Industri Panel Surya Tiongkok Rugi Puluhan Miliar Yuan dalam Setengah Tahun, Dumping Harga Murah Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Meskipun industri panel surya Tiongkok berhasil menguasai lebih dari 80% pangsa pasar global mutlak dalam beberapa tahun terakhir, industri ini justru terjerumus ke dalam kerugian besar kolektif yang bersejarah sejak tahun 2024 hingga sekarang. Total kerugian tersebut bahkan dengan mudah mencapai puluhan miliar yuan.

EtIndonesia.com Kesulitan yang dihadapi industri panel surya Tiongkok masih terus berlanjut. Pada  14 hingga 15 Juli, sejumlah perusahaan panel surya yang terdaftar di bursa saham berturut-turut merilis prakiraan kinerja keuangan mereka untuk paruh pertama tahun 2026, yang menunjukkan bahwa industri panel surya masih berada di titik nadir seluruh rantai industri.

21st Century Business Herald melaporkan pada 15 Juli bahwa lima perusahaan panel surya terdaftar mengalami total kerugian sebesar 11,943 miliar yuan hingga 13,68 miliar yuan pada paruh pertama tahun 2026. Di antaranya, dua perusahaan raksasa, Longi Green Energy dan Tongwei Co., Ltd., diperkirakan menyumbang kerugian gabungan sebesar 8,2 miliar yuan hingga 9,2 yuan pada paruh pertama tahun ini. Tidak hanya itu, kerugian ini juga mulai merembet ke rantai industri hilir.

Para akademisi menilai penyebab mendasar dari masalah ini adalah adanya upaya dari otoritas kebijakan untuk mengubah pasar dengan kekuasaan, serta menggunakan politik untuk mengubah hukum ekonomi, sehingga tindakan ini berujung pada serangan balik dari pasar.

“Pemerintah pusat Beijing menetapkan panel surya sebagai industri strategis yang berkembang pesat. Pemerintah daerah, demi memperebutkan prestasi politik dan mendongkrak PDB, secara gila-gilaan memberikan berbagai macam insentif kepada perusahaan-perusahaan panel surya. Akibatnya, sinyal pasar kehilangan umpan balik yang realistis,” ujar Ekonom asal AS, Davy J. Wong (Huang Dawei). 

“Banyak perusahaan memperluas kapasitas produksi mereka secara membabi buta tanpa mempedulikan biaya, serta mengalihkan dana dan sumber daya sosial yang seharusnya dialokasikan untuk industri lain atau bahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat ke dalam industri panel surya ini. Hasil akhirnya adalah kelebihan kapasitas produksi (over kapasitas),” katanya. 

Warganet pun mempertanyakan, mengapa industri panel surya Tiongkok yang merupakan nomor satu di dunia justru mengalami kerugian massal?

“Dulu, negosiasi iklim dengan Eropa dan AS masih bisa dijadikan alat tawar-menawar. Namun sekarang, industri ini sudah diboikot oleh Eropa dan AS, sementara pasar domestik sendiri tidak memiliki kemampuan untuk menyerap konsumsinya. Hasil akhirnya adalah mereka harus bertahan mati-matian demi konsep politik dan demi menjalankan kebijakan pemerintah pusat.” katanya. 

“Saat ini, kondisi keuangan negara pada dasarnya sangat ketat, sehingga mustahil untuk memberikan subsidi lagi, yang akhirnya mempercepat kehancuran. Masa depan industri ini akan suram, sebagai akibat dari runtuhnya tiga faktor yang saling tumpang tindih: pengepungan global, over kapasitas, dan persaingan internal yang sangat brutal (neijuan,” ujarnya. 

Laporan dari Nikkei Chinese Network menyebutkan bahwa kapasitas produksi tahunan panel surya Tiongkok melonjak hingga lebih dari 1.000 GW, jauh melampaui permintaan instalasi aktual global yang hanya sekitar 600 GW per tahun. Ketidakseimbangan serius antara penawaran dan permintaan ini memicu perang harga yang sengit, menyebabkan margin laba kotor beberapa produk jatuh ke angka negatif, sehingga terjebak dalam dilema “semakin banyak menjual, semakin besar kerugiannya.”

Sun Guoxiang, seorang profesor di Universitas Nanhua Taiwan, menyatakan bahwa ekspansi berlebihan yang dipicu oleh kebijakan tersebut akhirnya harus dibayar mahal oleh pasar berupa anjloknya harga dan kerugian perusahaan. Inilah hasil yang terjadi saat ini.

“Penyebab langsung dari membengkaknya kerugian panel surya Tiongkok adalah kelebihan pasokan yang parah dan perang harga yang kejam. Demi mempertahankan tingkat operasional pabrik dan pangsa pasar, mereka terus menurunkan harga, sehingga menciptakan situasi di mana semakin banyak berproduksi, semakin rugi,” katanya.  

“Di saat yang sama, penambahan instalasi baru di domestik Tiongkok mengalami penurunan suhu, masalah jaringan listrik, serta kurangnya kapasitas penyerapan daya, sementara pasar luar negeri juga dihadapkan pada tuntutan anti-dumping, tarif, dan lokalisasi. Tentu saja, ini sebenarnya bukan sekadar siklus pasar biasa, melainkan overkapasitas yang dibentuk oleh kebijakan,” ujarnya. 

Ulasan menunjukkan bahwa keunggulan harga murah dari panel surya Tiongkok telah mencapai titik kritis seiring dengan pengetatan anggaran keuangan pemerintah daerah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya rasa arah masa depan industri panel surya yang dipimpin oleh kebijakan untuk membersihkan kapasitas produksi ini akan menyebabkan perusahaan-perusahaan lini kedua dan ketiga menghentikan produksi, bangkrut, atau diakuisisi,” ujar Sun Guoxiang. 

“Sementara itu, perusahaan-perusahaan terkemuka akan mempertahankan operasinya melalui perpanjangan utang, pertukaran utang menjadi saham (debt-to-equity swap), serta koordinasi pemerintah. Hal ini kecil kemungkinannya memicu krisis keuangan secara mandiri, namun akan meningkatkan kredit macet bank, kerugian finansial daerah, pengangguran, serta deflasi industri, sekaligus memicu lebih banyak tindakan anti-subsidi dan tarif dari luar negeri,” katanya. 

Sun Guoxiang berpendapat bahwa risiko yang sebenarnya adalah penundaan kerugian dalam jangka panjang, di mana utang tersebut secara bertahap dibebankan kepada masyarakat (debt socialization). Pada akhirnya, hal ini akan menciptakan situasi di mana meskipun volume produksinya adalah nomor satu di dunia, seluruh industri tersebut tidak akan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

Editor: Huang Yimei / Reporter: Yi Ru 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Deltras Sidoarjo Perkuat Kedalaman Tim Demi Hadapi Jadwal Padat Dua Kompetisi
• 1 jam lalu
0
thumb
John Herdman Masih Cari Kiper Ketiga, Tak Mau Ambil Kiper Utama Klub untuk Timnas Indonesia
• 2 jam lalu
0
thumb
7 Rumah Terbakar di Tenggarong, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah
• 9 jam lalu
0
thumb
Mendag Budi Tegaskan IP-CEPA Buka Akses Ekspor Kendaraan hingga Pakaian
• 19 jam lalu
0
thumb
3 Anggota KKB Batalyon Yamue Tewas, Satgas Damai Cartenz Beber Daftar Kejahatan Kelompok Itu
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.