Mikroplastik dalam Kehidupan Sehari-hari: Besar Risikonya bagi Kesehatan?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Botol minum, wadah makanan, kantong belanja, pakaian sintetis, dan berbagai peralatan rumah tangga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Plastik dipilih karena ringan, murah, tahan lama, dan mudah digunakan.

Namun, plastik yang digunakan, dibuang, atau mengalami gesekan dapat terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil. Partikel tersebut dikenal sebagai mikroplastik.

Mikroplastik umumnya didefinisikan sebagai potongan plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ukurannya dapat lebih kecil daripada butiran beras dan sebagian bahkan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Keberadaan mikroplastik kini ditemukan di lingkungan perairan, tanah, udara, makanan, dan air minum. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari dapat membahayakan kesehatan?

Dari Mana Mikroplastik Berasal?

Sebagian mikroplastik memang dibuat dalam ukuran kecil sejak awal. Namun, banyak partikel terbentuk ketika benda plastik yang lebih besar mengalami pelapukan, panas, paparan sinar matahari, tekanan, atau gesekan.

Botol, kantong, kemasan makanan, ban kendaraan, cat, dan perlengkapan rumah tangga dapat menjadi sumber partikel plastik. Serat dari pakaian berbahan sintetis juga dapat terlepas ketika pakaian digunakan atau dicuci.

Artinya, mikroplastik tidak hanya berasal dari sampah plastik yang terlihat di sungai atau laut. Partikel tersebut juga dapat terbentuk dari benda-benda yang dekat dengan aktivitas manusia.

UNEP menjelaskan bahwa mikroplastik telah tersebar luas di lingkungan dan dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, serta udara yang dihirup.

Apakah Mikroplastik Ada dalam Makanan?

Sejumlah penelitian telah menemukan mikroplastik dalam air minum, makanan laut, garam, madu, dan berbagai bahan pangan lainnya. Namun, jumlah yang ditemukan dapat berbeda-beda tergantung metode pengambilan sampel dan pemeriksaannya.

Kontaminasi dapat terjadi sejak bahan pangan berada di lingkungan, selama proses produksi, saat dikemas, atau ketika disiapkan di rumah.

Makanan yang berasal dari laut dapat terpapar karena partikel plastik telah mencemari ekosistem perairan. Sementara itu, makanan lain dapat bersentuhan dengan plastik selama pengolahan dan penyimpanan.

Meski demikian, ditemukannya mikroplastik dalam suatu makanan tidak otomatis berarti makanan tersebut langsung berbahaya. Risiko kesehatan ditentukan oleh ukuran partikel, jumlah paparan, jenis plastik, bahan kimia yang menyertainya, dan lamanya seseorang terpapar.

Wadah Plastik dan Makanan Panas

Penggunaan wadah plastik untuk makanan panas menjadi salah satu kebiasaan yang sering diperhatikan. Panas, goresan, dan penggunaan berulang dapat mempercepat kerusakan permukaan beberapa jenis plastik.

Karena itu, wadah sebaiknya digunakan sesuai petunjuk produsennya. Tidak semua plastik dirancang untuk menampung makanan panas atau digunakan di dalam microwave.

Wadah sekali pakai juga tidak selalu cocok digunakan berulang kali. Kemasan yang sudah berubah bentuk, retak, tergores berat, atau memiliki bau tidak biasa sebaiknya tidak dipakai kembali untuk menyimpan makanan.

Memindahkan makanan panas ke wadah kaca, keramik, atau wadah lain yang memang dirancang untuk suhu tinggi dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi kontak yang tidak perlu dengan plastik.

Namun, tidak perlu membuang seluruh wadah plastik yang masih layak. Penggunaan yang tepat dan sesuai fungsi lebih realistis daripada merasa harus menghilangkan semua plastik sekaligus.

Air Minum dalam Botol Plastik

Air minum dalam kemasan sering menjadi perhatian karena mikroplastik telah ditemukan pada air botol maupun air keran dalam sejumlah penelitian. WHO menyatakan bahwa bukti mengenai risiko mikroplastik dalam air minum masih terbatas dan penelitian lebih lanjut tetap diperlukan.

Botol plastik sebaiknya tidak disimpan terlalu lama di tempat yang sangat panas, seperti di dalam kendaraan yang terparkir di bawah sinar matahari.

Botol sekali pakai juga sebaiknya digunakan sesuai peruntukannya. Penggunaan berulang dapat menyebabkan permukaan botol tergores dan sulit dibersihkan dengan baik.

Membawa botol minum yang dapat digunakan kembali dapat mengurangi sampah plastik. Pilih botol yang mudah dibersihkan dan dibuat untuk penggunaan berulang.

Namun, kebersihan air tetap menjadi prioritas utama. Air yang bebas mikroplastik tetapi tercemar mikroorganisme tetap dapat menimbulkan risiko kesehatan yang lebih langsung.

Mikroplastik Juga Bisa Terhirup

Paparan mikroplastik tidak hanya terjadi melalui makanan dan minuman. Partikel dapat berada di udara dan terhirup bersama debu.

Serat tekstil, debu rumah, furnitur, karpet, dan bahan plastik yang mengalami gesekan dapat berkontribusi terhadap keberadaan partikel di dalam ruangan.

Partikel yang sangat kecil dapat mencapai saluran pernapasan lebih dalam. Namun, seberapa banyak partikel yang bertahan di tubuh dan dampak jangka panjangnya pada manusia masih terus dipelajari.

Membersihkan rumah secara rutin dapat membantu mengurangi debu. Gunakan kain lembap atau alat penyedot debu agar partikel tidak kembali beterbangan.

Ventilasi juga perlu dijaga, terutama ketika kualitas udara luar sedang baik. Rumah yang terlalu berdebu dan jarang dibersihkan dapat meningkatkan paparan berbagai partikel, bukan hanya mikroplastik.

Apa yang Terjadi Setelah Masuk ke Tubuh?

Sebagian besar partikel yang tertelan kemungkinan akan melewati saluran pencernaan dan dikeluarkan dari tubuh. Namun, partikel yang lebih kecil menjadi perhatian karena berpotensi berinteraksi lebih dekat dengan jaringan tubuh.

Penelitian pada sel dan hewan menunjukkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik dapat memicu peradangan, stres oksidatif, serta gangguan pada proses seluler. Akan tetapi, hasil penelitian laboratorium tidak dapat langsung disamakan dengan risiko nyata pada manusia.

Beberapa penelitian juga telah menemukan partikel plastik pada jaringan tubuh manusia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa paparan memang terjadi, tetapi belum menjawab secara pasti apakah partikel itu menjadi penyebab langsung suatu penyakit.

Karena itu, penting membedakan antara keberadaan partikel, kemungkinan mekanisme biologis, dan bukti bahwa partikel tersebut menyebabkan penyakit tertentu.

Apakah Mikroplastik Menyebabkan Penyakit?

Pertanyaan ini belum dapat dijawab secara sederhana. Bukti ilmiah mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih berkembang.

Sejumlah kajian menilai bahwa mikroplastik diduga dapat memengaruhi kesehatan pencernaan, pernapasan, dan reproduksi. Namun, kualitas bukti pada manusia masih terbatas dan hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan untuk banyak kondisi.

WHO juga menekankan perlunya penelitian yang lebih baik mengenai tingkat paparan, ukuran partikel, komposisi kimia, dan dampaknya terhadap manusia.

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik atau mempercayai klaim bahwa mikroplastik pasti menyebabkan semua jenis penyakit.

Sikap yang lebih tepat adalah mengurangi paparan yang dapat dikendalikan sambil menunggu bukti ilmiah yang lebih kuat.

Jangan Mudah Percaya Produk “Detoks Mikroplastik”

Kekhawatiran terhadap mikroplastik dapat dimanfaatkan untuk memasarkan suplemen, minuman, atau produk yang mengaku mampu membersihkan plastik dari tubuh.

Hingga kini, tidak ada cara sederhana yang terbukti dapat melakukan “detoks mikroplastik” secara khusus dari tubuh manusia.

Produk dengan klaim berlebihan perlu disikapi secara kritis. Jangan mengonsumsi suplemen hanya karena menjanjikan tubuh bebas mikroplastik, terlebih apabila komposisi dan keamanannya tidak jelas.

Tubuh memiliki sistem alami untuk mengeluarkan berbagai zat melalui pencernaan, hati, ginjal, dan paru-paru. Menjaga pola makan seimbang, cukup minum, tidur, dan aktivitas fisik tetap lebih bermanfaat daripada mengikuti metode detoks yang belum terbukti.

Langkah Sederhana Mengurangi Paparan

Paparan mikroplastik sulit dihilangkan sepenuhnya karena partikel telah tersebar luas di lingkungan. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu mengurangi kontak yang tidak diperlukan.

Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik yang tidak dirancang untuk suhu tinggi. Gunakan wadah sesuai petunjuk dan ganti wadah yang sudah rusak atau tergores berat.

Kurangi penggunaan plastik sekali pakai apabila tersedia pilihan lain yang lebih tahan lama. Bawa botol minum, kotak makan, dan tas belanja yang dapat digunakan kembali.

Jangan membuang atau membakar sampah plastik sembarangan. Pembakaran plastik dapat menghasilkan pencemar udara lain yang juga berbahaya.

Cuci pakaian sintetis hanya ketika diperlukan dan gunakan mesin cuci dengan muatan yang sesuai. Pilihan tersebut dapat membantu mengurangi pelepasan serat sekaligus menghemat air dan energi.

Bersihkan debu rumah secara rutin dan simpan makanan dengan baik agar tidak terpapar partikel dari lingkungan.

Tetap Utamakan Risiko yang Sudah Jelas

Kekhawatiran terhadap mikroplastik tidak seharusnya membuat masyarakat mengabaikan prinsip kesehatan yang sudah terbukti.

Makanan tetap perlu dicuci, dimasak, dan disimpan dengan benar. Air minum harus berasal dari sumber yang aman. Pola makan bergizi seimbang juga tetap menjadi prioritas.

Menghindari ikan hanya karena takut mikroplastik, misalnya, belum tentu menjadi keputusan yang tepat. Ikan tetap merupakan sumber protein dan zat gizi penting.

Hal yang sama berlaku pada air minum dalam kemasan ketika tidak tersedia sumber air lain yang aman. Risiko dehidrasi atau mengonsumsi air tercemar mikroorganisme dapat lebih langsung daripada risiko mikroplastik yang masih diteliti.

Karena itu, keputusan sehari-hari perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya secara seimbang.

Mengurangi Plastik Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Jadi, seberapa besar risiko mikroplastik bagi kesehatan?

Mikroplastik memang telah ditemukan di lingkungan, makanan, udara, dan tubuh manusia. Penelitian laboratorium menunjukkan adanya potensi dampak biologis, tetapi bukti mengenai besarnya risiko dan penyakit yang secara langsung disebabkan pada manusia masih belum lengkap.

Kondisi tersebut bukan alasan untuk mengabaikan masalah, tetapi juga bukan alasan untuk panik.

Langkah paling masuk akal adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan wadah sesuai fungsinya, menghindari pemanasan plastik yang tidak tepat, menjaga kebersihan rumah, dan mengelola sampah dengan benar.

Mikroplastik merupakan masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh individu. Produsen, pemerintah, industri, dan masyarakat memiliki peran dalam mengurangi produksi, penggunaan, dan pelepasan plastik ke lingkungan.

Kebiasaan kecil mungkin tidak langsung menghilangkan mikroplastik dari kehidupan. Namun, penggunaan plastik yang lebih bijak dapat mengurangi paparan sekaligus mencegah semakin banyak sampah plastik masuk ke lingkungan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lionel Messi Akui Sangat Kenal Gaya Permainan Spanyol: Ini Final Piala Dunia yang Spesial
• 23 jam lalu
0
thumb
Airlangga: Gabung WAICO, Ekonomi Digital Indonesia Berpotensi Tembus US$366 Miliar pada 2030
• 59 menit lalu
0
thumb
Korsel Rampungkan Pengiriman 6 Jet Latih T-50i ke Indonesia
• 17 jam lalu
0
thumb
Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak dari Malang
• 18 jam lalu
0
thumb
Tiga Narapidana Terorisme di Lapas Semarang Ikrar Setia kepada NKRI
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.