JAKARTA, DISWAY.ID - Industri kelapa sawit nasional dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing melalui penerapan ekonomi sirkular.
Langkah ini diyakini mampu menjawab tantangan ekonomi, lingkungan, hingga sosial sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dari sektor hilir.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hariyadi, menjelaskan bahwa optimalisasi biomassa sawit menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan ekonomi sirkular.
BACA JUGA:Menkop Usul Tambang dan Sawit Dikelola Koperasi Besar, Bukan Kopdes Merah Putih
Biomassa tersebut meliputi pelepah dan batang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang, serat sawit, hingga limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
Menurutnya, pemanfaatan biomassa sawit mampu meningkatkan nilai tambah hingga delapan sampai sembilan kali lipat dibandingkan jika limbah tersebut tidak dimanfaatkan.
Potensi tersebut semakin besar karena Indonesia saat ini memiliki luas perkebunan kelapa sawit mencapai 16,83 juta hektare.
Dari luas tersebut, produksi biomassa sawit diperkirakan mencapai 261,7 juta ton bahan kering setiap tahun, menjadikan Indonesia sebagai produsen biomassa sawit terbesar di dunia.
"Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat spektakuler. Saat ini luas perkebunan sawit mencapai 16,83 juta hektare. Karena itu pengelolaan sawit harus dilakukan secara berkelanjutan," ujar Prof. Hariyadi di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
BACA JUGA:Program B50 Perkuat Kemandirian Energi Nasional dan Dukung Ekonomi Sawit Berkelanjutan
Ia menambahkan, biomassa sawit memiliki beragam peluang pemanfaatan.
Selain dapat diolah menjadi kompos dan pupuk organik, biomassa juga berpotensi menjadi bahan bakar pembangkit listrik berbasis biomassa hingga bahan campuran semen dan material konstruksi.
Dengan ketersediaan biomassa yang mencapai ratusan juta ton per tahun, sektor sawit dinilai dapat menjadi salah satu penopang pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Pemanfaatannya tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang investasi dan usaha baru di sektor industri hilir.
Prof. Hariyadi memaparkan, nilai ekonomi yang dihasilkan dari pengolahan biomassa sawit mencakup tumbuhnya industri hilir di sekitar sentra perkebunan, berkembangnya industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan energi terbarukan yang dapat dipasarkan ke jaringan listrik maupun sektor industri, hingga pengurangan emisi metana yang berpotensi menghasilkan kredit karbon.
BACA JUGA:Dorong Ekonomi Daerah, PTPN IV Siapkan Skema Kemitraan Sawit dan Dukungan TJSL di Lampung
- 1
- 2
- »






Komentar (0)