Laba Maskapai Asia Pasifik Tembus USD12,1 Miliar, Ditopang Penumpang dan Kargo

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Maskapai penerbangan di kawasan Asia Pasifik membukukan laba bersih gabungan sebesar USD12,1 miliar sepanjang 2025.

Laba Maskapai Asia Pasifik Tembus USD12,1 Miliar, Ditopang Penumpang dan Kargo. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Maskapai penerbangan di kawasan Asia Pasifik membukukan laba bersih gabungan sebesar USD12,1 miliar sepanjang 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh permintaan yang tetap kuat di segmen penumpang dan kargo, serta penurunan harga bahan bakar yang membantu meredam tekanan biaya operasional.

Berdasarkan data awal yang dirilis Association of Asia Pacific Airlines (AAPA) dan dikutip pada Sabtu (18/7/2026), pendapatan operasional gabungan maskapai di kawasan ini mencapai USD223,7 miliar pada 2025, meningkat 4,3 persen dibandingkan USD214,5 miliar pada 2024.

Baca Juga:
Insentif Tiket Pesawat hingga Sparepart Dinilai Redam Beban Industri Penerbangan

Pendapatan dari bisnis penumpang naik 4,7 persen menjadi USD178,4 miliar, seiring pertumbuhan lalu lintas penumpang yang mampu mengimbangi penurunan yield penumpang sebesar 2,8 persen menjadi 7,8 sen dolar AS per Revenue Passenger Kilometre (RPK).

Sementara itu, pendapatan dari bisnis kargo meningkat 1,4 persen menjadi USD23,6 miliar. Kenaikan tersebut terjadi meski tarif angkutan barang melemah, tercermin dari penurunan yield kargo sebesar 2 persen menjadi 32,1 sen dolar AS per Freight Tonne Kilometre (FTK).

Baca Juga:
6 Maskapai Ajukan Rute Penerbangan ke Bandara Husein Sastranegara Bandung

Sepanjang 2025, permintaan perjalanan udara di kawasan Asia Pasifik, yang diukur melalui Revenue Passenger Kilometres (RPK), tumbuh 7,7 persen . Pertumbuhan didorong oleh tingginya permintaan penerbangan jarak jauh maupun rute intra-kawasan.

Di sisi lain, permintaan angkutan kargo udara yang diukur dengan Freight Tonne Kilometres (FTK) meningkat 3,5 persen . Pertumbuhan ini didukung aktivitas percepatan pengiriman barang menjelang kenaikan tarif perdagangan di sejumlah negara.

Dari sisi biaya, total beban operasional maskapai meningkat 4,3 persen menjadi USD209,4 miliar. Kenaikan terutama berasal dari biaya nonbahan bakar yang melonjak 7,8 persen menjadi USD151,1 miliar, dipicu gangguan rantai pasok dan inflasi yang meningkatkan biaya tenaga kerja, sewa pesawat, perawatan, hingga tarif bandara.

Sebaliknya, pengeluaran untuk bahan bakar turun 3,7 persen menjadi USD58,3 miliar, sejalan dengan penurunan 9,5 persen harga rata-rata avtur dunia menjadi USD88,8 per barel. Alhasil, porsi biaya bahan bakar terhadap total biaya operasional menyusut 2,3 poin persentase menjadi 27,8 persen pada 2025.

Direktur Jenderal AAPA, Wong Hong, mengatakan maskapai di Asia Pasifik memasuki 2025 dengan fondasi bisnis yang kuat. Permintaan penumpang dan kargo yang tetap solid berhasil menopang pertumbuhan laba meski tekanan biaya operasional masih berlangsung.

“Penurunan harga bahan bakar memang memberikan ruang bernapas, tetapi gangguan rantai pasok dan tekanan inflasi terus mendorong kenaikan biaya operasional nonbahan bakar. Meski demikian, maskapai di kawasan mampu mempertahankan margin operasi sebesar 6,4 persen berkat disiplin operasional dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar,” ujar Wong Hong.

Meski demikian, AAPA mengingatkan tantangan industri masih berlanjut. Konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan akan memicu volatilitas harga minyak dan nilai tukar, yang berpotensi meningkatkan biaya operasional maskapai.

Menurut Wong Hong, kenaikan tajam harga avtur dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan akan membuat pengeluaran bahan bakar, komponen biaya terbesar maskapai meningkat sepanjang tahun ini.

Kendati menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi, prospek industri penerbangan Asia Pasifik masih dinilai positif. AAPA memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan sebesar 4,4 persen pada tahun ini akan tetap menopang permintaan perjalanan udara dan angkutan kargo, seiring maskapai terus memperluas jaringan penerbangan sambil menjaga efisiensi biaya.

(Shifa Nurhaliza Putri)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Revitalisasi SMA Sukma Gunungsitoli Ditargetkan Rampung Desember 2026
• 10 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya Kerahkan 4.839 Personel Amankan Aksi di Monas dan Bundaran HI Hari Ini
• 23 jam lalu
0
thumb
IHSG Ditutup Melesat 1,1% Saat Bursa Asia Berguguran
• 18 jam lalu
0
thumb
Pesan Kapolda Untuk Pengamanan Demo Mahasiswa: Humanis-Satu Komando
• 23 jam lalu
0
thumb
Eskalasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Siapkan Skenario Evakuasi PMI
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.