Emas Kena "Bogem" Dolar dan Perang, Ada Peluang Melesat Lagi?

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global terpantau cerah pada perdagangan akhir pekan ini, tetapi berada di jalur untuk kerugian mingguan terbesar dalam enam tahun terakhir, karena meningkatnya ketegangan AS-Iran mendorong harga energi lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (17/7/2026), ditutup di posisi US$ 4.016,69 per troy ons. Harganya melonjak 1,18%. Namun dalam sepekan terakhir, emas masih ambles 2,51% secara point-to-point.

Dolar AS memang dalam kondisi terkapar, tetapi masih cukup kuat, membuat emas batangan lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Indeks dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada perdagangan kemarin turun tipis 0,01% ke posisi 100,755. Dalam sepekan pun hanya terkoreksi 0,18%. Kuatnya dolar AS terjadi karena masih berada di angka 100.

"Pendorong utama aksi jual emas adalah dolar AS yang lebih kuat dan kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi, yang telah mengirim suku bunga global lebih tinggi," kata Chris Gaffney, presiden pasar dunia di EverBank, dikutip dari Reuters, Sabtu (18/7/2026).

AS meningkatkan kampanye pemboman barunya di Iran, menghantam jembatan dan bandara. Teheran menanggapi dengan serangan terhadap pangkalan AS di seluruh Timur Tengah.

Emas batangan telah turun sekitar 25% sejak perang yang didukung AS dengan Iran dimulai pada akhir Februari 2026, tertekan oleh ekspektasi bahwa inflasi yang didorong oleh perang dapat membuat suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Sementara emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membebani logam yang tidak menghasilkan imbal hasil hasil.

"Data terbaru telah menurunkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya, tetapi suku bunga global terus naik dan kenaikan harga minyak baru-baru ini dapat mendorong Federal Reserve untuk mengambil sikap yang lebih hawkish pada kebijakan suku bunga AS," ujar Gaffney.

Pedagang melihat sekitar 58% peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada September 2026, berdasarkan perangkat CME FedWatch.

Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyarankan dia akan terbuka untuk menaikkan suku bunga jika tidak ada peningkatan inflasi jangka pendek.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/luc) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Selangkah Lagi Spanyol Torehkan Rekor Gila di Piala Dunia 2026
• 16 jam lalu
0
thumb
Update Harga HP Samsung, Xiaomi, dan vivo Terbaru 2026, Banyak Model Favorit Turun Harga!
• 11 jam lalu
0
thumb
Prabowo Tegaskan Tak ada Toleransi bagi Koruptor, Siap Tindak Tanpa Pandang Bulu
• 17 jam lalu
0
thumb
7 Rumah Terbakar di Tenggarong, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah
• 3 jam lalu
0
thumb
Danantara Minta Waskita (WSKT) Jadi Emiten Jalan Tol Susul Jasa Marga
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.