagai salah satu sekolah percontohan. Namun, di balik berbagai persiapan tersebut, perhatian terbesar tetap tertuju pada proses adaptasi anak-anak.

Di sekolah yang baru berdiri itu, pelajaran pertama ternyata bukan Matematika atau Bahasa Indonesia. Bagi Arimbi dan ratusan siswa lainnya, pelajaran pertama adalah belajar mengatasi rindu, hidup mandiri, dan percaya bahwa kesempatan yang mereka peroleh hari ini dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

 

Baca JugaMenyemai Mimpi dari Sekolah Rakyat di Semarang
Baca JugaMemupuk Cita di Sekolah Rakyat


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Militer Amerika Serikat Gempur Menara Pengawas Maritim Iran
• 19 jam lalu
0
thumb
Kemenhaj Jabar Dorong Belanja Haji Putar Ekonomi Daerah
• 3 jam lalu
0
thumb
Dana Bergulir dengan Jaminan Pohon hingga Tips Perbaiki SLIK, Ini Peluang Pembiayaan UMKM dari OJK, BPDLH, dan Bank Jatim
• 13 jam lalu
0
thumb
HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026: Tak Sekadar Ajang Berburu Gelar, Konsistensi Jadi Kunci Pembinaan
• 21 jam lalu
0
thumb
Kalahkan Tejada, Mauro Schmid Menangi Etape ke-13 Tour de France 2026
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.