JAKARTA - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengatakan pemerintah telah menyiapkan skenario evakuasi pekerja migran Indonesia (PMI), apabila situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memburuk. Saat ini, pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara terkait.
"Kita lagi sedang koordinasi ya. Koordinasi dengan pihak KBRI, kemudian dengan Kemenlu. Karena ini harus melibatkan otoritas negara lain. Jadi semuanya harus sesuai prosedural, sesuai dengan hubungan diplomatik kita dengan negara Iran," kata Mukhtarudin saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).
Mukhtarudin mengatakan, langkah antisipasi serupa juga dilakukan terhadap PMI yang berada di Uni Emirat Arab (UEA), termasuk Abu Dhabi. Hal itu menyusul adanya peringatan dari otoritas setempat, terkait kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Baca Juga:Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1,5 Km"Dari KBRI agar melakukan kewaspadaan dan menjaga segala kemungkinan. Jadi prinsipnya pemerintah sudah koordinasi dengan menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika terjadi sesuatu yang luar biasa, yang harus melakukan evakuasi besar ataupun penanganan besar terhadap WNI yang ada di sana, termasuk pekerja migran yang berada di kawasan Timur Tengah tersebut," pungkasnya.
Sebagai informasi, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Iran. Salah satu serangan militer AS dilaporkan menghantam lokasi di dekat rumah sakit khusus anak penderita kanker di Kota Ahvaz pada Rabu (15/7/2026) malam. Akibat serangan tersebut, sebanyak 211 pasien anak yang tengah menjalani perawatan kanker terpaksa dievakuasi secara darurat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan serangan AS menghantam area di sekitar Rumah Sakit Shahid Baqaei, yang merupakan rumah sakit rujukan bagi anak-anak penderita kanker.
Baca Juga:Bareskrim Polri Olah TKP Kasus Kematian Pejabat Pemkab Purwakarta, 5 Saksi Diperiksa"(Serangan AS) menyebabkan penderitaan dan kecemasan parah di antara anak-anak yang dirawat di rumah sakit serta memaksa evakuasi darurat 211 pasien yang menjalani kemoterapi," kata Baghaei, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat (17/7/2026).
Di sisi lain, militer Iran menyatakan telah menyiapkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat apabila serangan ke wilayahnya terus berlanjut dan dinilai melanggar MoU Islamabad, yang disebut mengakhiri konflik kedua negara sejak 28 Februari lalu.
Juru Bicara Militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, mengatakan Presiden AS Donald Trump akan menghadapi tindakan yang tidak terduga apabila Washington tetap melanjutkan kebijakan yang dianggap bermusuhan terhadap Iran.
"Para pejabat AS akan menghadapi tantangan baru dan tak terduga dari militer Republik Islam Iran, baik dalam hal persenjataan maupun geografi perang, yang tidak pernah mereka bayangkan. Amerika Serikat harus berharap kejutan dari militer kami," ujar Akraminia kepada kantor berita mahasiswa Iran, ISNA, seperti dikutip Jumat (17/7/2026).
#nasional





Komentar (0)