Menilik Krisis IHSG 1998, 2008 hingga Covid-19, Berapa Lama Bursa RI Bisa Pulih?

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini sempat menyentuh level yang sama dengan satu dekade lalu, yakni 5.300-an. Level tersebut menjadi koreksi terdalam yang dialami Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam lima tahun terakhir.

Momen tersebut lantas mengingatkan investor akan sejumlah krisis yang pernah mengguncang pasar modal RI di masa silam. Pertanyaannya, seberapa cepat IHSG dapat kembali pulih?

Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG sempat anjlok ke level 5.342,14 pada 8 Juni 2026. Level tersebut setara dengan posisi indeks pada 2016. Pada September 2016, IHSG tercatat berada di level 5.364.

Namun, kondisi pasar pada 2016 sangat berbeda dengan situasi saat ini. Sepanjang 2016, IHSG justru mencatat tren kenaikan. Indeks naik dari 4.615,16 pada 28 Januari menjadi 5.296 pada 29 Desember 2016.

Sementara itu, data pada 2026 menunjukkan hal sebaliknya. IHSG justru terjun amat dalam dari level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di 9.134 yang diraih bursa pada 19 Januari 2026. Pada akhir Juni lalu, IHSG berada di level 5.643 atau terkoreksi sekitar 34,75% secara tahun berjalan atau year to date (ytd), yang menjadikan pasar modal RI memiliki kinerja terburuk se-Asia.

Penurunan indeks tersebut turut menggerus kapitalisasi pasar BEI. Meskipun sepanjang Juli ini IHSG mencatatkan tren kenaikan dengan parkir di level 6.108 pada akhir perdagangan Kamis (16/7) kemarin, nilai kapitalisasi pasarnya telah merosot menjadi sekitar Rp 10.647 triliun dari Rp 14.816 triliun pada Januari 2026. Dengan kata lain, ada lebih dari 4.000 triliun market cap yang menguap di bursa Indonesia sepanjang tahun berjalan ini.

Berkaca dari Krisis 1998, 2008, hingga Pandemi Covid-19

Apabila menengok kembali hingga puluhan tahun ke belakang, krisis yang dialami pasar modal saat ini bukanlah yang pertama. IHSG sempat babak belur beberapa kali dihantam "badai", mulai dari Krisis Moneter 1998, Krisis Keuangan Global 2008, hingga Pandemi Covid-19.

Krisis 1998 menjadi salah satu periode terkelam dalam sejarah pasar modal Indonesia. IHSG merosot ke level 256,8 pada 21 September 1998 dari posisi tertingginya di 740,8 pada 8 Juli 1997. Penurunan tersebut mencapai 65,3% dan terjadi di tengah krisis multidimensi yang salah satunya ditandai dengan kejatuhan nilai tukar rupiah hingga menembus sekitar Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Krisis itu melumpuhkan perekonomian nasional, menekan sektor keuangan dan korporasi serta mendorong intervensi Dana Moneter Internasional (IMF).

Jika melihat pergerakannya, IHSG membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk kembali menyentuh level tertinggi sebelum krisis. Indeks baru kembali mencapai level 752,93 pada 29 Januari 2004.

Namun, merujuk keterangan dari Ajaib Sekuritas, jika menggunakan titik terendah berdasarkan data bulanan, pemulihan IHSG kala itu sesungguhnya berlangsung lebih cepat. IHSG mencatat penutupan bulanan terendah pada September 1998 di level 276,14, turun 50,5% dibandingkan level 546,68 pada September 1997.

Setahun kemudian, pada September 1999, IHSG telah kembali ke level 547,93 atau sekitar 101% dari posisi pada periode yang sama sebelum krisis. Artinya, IHSG pada masa itu hanya butuh waktu sekitar satu tahun untuk pulih. 

Pola serupa terjadi saat Krisis Keuangan Global 2008 yang dipicu krisis subprime mortgage di AS. IHSG mulai mengalami tekanan sejak pertengahan 2008. Indeks turun dari level 2.444 pada 29 Mei 2008 menjadi 1.256 pada 30 Oktober 2008.

IHSG kemudian mencatat level penutupan bulanan terendah di 1.241,54 pada November 2008. Sebagai pembanding, pada November 2007 indeks masih berada di level 2.688,33.

Setelah itu, pemulihan berlangsung relatif cepat. Pada Juni 2009, IHSG kembali menembus level 2.000 dan berada di 2.026. Artinya, indeks membutuhkan waktu kurang dari setahun untuk kembali ke level tersebut.

Pada akhir 2009, IHSG ditutup di level 2.534,35 atau melonjak 87% dibandingkan posisi akhir 2008.

Krisis terdekat adalah krisis Covid-19. Saat itu, IHSG turun dari level 6.299 pada 29 Desember 2019 menjadi 4.538 pada 30 Maret 2020. Seperti pemulihan sebelumnya, IHSG tercatat naik ke "kepala 6" alias level 6.000-an. Pada 25 Februari 2021 indeks bertengger di posisi 6.241.

Rentetan sejarah itu menjadi gambaran nyata yang membuat pelaku pasar tetap optimistis terhadap bangkitnya IHSG saat ini, seusai anjlok puluhan persen sejak awal tahun. Kendati demikian, sejumlah analis menyatakan, IHSG masih belum bisa menyentuh level 9.000 hingga akhir tahun ini.

Infografis Kejatuhan IHSG pada Masa Krisis (penyajian data diolah menggunakan AI/ChatGPT).
Kapan IHSG Akan Sentuh Level 9.000 Lagi?

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan ditutup di kisaran 7.250-7.700 pada akhir 2026. Dengan demikian, indeks diperkirakan belum mampu kembali menembus level 9.000 hingga akhir tahun.

Dalam laporan Market Outlook semester II 2026, Kiwoom menyatakan proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan IHSG untuk keluar atau breakout dari tren turun (downtrend channel) pada akhir bulan ini.

"Proyeksi ini didukung oleh pola musiman yang secara historis menunjukkan Juli sebagai bulan yang positif bagi IHSG, serta belum adanya komentar negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap Indonesia," tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, dikutip Rabu (1/7).

Hal serupa juga disampaikan Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya. Dia bahkan menurunkan proyeksi IHSG hingga akhir tahun dari sebelumnya 10.000 menjadi 8.000. Menurut dia, IHSG memiliki level dukungan atau support di 5.969 dan berpeluang kembali menembus level 6.000, dengan area resistance di 6.065.

Di tengah tekanan IHSG, nilai transaksi saham di BEI juga mengalami perlambatan sejak awal Juli 2026. Setelah rata-rata nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp 30 triliun sepanjang Juni, nilai transaksi pada Juli turun ke kisaran Rp 9 triliun hingga Rp 11 triliun per hari.

Bernadus menilai penurunan nilai transaksi tersebut salah satunya disebabkan oleh peralihan dana investor ke pasar perdana melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Menurut dia, enam IPO yang berlangsung dalam satu pekan menyerap likuiditas dari pasar reguler, terutama dari investor ritel.

Adapun keenam emiten yang IPO di BEI pada Juli ini yaitu PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). 

"Duitnya itu banyak kesedot di IPO. Di IPO JELI aja waktu itu oversubscribe-nya hampir 300 kali. Sekitar 270 kali dari porsi pooling. Terus yang di PRDL ini oversubscribed 700 kali dari porsi pooling," kata Bernadus setelah seremoni pencatatan saham perdana PRDL di BEI, Kamis (10/7).

Selain IPO, investor juga masih bersikap menunggu dan mencermati perkembangan atau wait and see di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta penantian keputusan lembaga pemeringkat global S&P terkait prospek peringkat utang Indonesia.

Bernadus menilai, jika S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia meski prospeknya berubah menjadi negatif, kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham.

Menurut dia, aktivitas perdagangan BEI berpeluang kembali meningkat setelah dana investor kembali dari pasar IPO dan ketidakpastian mulai mereda.

Investor asing juga masih cenderung menunggu perkembangan kondisi pasar. Sementara itu, investor domestik yang menyumbang sekitar 70%-75% nilai transaksi harian BEI saat ini lebih banyak mengalihkan dananya ke pasar IPO.

Dia memperkirakan, setelah gelaran IPO di BEI pada pekan lalu, indeks akan kembali bergairah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Konversi Utang, MKNT Gelar Private Placement 1,02 Triliun Saham
• 20 jam lalu
0
thumb
Mengapa Jude Bellingham Pukul Kepala Pemain Argentina Valentin Barco? Cek Kronolgi dan Pemicunya
• 13 jam lalu
0
thumb
Di Panen Raya Bersama TNI, Presiden Prabowo Ingatkan Tidak Toleransi Korupsi
• 6 jam lalu
0
thumb
Investigasi Ledakan di Madiun Harus Sentuh Kondisi Gudang hingga Usia Amunisi
• 13 jam lalu
0
thumb
Prabowo Ngaku Butuh Uang Banyak, Buat Apa?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.