SIDOARJO, KOMPAS — Kebakaran hutan yang melanda taman hutan raya atau Tahura Raden Soerjo di Jawa Timur belum berhasil dipadamkan. Lokasi kebakaran yang sulit dijangkau ditambah kondisi medan yang terjal menjadi tantangan bagi tim pemadam untuk menjinakkan api.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan hingga Jumat (17/7/2026), kebakaran belum berhasil dipadamkan. Kepulan asap putih masih terlihat pada dua titik di atas Bukit Cendono. Namun sudah ada satu titik api yang berhasil dicapai oleh tim pemadam yang melakukan upaya pemadaman secara manual.
“Hingga hari ini tim masih berada di lokasi kebakaran hutan. Tetapi jalur tempuh diperluas selain dari pos pendakian Bukit Cendono di Mojokerto juga melalui jalur pendakian Sumber Brantas di Batu,” kata Gatot.
Tahura Raden Soerjo merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang berada dalam gugusan kompleks pegunungan Arjuno-Welirang-Anjasmoro. Wilayah administratif tahura ini berada di Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kota Batu dan Kabupaten Pasuruan.
Luas kawasan hutan raya mencapai 27.868 hektar (ha) dengan rincian kawasan hutan lindung seluas 22.908 ha dan kawasan cagar ala Arjuno-Lalijiwo seluas 4960 ha. Pengelolaan Tahura Raden Soerjo saat ini berada di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur kebakaran hutan dan lahan di kawasan Tahura Raden Soerjo terjadi sejak Selasa (14/7/2026) atau telah berlangsung selama empat hari. Kobaran api awalnya ditemukan di dekat Bukit Cendono, Mojokerto kemudian terus meluas dan memicu munculnya titik-titik api baru.
Pada Kamis (16/7/2026), jumlah titik api bertambah dari empat titik menjadi lima titik. Empat titik berada di dekat jurang, sedangkan satu titik panas lainnya berada di dekat Sumber Brantas, Kota Batu.
Gatot menambahkan tim pemadam kebakaran yang merupakan personel gabungan dari , BPBD Jatim, Perhutani Jatim, Dinas Kehutanan Jatim serta unsur relawan lainnya belum bisa menjangkau titik api kedua.
Hal itu disebabkan oleh kondisi hutan yang berada di kawasan pegunungan dengan jurang yang sangat dalam dan medan pendakian yang terjal. Tantangan lain ialah angin kencang. Lokasi titik api juga jauh dari pos pemantauan. Tim pemadam sempat mendaki melalui arah Mojokerto namun mereka tetap kesulitan menjangkau lokasi titik api.
Gatot menambahkan tim pemadam akhirnya berhasil mendaki melalui jalur Sumber Brantas di Batu yang jarak tempuhnya lebih jauh karena memutar. Pihaknya terus berupaya mengantisipasi titik api tidak masuk ke wilayah Batu serta tidak sampai mengganggu aktivitas warga di sektor pertanian dan perkebunan.
“Untuk upaya pemadaman menggunakan water bombing belum dilakukan karena posisi titik api masih berada di vegetasi ilalang dan jauh dari kawasan pertanian, perkebunan, serta permukiman warga,” ujar Gatot.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jatim Jumadi mengatakan pihaknya belum bisa memastikan luas area yang terbakar juga faktor-faktor penyebab kebakaran. Tim dari dinas kehutanan saat ini fokus pada upaya pemadaman api.
Selama berlangsung kebakaran hutan layanan wisata minat khusus berupa pendakian ke Bukit Cendoro ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman. Penutupan layanan pendakian dilakukan untuk melindungi keselamatan pengunjung karena titik api berada di balik Bukit Cendono.
Selain di Tahura Raden Soerjo, kebakaran juga sempat melanda Hutan Orak-arik di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan. Api baru berhasil dipadamkan beberapa jam kemudian. Luas lahan berupa ilalang yang terbakar kurang dari 3 hektar.
Dalam sepekan terakhir, setidaknya terjadi beberapa kali kebakaran lahan berskala kecil, hanya berupa spot-spot dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan sebelum merembet ke lokasi lain.
Tidak hanya melanda di Jawa Timur, kebakaran hutan juga menyebar di Jawa Tengah. Tak hanya menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah, karhutla juga disebut merenggut satu korban jiwa.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menyebut, ada 211 kasus kebakaran sepanjang 1 Januari sampai 5 Juli 2026. Dari jumlah tersebut, 187 kasus merupakan kebakaran gedung dan permukiman serta 24 kasus merupakan karhutla.
Di wilayah Sumatera, kebakaran hutan dan lahan juga sempat terjadi di beberapa daerah, seperti Aceh dan Riau.






Komentar (0)