Pelajaran dari Harry Kane untuk Karyawan Muda yang Pernah Ditolak dan Diremehkan

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Dalam wawancara khusus dengan Der Spiegel pada 18 Juni 2024, Harry Kane yang sekarang menjadi Kapten Tim Nasional Sepak Bola Inggris mengaku dirinya kerap diremehkan sepanjang kariernya sebagai pesepak bola. “Orang-orang selalu mengira saya tidak cukup baik,” kata Kane.

Pada usia 8 tahun, dia bergabung dengan Arsenal Youth Academy tetapi setelah satu musim, dia dilepas. Kane dianggap sedikit gemuk dan tidak terlalu atletis sehingga tidak cocok menjadi pesepak bola. Ayahnya, yang menyampaikan kabar kalau Arsenal Youth Academy tidak menginginkannya, tidak marah kepadanya. Malahan, ayahnya mengajaknya bekerja lebih keras dan mencari klub lain.

Kemudian, saat masih menjadi pemain muda di akademi Tottenham Hotspur, dia juga kembali diremehkan. Dia tidak langsung menjadi pemain utama. Malah, Kane pernah mendapatkan penilaian bahwa dirinya tidak akan pernah cukup baik untuk bermain di level tertinggi. Mengutip Goal.com, saat di Tottenham Hotspur, dia dipinjam-pinjamkan ke klub divisi bawah Liga Inggris yaitu Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City pada periode 2011–2013. 

Baca JugaKarier Kian Dinamis, Bagaimana Pekerja Muda Menyiasatinya?

Ketimbang menyerah, Kane menjadikan masa dipinjamkan yang semula dianggap berat dan tidak produktif itu sebagai pengalaman yang membentuk mentalitasnya. Ia belajar menghadapi kerasnya dunia sepak bola, mengetahui mana kekuatannya, dan mengembangkan etos kerja profesional yang kemudian menjadi ciri khasnya. 

Kesempatan akhirnya datang pada musim 2014–2015 ketika Mauricio Pochettino menjadi manajer Tottenham Hotspur memberi kepercayaan kepadanya. Kane langsung meledak dengan mencetak lebih dari 30 gol di semua kompetisi dan memenangkan penghargaan PFA Young Player of the Year. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu penyerang paling produktif di Eropa.

Selama membela Tottenham Hotspur, Kane beberapa kali meraih gelar top skor Liga Inggris dan memecahkan rekor demi rekor klub. Ia kemudian menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Tottenham Hotspur, melampaui legenda-legenda klub. Meski tidak berhasil mempersembahkan trofi bersama Spurs, ia sukses membawa klub mencapai final Liga Champions 2019.

Di level internasional, Kane menjalani debut bersama Tim Nasional Inggris pada 2015 dan langsung mencetak gol hanya beberapa detik setelah masuk sebagai pemain pengganti. Ia kemudian dipercaya menjadi kapten tim dan tampil sebagai top skor Piala Dunia 2018 dengan enam gol, sekaligus membawa Inggris mencapai semifinal. Dalam beberapa tahun berikutnya, Kane memecahkan rekor Wayne Rooney sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Inggris dan menjadi salah satu pemain dengan jumlah penampilan terbanyak bagi The Three Lions.

Pada musim panas 2023, Kane mengakhiri hampir dua dekade bersama Tottenham Hotspur dengan pindah ke Bayern Munich. Kepindahan itu akhirnya memberinya trofi mayor pertama dalam karier ketika Bayern menjuarai Bundesliga, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu striker terbaik dunia dan kandidat Ballon d’Or. 

Alih-alih menjadi sukses dalam semalam, karier di dunia kerja apapun juga melalui proses panjang. Banyak di antara karyawan muda mengalami versi penilaian ‘tidak cukup baik (not good enough)’ di kantor masing-masing, baik datang dari atasan langsung maupun sesama rekan kerja. 

Baca JugaDilema Karyawan Muda: Pindah Dibilang Tak Loyal, Bertahan Khawatir Stagnan

“Kalau karakter karyawan mudah terbawa perasaan atau tidak memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset), menerima penilaian kinerja ‘tidak cukup baik’ lebih dari sekali pasti akan menyesakkan. Kondisinya mirip dengan pesepak bola Harry Kane yang sempat dipinjam-pinjamkan ke klub divisi bawah Liga Inggris sebelum sukses. Dalam dunia kerja, proses perpindahan tugas seperti itu sering kali disalahartikan oleh karyawan sebagai bentuk ‘dibuang’,” ujar Founder dan Chief Strategic Advisor The Positive Workplace Haryo Suryosumarto di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).

Setiap penolakan di perjalanan karier bisa saja membuat pencapaian berikutnya terasa lebih bermakna. Kane, menurut Haryo, menerima penilaian ‘tidak cukup baik’ tetapi tidak lantas membuatnya menyerah sebagai striker. Dia menekuni apa yang menjadi kelebihan dirinya sehingga itulah yang membawanya sukses sebagai striker. Di karier kantoran pun begitu. 

Dalam wawancara dengan The Players’ Tribune yang dimuat 5 Februari 2018, Kane mengatakan, bagi dirinya, penolakan adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada dirinya. Sebelum setiap pertandingan, dia mengaku selalu memvisualisasikan skenario di kepalanya tentang bagaimana tepatnya dia akan mencetak gol dalam pertandingan. Kane mengklaim dia memang selalu seperti itu : sangat detail memikirkan strategi yang tepat. 

Mengutip The Athletic bagian dari The New York Times, Cameron Lancaster, mantan rekan Kane di akademi Tottenham yang justru lebih dulu menembus tim utama, pernah mengatakan Kane bukan pemain muda paling berbakat. Namun, ia memiliki tekad, disiplin, dan tujuan karier yang jelas. Kane selalu ingin menjadi penyerang nomor satu dan rela bekerja lebih keras dibanding pemain lain.

Michael Owen, dalam beberapa kali wawancara dengan media, menilai Kane sebagai striker terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Mantan striker Liverpool dan Tim Nasional Inggris itu mengaku telah mengubah pandangannya tentang Kane. Semula, Owen menganggap kemampuan mencetak gol merupakan bakat alami. Namun, perkembangan Kane menunjukkan bahwa ketajaman seorang penyerang juga dapat dibentuk melalui kerja keras, latihan berulang, dan kemauan terus memperbaiki diri.

Baca JugaPelajaran Karier dari Sikap Presiden Joe Biden Selama Debat Capres AS 2024

Kane juga terus mengembangkan permainannya. Kane tidak puas hanya menjadi pencetak gol. Seiring bertambahnya pengalaman, Kane memperluas perannya sebagai pemain yang mampu turun menjemput bola, membangun serangan, memberi assist, sekaligus menjadi pemimpin di lapangan. Evolusinya membuatnya tetap relevan meski usianya terus bertambah.

“Setiap karyawan mestinya memiliki aspirasi karier yang dituju dan ini beda-beda antar orang. Saat memutuskan pindah ke Bayern Munich, karier Kane di Tottenham Hotspur sedang berada di puncak. Usia dia juga bisa dibilang sudah kepala 3, tetapi aspirasinya ialah menang membawa pulang trofi yang belum pernah diperoleh saat di Tottenham Hotspur,” ucap Haryo.

Menurut pengamatan Haryo, ada kecenderungan di karyawan muda ingin mengundurkan diri, lalu pindah kantor baru, tetapi tidak memiliki aspirasi yang jelas. Perilaku seperti itu justru akan menyulitkan mereka berkembang di kantor baru. 

“Kapan waktu yang tepat untuk pindah kantor baru itu kembali ke aspirasi karier masing-masing individu karyawan. Tentunya, kalau mereka sudah tahu aspirasi karier yang dituju, mereka semestinya sudah menyusun strategi termasuk menyangkut pengembangan kompetensi diri,” tutur Haryo.

Partner dan Founder Eclat Consulting, Theodore Pribadi, berpendapat, perjalanan karier Kane menunjukkan bahwa potensi dan performa saat ini tidak selalu sama. Dalam pendekatan psikometri, kepribadian dapat membantu melihat kecenderungan alami seseorang. Hasil kerja seseorang dipengaruhi oleh motivasi, kemampuan, kecocokan pekerjaan, dan lingkungan organisasi. 

Dalam konteks dunia karier perkantoran, seorang pemimpin perlu mengenal anggota timnya dengan baik, bukan sekadar menilai mereka berdasarkan pencapaian kinerja sesaat. Salah satu cara membacanya adalah melalui matriks antara kemauan dan kemampuan. 

Karyawan yang terampil tetapi kurang termotivasi membutuhkan pemimpin yang mampu menyemangati. Mereka yang bersemangat tetapi belum terampil perlu diajari dan dikembangkan. 

Baca JugaPelajaran dari ”Bapak” BUMN untuk Karier Milenial

Sementara itu, orang yang memiliki motivasi dan kemampuan tinggi membutuhkan arahan agar kekuatannya dapat digunakan secara optimal. Bagi mereka yang lemah dalam keduanya, pemimpin dapat memberikan pelatihan, mempertimbangkan pemindahan peran, atau sebagai pilihan terakhir, mengakhiri hubungan kerja secara bijaksana. 

“Sebab, seseorang yang tidak berkembang di satu tempat kerja belum tentu gagal. Ada kemungkinan, dia lebih cocok dan mampu bersinar di kantor lain,” ujar Theodore.

Lebih jauh, dia memandang, penilaian atau umpan balik di kantor berperan penting dalam proses perkembangan karier seorang karyawan. Kritik sebaiknya tidak dianggap sebagai serangan terhadap identitas, melainkan sebagai bahan belajar. 

Karyawan sebagai penerima umpan balik perlu bersikap lapang dada, mau belajar, aktif mencarinya, dan berterima kasih. Sebaliknya, atasan selaku pemberi umpan balik harus menyampaikannya secara seimbang, tulus, spesifik, dan tepat waktu. Kalimat seperti “kamu tidak cukup bagus” sesungguhnya tidak banyak membantu. Apalagi, kalimat penilaian seperti itu tanpa penjelasan tentang bagian yang perlu diperbaiki dan cara memperbaikinya.

“Di dunia sepak bola, banyak striker berlatih keras karena ingin menang. Kane tampak membangun kebiasaan dari arah sebaliknya: ia mempersiapkan diri secara konsisten agar siap ketika momen penting tiba. Semangat kompetitifnya tidak semata-mata lahir dari keinginan mengalahkan orang lain, tetapi dari komitmen untuk terus meningkatkan diri,” kata Theodore. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PASI Kudus Optimistis Lintasan Atletik Supersoccer Arena Lahirkan Next Zohri
• 11 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Maut Bus Rombongan Study Tour Terguling, 20 Anak Tewas
• 21 jam lalu
0
thumb
Pertamina Pastikan Stok BBM di Sumut Aman, Pengawalan Polisi Percepat Pasokan ke SPBU
• 8 jam lalu
0
thumb
John Herdman Sambut Kedatangan Ragnar Oratmangoen di TC Timnas Indonesia, Tak Sabar Melihat Aksinya Bersama Persib
• 9 jam lalu
0
thumb
Anggota DPR minta pemerintah jamin pemulihan korban rudapaksa Sampang
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.