Fenomena Bediding di Jawa Timur, Dokter FK UK Petra Bagikan Tips Menjaga Kesehatan

suarasurabaya.net
1 hari lalu
Cover Berita

Memasuki musim kemarau ini, sejumlah wilayah di Jawa Timur ternyata menemui fenomena udara dingin atau yang lebih dikenal sebagai bediding.

Biasanya, bediding dirasakan masyarakat dari sore jelang malam, bahkan sampai dini hari. Padahal, cuaca saat siang hari terasa begitu menyengat.

Mengenai fenomena bedinding, dr Octavianus Eka Putra Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen (UK) Petra mengimbau agar masyarakat lebih aware terhadap perubahan suhu drastis ini.

Terutama bagi kelompok rentan seperti, bayi, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.

Eka menjelaskan, fenomena bediding sebenarnya tidak langsung menyebabkan flu atau masuk angin pada seseorang.

“Tapi memang, udara dingin dan kering membuat lapisan lendir pelindung di saluran napas mengering. Sehingga mengakibatkan, pertahanan alami tubuh melemah dan virus menjadi lebih mudah masuk,” katanya pada Sabtu (18/7/2026).

Dampak bediding, lanjut Eka, tidak hanya sebatas pada gangguan saluran napas saja, tapi juga menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah secara tiba-tiba.

Hal ini membuat penderita hipertensi dan gangguan jantung harus jauh lebih waspada selama fenomena berlangsung.

Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak fenomena bediding terjadi pada Juli hingga Agustus. Bahkan, di beberapa daerah dapat terjadi hingga September mendatang.

Sementara untuk mengantisipasi dampak yang semakin buruk dari fenomena bediding, Eka membagikan tips pencegahan untuk keluarga.

“Pertama, gunakan pakaian hangat berlapis saat malam. Kedua, memperhatikan hidrasi tubuh. Karena biasanya, cuaca dingin itu memanipulasi rasa haus pada tubuh,” jelasnya.

Eka juga mengimbau agar masyarakat lebih menjaga kebersihan tangan dan lingkungan, melakukan olahraga dan cukup istirahat, serta segera periksa ke dokter jika mengalami demam sampai sesak napas.

“Bediding adalah dinamika alam yang wajar. Sehingga, masyarakat tidak perlu mencemaskan udara dinginnya, tapi bagaimana masyarakat dapat menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat untuk melindungi diri dan keluarga,” tutupnya. (kir/saf/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rekayasa Lalin Saat RBR 2026 Tetap Mengakomodir Jemaat Gereja
• 22 jam lalu
0
thumb
Di Tengah Sempitnya Ruang Bermain, Liga Aspal Tumbuhkan Mimpi Pesepak Bola Cilik
• 20 jam lalu
0
thumb
Manchester United Kalah 0-1 dari Wrexham pada Laga Pramusim
• 8 jam lalu
0
thumb
Meriah! BEC 2026 Padukan Nilai Historis, Budaya hingga Fashion Global
• 20 jam lalu
0
thumb
Viral Disindir Anak Sulung Membantu Cuma Marketing, Ternyata Segini Perkiraan Bayaran Pengacara Senior Indonesia itu
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.